
Satu bulan sudah Hanna pergi dari Reyhan, namun hati kecilnya tentu saja tidak dapat berbohong. Hampir setiap malam dia selalu memandangi wajah rupawan sang suami, walaupun usia mereka terpaut lumayan jauh, namun, kharisma seorang Reyhan terpancar begitu nyata.
"Be, sebenarnya aku tidak sanggup hidup jauh dari kamu, tapi apa yang bisa aku lakukan. Untuk kembali bersamamu rasanya sangat tidak mungkin," Hanna bermonolog.
Di lihatnya layar ponsel itu, di sana bertengger gambar mereka. Rasa rindu semakin tak bisa lagi di cegah saat teringat masa-masa indah kebersamaannya.
Di carinya kontak yang sempat dia blok beberapa saat lalu, kemudian dengan bismillah dia membuka kembali blok itu. Tidak lama kemudian ponselnya berbunyi dengan nyaring.
"Be," ucapnya lirih.
Hanna masih ragu, antara mengangkat panggilan itu atau membiarkan nya begitu saja. Terselip rasa kasihan di hatinya, dengan sekali menarik napas panjang dia kemudian menggeser tombol hijau itu.
Sementara Reyhan yang tidak pernah berhenti mencoba menghubungi Hanna merasa bahagia sesaat setelah panggilan yang kesekian kalinya baru bisa tersambung.
"Sayang, angkat dong Sayang. Kamu ada dimana," cerocosnya saat menunggu panggilannya terjawab.
"Assalamu'alaikum," ucap Hanna pelan.
"Sayang, kamu baik-baik saja, kan. kenapa pergi begitu saja, sayang katakan kamu dimana aku akan menjemputmu," cerocosnya.
"Sudah, ngomongnya. Mana salam ku nggak dijawab lagi, nyerocos aja sih," ucap Hanna.
"Maaf, Sayang. Waalaikumsalam, lupa saking senengnya bisa dengar suara kamu lagi. Kamu dimana, aku jemput ya sekarang!" Tawar Reyhan.
"Be, biarkan aku di sini untuk sementara waktu, aku ingin menenangkan diri," ucap Hanna.
"Nggak! Pokoknya kamu bilang ada dimana sekarang, aku akan menjemputmu," ujar Reyhan memaksa.
"Tapi kamu harus janji, hanya mengunjungi ku saja," pinta Hanna.
"Iya, Sayang. Iya, aku janji," ucap Reyhan dengan semangat.
__ADS_1
Setelah beberapa saat mereka berbincang akhirnya Hanna mengirimkan dimana lokasinya saat ini berada, di sebuah kota kecil ujung Jawa Timur. Setelah mendapatkan lokasi Hanna berada dia segera berbenah dan segera berangkat. Tanpa melihat lagi dimana lokasi Hanna berada.
Sesaat setelah masuk kedalam mobilnya dia begitu kaget saat melihat peta yang berada di dalam ponselnya itu.
"Ini harus pakai pesawat, kalau naik mobil kapan sampainya." Reyhan menepuk jidatnya. Dengan segera dia kembali kedalam rumah sang mama.
"Rey, kok buru-buru, mau kemana sih?" Tanya Rita.
"Menjemput istri dan mantu kesayangan Mama." Reyhan berucap sembari melangkah kedalam kmar tidurnya.
Sejenak Rita masih belum paham apa yang dikatakan oleh Reyhan, namun setelah dia memahami ucapan Reyhan dengan segera di menyusul Reyhan kedalam kamarnya.
"Maksudnya kamu, mau jemput si Hanna, Rey!" Rita penuh semangat.
"Iya, Ma. Do'akan dia mau pulang bareng Rey," ujar Reyhan.
Pesawat yang ditumpangi Reyhan telah tiba di Juanda. Dengan segera dia mencari orang suruhan Hanna yang sudah menunggu sejak sejam yang lalu.
"Ah, iya. Dengan ...," Reyhan menjeda ucapannya.
"Ari, Pak. Supir yang di utus nyusul bapak," jawab Ari dengan sopan.
Keduanya masuk kedalam mobil, Rey mengamati sepanjang jalan yang dilalui. Hingga beberapa saat kemudian dia tertidur. Sementara Ari yang melihatnya hanya tersenyum.
"Mbak Hanna beruntung, ya. Di kelilingi orang-orang baik. Mas Leo, baik, kaya juga. Lha ini ada lagi, kayaknya lebih kaya dari mas Leo," Ari bermonolog.
Ari memberhentikan mobilnya di sebuah SPBU, sontak membuat Reyhan terbangun sesaat setelah mobil berhenti.
"Sudah sampai, Mas? Tanya Reyhan sambil sesekali celingukan melihat kearah luar.
" Belum, masih dua jam lagi." Ari sambil melihat jam tangan yang bertengger di lengan kirinya itu.
__ADS_1
"Jauh, yah."
"Ya jauh, Mas, wong lima jam perjalanan, eh saya ke kamar mandi dulu, ya Mas." Pamit Ari sembari keluar dari mobilnya.
Hampir dua puluh menit mereka berhenti, sambil menikmati secangkir kopi dan mengamati kendaraan yang berlalu lalang mengisi bahan bakar. Keduanya berdiri dan kembali melanjutkan perjalanan yang masih cukup panjang itu.
Disepanjang perjalanan Reyhan di suguhi pemandangan alam yang luar biasa, mulai dari pembangkit listrik hingga pemandangan laut sepanjang pantura.

PLTU PAITON, PROBOLINGGO-JATIM
"Wau, luar biasa. Pantas saja Hanna betah tingal disini," Reyhan bermonolog.
Dua jam sudah mereka dalam perjalanan, akhirnya mobil hitam itu pun sampai di tempat tujuan.
" Kita turun, Mas. Sudah sampai," Ajak Ari.
Reyhan mengikuti Ari dari belakang, di bawahnya koper kecil milik nya, Ari mengantarkan hingga sampai di depan pintu kamar hotel milik keluarga Leo itu.
"Silahkan, Mas. Ini kamarnya." Ari menunjukkan sebuah kamar VVIP yang akan ditempati oleh Reyhan.
"Hanna nya dimana, Mas?" Tanya Reyhan.
"Mbak Hanna masih bekerja, Mas. Sebentar lagi pasti datang. Saya permisi dulu yah, sudah gerah, mau pulang, mandi dulu." Ari berpamitan kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
🍂
Sambil nunggu Hanna datang yuk mampir ke karya @ Zafa, di tunggu jejaknya ya gaesss, Like, Komen, gift, vote, rate, juga favorit.
__ADS_1