Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 88


__ADS_3

"Lepaskan! Lepaskan! brengsek." Ria terus berontak. Usahanya sia-sia dia kalah karena Alvin terus saja memojokkannya.


"Bunuh saja aku, itu lebih baik. Dari pada aku harus hidup hanya bisa menyusahkan orang lain. Aku akan sangat berterimakasih jika kamu mau melakukan itu," ucap Ria dengan terbata.


"Cepat katakan, siapa ayah mereka sebenarnya." Alvin semakin mengencangkan cekikannya.


"Re-Reyhan ayah mereka, puas!" Ria dengan terbata.


"Kamu pasti bohong, kan?" tanya Alvin lagi.


" Untuk apa aku bohong, memang kenyataannya Reyhan lah yang suami aku, bukan kamu!"


Alvin terus saja memaksa Ria untuk mengaku. Dia tidak puas dengan jawaban Ria yang mengatakan bahwa Aqila dan Hafidz anak kandung Reyhan.


"Cepat katakan," sekali lagi Alvin mengencangkan cekikannya.


Tiba-tiba saja tangan Alvin melonggar, tubuhnya jatuh. Bibi, asisten rumah tangga itu dengan hati-hati membuka pintu kamar sang nyonya yang sedikit terbuka. Dia segera berlari mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk memukul. Dengan segera dia masuk dan memukul tengkuk Alvin dengan balok kayu yang dibawahnya.


"Mati kau!" seru bibi saat memukul tengkuk Alvin hingga beberapa kali. Alvin tersungkur, bibi dengan segera membantu Ria untuk pergi dari kamar itu.


"Nyonya, Anda baik-baik saja, kan?" tanya bibi.


"Iya, Bi. Ayo buruan kita harus segera keluar Bi." Ria berusaha menjalankan kursi rodanya.


Beberapa saat kemudian datanglah petugas polisi yang segera meringkus Alvin. Ria dan sang bibi begitu lega melihat Alvin digelandang petugas. Pasalnya orang yang selalu membuat masalah dengan Ria sudah diamankan.

__ADS_1


*


Sementara di tempat lain, Hanna sedang di sibukkan dengan mual yang amat sangat menyiksa. Seorang teman mendatangi Hanna di mes tempat tinggalnya.


"Mbak, mbak baik-baik saja kan? Kita ke periksa ke Dokter ya?" tanya seorang teman mengajak Hanna pergi ke Dokter.


"Aku tidak apa-apa, Mbak, hanya butuh istirahat sebentar." Hanna kembali membungkam mulutnya yang mual.


"Ya sudah, aku pamit ya, Mbak." Sembari berdiri dari duduknya.


Hanna tidak menjawab, dia segera berjalan menuju kamar mandi untuk memuntahkan kembali seluruh isi perutnya. Badanya terasa lemas. Sudah beberapa hari ini kondisinya memang kurang stabil.


"Nak, baik-baik ya di dalam, jangan bikin mama susah. Masih banyak tugas yang harus mama selesaikan sebelum kita kembali ke Jakarta." Hanna sambil mengusap perutnya yang masih rata.


"Assalamu'alaikum," sapa Hanna masih dengan mata terpejam.


"Waalaikumsalam, Sayang. Apa kabar hari ini, kamu baik-baik saja kan," cecar Reyhan.


"Aku baik-baik saja, Be," jawab Hanna sembari menahan mual yang kembali datang dengan teramat sangat. Hanna turun dari ranjang, dia segera berlari menuju kamar mandi. Memuntahkan kembali isi perutnya.


"Sayang, Sayang," Reyhan memanggil sang istri. Namun Hanna tidak menjawabnya. Membuat Reyhan menjadi khawatir akan keadaan Hanna.


"Na, Na, Hanna!" seru Reyhan. Namun masih tidak ada jawaban. Reyhan tidak mematikan ponselnya, dia berlari menuruni tangga mencari keberadaan sang mama.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara Hanna sedang muntah membuat Reyhan bertambah khawatir.

__ADS_1


"Na, Nana," Reyhan berteriak.


Tidak lama kemudian Hanna kembali mengambil ponsel yang tadi di tinggalkan di atas tempat tidur. Dilihatnya panggilan dari sang suami masih berlangsung, dia segera memanggilnya.


"Be, Be, kamu masih di sana?" tanya Hanna.


"Iya, Sayang. Kamu baik-baik saja kan, atau kamu lagi sakit. Kamu pergi ke Dokter ya. Atau tunggu aku. Aku akan ke sana sekarang juga," cerocos Reyhan.


"Be, nggak usah lebay. Aku hanya mual, nggak ada yang perlu di khawatirkan," sahut Hanna.


"Gimana nggak khawatir, kamu muntah-muntah gitu. Mana di sana sendiri lagi. Sudah, aku kesana sekarang," tegas Reyhan.


"Be, dengerin dulu. Aku baik-baik saja, kamu nggak perlu khawatir. Ada banyak teman di sini. Aku cuma butuh istirahat sebentar pasti semua membaik. Selesaikan dulu perkerjaan kamu, setelah selesai kamu bisa kesini," terang Hanna.


"Ya sudah, biar Dicky sama Aisyah aja yang pergi ke sana, aku telepon saja mereka," ujar Reyhan.


"Be, nggak usah, kasihan mereka. Nanti malah merepotkan," ujar Hanna.


"Sudah, nggak ada penolakan untuk kali ini. biar Dicky sama Aisyah kesana. Besok atau lusa aku akan menyusul. Ya sudah kamu baik-baik. Aku telepon Dicky dulu, biar mereka bisa segera berangkat," ucap Reyhan sebelum akhirnya mengakhiri panggilannya.


🍂


Hai gaesss jangan lupa, tinggalkan jejak ya. Like, Komen, Vote, Gift, Rate juga Favorit. Jaga kesehatan jangan lupa bahagia yang gaesss.


Terima kasih 😘

__ADS_1


__ADS_2