Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 59


__ADS_3

"Selamat siang Pak Reyhan!" Sapa pengacara itu.


"Siang, Pak Hufron." Reyhan sambil menjabat tangan sang pengacara


Setelah sekian menit berlalu akhirnya pengacara itu pun membacakan isi surat wasiat yang di tulis dengan tangan oleh Bram sendiri semasa hidupnya.


"Sebelumnya perkenalkan nama saya, Dr. Hufron S.H., MH. Saya disini mendapatkan amanah dari Almarhum bapak Bram, untuk menyampaikan tentang surat wasiat yang beliau buat sebelum dia meninggal beberapa waktu yang lalu."


" Terima kasih, buat semua kepala devisi yang sudah hadir, karena ini menyangkut perusahaan jadi mohon maaf, saya harus mengumpulkan saudara-saudara semua." Terangnya lagi sembari membuka sebuah map yang masih tersegel rapi yang ditaruh di atas meja di depannya.


"Saya akan membaca isi surat wasiat ini, dan meminta kepada seluruh saudara yang hadir disini sebagai saksi bahwa surat wasiat ini asli, dan masih tersegel. Tidak hanya itu saja, saudara semua juga menjadi saksi siapa pemilik atau pemegang perusahaan ini selanjutnya."


Semua hening, mendengarkan secara seksama apa yang di bacakan oleh sang pengacara.


"Saudara Reyhan, pak Bram mewariskan seluruh aset perusahaan beserta tiga mobil, dua rumah mewah sebuah villa di Lombok dan beberapa dokumen penting yang tersimpan di Bank. Termasuk saham perusahaan ini sebesar lima puluh persen sudah berdasarkan atas nama Anda."


"Untuk anda nona Ria, bapak memberikan sebuah kartu ajaib berwarna hitam ini kepada Anda, sebuah villa di puncak, sebuah mobil dan rumah yang Anda tempati saat ini." Pengacara itu memberikan black card, kepada Ria.


"Sementara anak-anak akan mendapatkan saham perusahaan ini, masing-masing dua puluh lima persen dan akan di serahkan kepada mereka setelah usia mereka delapan belas tahun. Sebelum mereka berusia delapan belas tahun semua saham akan di kelolah oleh Reyhan, tanpa terkecuali."


"Bu Ria, ini ada titipan surat juga dari almarhum papa Anda. Dan pak Reyhan ini untuk anda juga ada." Pak pengacara itu memberikan surat sesuai nama yang tercantum di sampul surat itu.


"Sebelumnya maaf, apa masih ada yang ingin di tanyakan?" Tanyanya pada seluruh anggota rapat.

__ADS_1


"Saya, Pak!" Ucap salah seorang kepala devisi sembari mengangkat tangan.


"Iya, silahkan. Apa yang ingin Anda tanyakan," jawab pak Hufron.


"Jadi perusahaan ini sekarang sepenuhnya milik pak Reyhan. Atau ada pemilik yang lain lagi?"


"Sudah jelas, setelah saya bacakan wasiat ini, semua aset yang telah dialihkan atas nama pak Reyhan menjadi milik pak Reyhan sepenuhnya. Dan jika ada komplain dari pihak bu Ria, atau bu Ria memilih berpisah sama Pak Reyhan,maka seluruh aset atas nama bu Ria akan di bekukan dan sumbangkan ke sebuah yayasan yang telah di tunjuk oleh Almarhum pak Bram." Jelas Pengacara itu.


"Untuk bu Ria, apa ada yang mau ditanyakan!" Ucap Pak Hufron lagi.


"Tidak, Pak! Papa sudah menjelaskan semuanya. Jadi saya sudah mengerti semua. Kalaupun saya tidak mendapatkan warisan saya juga tidak akan marah, karena saya percaya sepenuhnya kepada suami saya." Jelas Ria sembari tersenyum kearah orang-orang yang ada di depannya.


"Pak Reyhan! Ada pertanyaan?" tanyanya lagi.


"Tidak, Pak. InsyaAllah saya akan amanah dengan semua yang ditinggalkan oleh almarhum mertua saya.


"Dan tanda tangani ini, Pak!" Ucap Pak Hufron kepada Reyhan dan Ria.


Sementara di pojok ruangan Riska mendengar dengan seksama apa yang dia dengar dan di lihatnya. Segera dia juga memberikan laporan tentang pembagian harta keluarga Ria kepada Alvin.


*


*

__ADS_1


*


Di luar sana Alvin mendengus kesal, karena Reyhan yang mendapatkan warisan paling banyak. Dia yang sudah merancang banyak hal harus merelakan semuanya.


"Pokoknya Aqila dan Hafidz harus mendapatkan semuanya, tanpa harus berbagi dengan laki-laki idiot itu. Enak saja dia mendapatkan warisan paling banyak, memang siapa dia. Tidak ada hubungan apapun dengan Bram. Sementara Qila dan Hafidz adalah cucu kandungnya. Mereka lebih berhak atas semuanya dibandingkan dengan laki-laki bo*doh itu." Alvin sambil meremas bungkus rokok yang ada di tangannya


"Aku akan buat laki-laki itu menyerahkan semua yang dia dapatkan, tanpa harus mengotori tangan ku. Lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk merebut semuanya," ucapnya dalam hati.


***


Sementara setelah semua penandatanganan surat-surat pengalihan harta Bram kepada Reyhan dan Ria, pengacara itu berpamitan kepada seluruh orang yang berada di dalam ruangan itu tanpa terkecuali.


Ria menjalankan kursi roda dengan tangannya, mendekat ke arah Reyhan yang telah selesai menerima ucapan selamat dari seluruh pegawainya.


"Mas, terima kasih. Sudah mau bersabar menghadapi sifatku yang tidak baik ini. Apapun keputusan papa ini semua yang terbaik buat kita." Ria memeluk pinggang Reyhan.


"Maaf, sebenarnya ini semua bukan mau ku. Tapi papa memaksaku untuk bisa menangani ini semua, semua juga demi kamu dan anak-anak. Bahkan jika suatu saat nanti kamu menginginkan perceraian, semua harta ini akan aku kembalikan lagi kepadamu, karena kamu yang berhak atas semuanya, bukan aku." Rey berjongkok di hadapan Ria.


"Tidak Mas! Semua sudah sesuai porsinya. Papa sudah membaginya dengan adil. Kamu yang membesarkan perusahaan ini, kamu yang beberapa kali menyelamatkan perusahaan ini dari kebangkrutan, dengan tangan dingin kamu pula perusahaan ini bisa maju seperti sekarang. Semua sudah sesuai porsinya, Mas." Ria sembari tersenyum.


Keduanya berpelukan, Reyhan yang awalnya sangat tidak suka dengan sifat Ria, kini mulai merasa iba, bukan karena harta yang telah dia dapatkan dari Bram, melainkan Ria yang tidak memaksakan diri untuk meminta bagian harta yang lebih banyak, jauh berbeda sebelum dia mengalami kecelakaan beberapa waktu yang lalu.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya ya gaess, Like, Komen, Gift, Vote, Rate, Favorit.


Tetap jaga kesehatan jangan lupa bahagia😘.


__ADS_2