
Waktu begitu cepat berlalu, Hanna sangat bahagia bisa mendapatkan pekerjaan itu, begitu pula dengan Rey. Dia merasa menjadi seorang lelaki yang benar-benar beruntung. Bisa memiliki sekretaris pribadi yang cantik dengan penuh sopan santun. Hanna tak hanya pintar, namun dia juga cantik paras dan hatinya.
Siang ini Rey mengajak Hanna untuk meeting di sebuah restoran mewah. Walaupun sudah beberapa kali ikut meeting, namun rasa gugup Hanna tidak dapat disembunyikan. Apalagi hari ini, hari pertamanya pergi hanya berdua saja dengan Rey.
"Han, apa kamu sudah siap dengan presentasinya?" Tanya Rey.
"InsyaAllah siap, Pak!" Jawab Hanna.
"Han!
" Panggil Nana saja, Pak!" Kalau bapak tidak keberatan," pinta Hanna.
"Ok, Nana!" Rey memperjelas panggilannya.
"Iya, Pak! terima kasih.
" Boleh saya tanya sesuatu? tapi ini diluar pekerjaan," tanya Rey.
"Silahkan,Pak! Selama saya bisa menjawab pasti akan saya jawab." Hanna tersenyum sembari menoleh ke arah Reyhan.
Untuk beberapa saat keduanya terdiam, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Hanna yang sudah nunggu pertanyaan dari Rey, sedikit banyak mulai tegang. Sementara Rey masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Ehem ... " Hanna berdehem.
"Eh, iya, Maaf!" Ucap Rey gugup.
" Tadi, Bapak mau tanya apa!
"Sebenarnya, kamu itu ada hubungan apa sama keluarganya pak Alif," ucap Rey dengan hati-hati.
"Saya hanya numpang disana, Pak! Aisyah yang keponakan pak Alif. Nanti kalau saya sudah ada rezeki saya akan cari tempat tinggal yang lain," terang Hanna.
"Kalau kamu mau, saya bisa sediakan tempat tinggal buat kamu!" Tawar Reyhan.
"Terima kasih, Pak! Tidak usah, nanti malah merepotkan. Lagian kan saya juga baru bekerja dengan bapak. Takutnya, nanti karyawan yang lain memiliki asumsi yang negatif tentang saya,Pak!" Terang Hanna.
"Ok, bisa dimengerti," jawab Reyhan.
"Satu lagi, apa kamu sudah punya kekasih?" Tanya Reyhan.
"Maaf, Pak, saya masih belum kepikiran kearah sana. Karena saya ... " Hanna menjeda ucapnya.
__ADS_1
"Kenapa, Na!" Sahut Rey.
"Saya masih ingin membahagiakan mama." Nana sambil menunduk.
"Maaf, kalau membuatmu sedih." Rey sambil terus konsentrasi mengemudi.
Tak terasa keduanya telah sampai di tempat tujuan, disana sudah datang beberapa petinggi perusahaan beserta sekretaris mereka masing-masing.
" Selamat datang, Pak Rey!" sapa koleganya.
"Sekretaris baru pak? Kemana si Dicky, apa sudah tidak bekerja dengan anda lagi!" Tanya koleganya yang lain.
"Dicky, ada. Dia lagi di kantor saja, dan kenalkan ini sekretaris saya yang baru, Hanna!" Rey memperkenalkan Hana kepada teman-temannya.
"Pintar kamu, Rey. Pilih sekretaris yang cantiknya dunia akhirat," ucap salah seorang koleganya.
Rey hanya tersenyum menoleh ke arah Hanna, sementara yang mendapat senyuman tertunduk malu sambil mengembangkan bibirnya.
Meeting pun berlangsung hingga dua jam. Dan mereka semua memutuskan akan bekerjasama dengan perusahaan Rey. Hanna merasa senang karena presentasinya tidak sia-sia.
Peserta meeting pun telah meninggalkan restauran itu satu persatu, kini tinggal Rey dan Nana yang masih sibuk dengan lembaran-lembaran kerta didepannya. Nana segera membereskan dan menyimpan dokumen-dokumen itu kedalam map yang telah dia bawah sebelumnya.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga!" Ucap Hanna lirih.
"Pak!" Nana memanggil Rey yang sejak tadi memandanginya.
"Eh, Iy!" Jawab Rey kaget.
"Apa ada yang salah dengan penampilan saya?" Tanya Nana.
"Nggak kok, nggak! Kamu cantik banget." Rey sambil tersipu.
Nana terdiam, berkutat dengan pikirannya sendiri." Ini laki uda ada bini masih aja ganjen," ujar Nana dalam hati.
"Na, nanti malam ada acara?" Tanya Reyhan.
"Tidak ada, memang kenapa, Pak!" Jawab Nana.
"Dinner, mau!" Rey sambil melihat mimik wajah Nana.
"Berdua, atau sama yang lain juga." Nana sambil menoleh ke arah Reyhan.
__ADS_1
"Berdua, buat merayakan kesuksesan kita hari ini," jelas Reyhan.
"Ok, siap, Pak!" Nana sambil tersenyum.
***
Malam pun tiba, setelah selesai menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim, Rey bergegas mengambil pakaiannya yang akan dikenakan malam ini.
Tepat jam setelah delapan malam, Rey dengan sigab sudah berada di balik kemudi mobilnya. Dengan wajah penuh kebahagiaan dia segera mendatangi rumah pak Alif.
Sesampainya dirumah pak Alif, Nana sudah duduk manis menunggu kedatangan Rey di ruang tamu. Nana juga sudah berpamitan kepada Aisyah dan pak Alif.
Mobil Rey telah sampai di depan rumah pak Alif, dia segera turun menghampiri Nana, dengan segera pula Nana menyambut kedatangan Reyhan.
"Assalamu'alaikum." Rey sambil berjalan kearah Nana.
"Waalaikumsalam," jawab Nana.
"Sudah siapa, ayo silahkan. Biar tidak kemalaman," ujar Reyhan.
Nana pun menurut apa yang dikatakan oleh Rey, dia segera berjalan mengekori Rey.
"Silakan." Rey membuka pintu mobil dan menyuruh Hanna masuk. Sementara Rey duduk dengan tenang di belakang kemudi nya.
Sesaat suasana menjadi canggung, tidak ada sepatah kata pun dari keduanya. Mereka sedang asik dengan pikiran mereka masing-masing. Rey berusaha tenang menghadapi gejolak cinta di dalam hatinya.
Rey menepikan mobilnya ditempat yang lumayan sepi. Nana yang mulai bingung pun bertanya-tanya. Kenapa harus berhenti, padahal tempat tujuan mereka masih jauh.
Rey duduk menghadap ke arah Nana.
"Na ...," Rey menjedah ucapannya.
"I-iya Pak!" Jawab Nana dengan cepat.
"Sebelum saya minta maaf, mungkin ini buka waktu yang tepat buat saya mengatakan ini semua sama kamu. Tapi, semakin lama menunggu rasanya semakin tak karuan."
"Maksudnya apa ya, Pak." Nana bingung dengan ucapan Reyhan.
🐦
Yuhuuuu, tunggu up selanjutnya ya gaess. Nana mau ditembak sama pak Reyhan. Kira-kira Nana mau tidak ya, secara pak Reyhan masih beristri kan Ria.
__ADS_1
Terima kasih, masih setia dengan Aku Diantara Mereka. Jangan lupa Fav, like,komen, vote juga ratenya ya gaes. Tetap Syfa selalu ingatkan, janga kesehatan jangan lupa bahagia 😘.