Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 99


__ADS_3

Manusia tetaplah manusia, sebaik apapun dia pasti pernah mengecewakan. Sesempurna apapun dia pasti pernah menyakiti manusia yang lainnya. Berinteraksi dengan mereka memang tiada pernah ada habisnya. Tidak ada hubungan antara sesama manusia yang selalu mulus dan baik-baik saja. Yang ada hanyalah mereka yang lebih banyak mengedepankan tolerensi dan pemakluman. Sebagai mana kita tidak sempurna orang lain pun sama.


🍂


Happy Reading...


Malam itu juga Hanna dilarikan ke rumah sakit. Reyhan beserta keluarganya begitu panik melihat dia yang terus merintih kesakitan.


"Sayang, kita ke rumah sakit sekarang. Bertahanlah, semua akan baik-baik saja." Reyhan mengelus perut yang mulai membuncit itu.


Reyhan segera melajukan kendaraannya. Sementara Alvin, Aqil dan Hafidz melihat mereka dengan aneh. Hafidz segera berlari mencari keberadaan oma dan opanya. Begitu sampai di teras rumah Hafidz terkejut melihat sangat oma menangis.


"Oma, ada apa ini, Oma?" tanya Hafidz.


"Tiba-tiba saja mama Hanna sakit, Nak. Barusan papa Reyhan membawah mama ke rumah sakit," Rita menjelaskan kepada Hafidz dengan penuh ketenangan.


"Apa, Oma! Mama sakit. Kita harus segera ke rumah sakit, Oma!" seru Hafidz.


"Iya, ini Oma mau ke rumah sakit," terang Rita.


"Maaf, ini ada apa?" tanya Alvin dengan nafas tersengal-sengal.


"Hanna dilarikan ke rumah sakit, mungkin kandungannya bermasalah," ucap Rita.


"Qila ikut, Oma," pinta Aqila.


"Jangan, Sayang. Ini sudah malam, besok kalian bukannya harus sekolah?" tanya Rita.


Aqila tertunduk lesu mendengar keputusan Rita. Alvin mendekatinya dan segera merangkul sang gadis.

__ADS_1


"Do'a kan saja mama dari rumah. Semoga semua baik-baik saja." Benar yang dikatakan oma, ini sudah malam. Besok saja sepulang sekolah kalian bisa menjenguknya," ujar Alvin.


"Oh, kebetulan Vin. Kamu tidak usah pulang, jaga mereka, ya. Karena di rumah tidak ada siapapun. Jadi, kamu bisa menemaninya," pinta Rita.


"Baik, Tan. Dengan senang hati."


"Terima kasih, jaga mereka baik-baik." Rita sembari pergi menuju mobil yang sejak tadi menunggunya.


Di rumah sakit, Reyhan yang baru saja keluar dari mobilnya segera menggendong Hanna dan berteriak mencari keberadaan dokter di ruang UGD. Dua orang perawatan dengan segera mendorong brankar didekatkan ke arah Reyhan.


" Terima kasih, Sus," ucap Reyhan kepada ke dua orang berseragam putih itu.


Satu jam sudah Hanna di ruangan ICU. Namun, sampai saat ini dokter belum memberikan apapun ke padanya. Hatinya mulai risau, sementara Rita yang sejak tadi duduk di kusi tunggu ikut berdiri menenangkan Reyhan.


"Sabar, Nak. Semua pasti baik-baik saja. Kita do'akan saja semua ini segera berlalu." Rita merangkul tubuh Reyhan.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya, dia baik-baik saja kan, Dok!" cerocos Reyhan.


"Tenang dulu, Pak. Biar saya jelaskan. Keadaan ibu Hanna sudah membaik. Namun, masih perlu istirahat yang cukup dan jangan banyak pikiran. Karena itu bisa membuat kondisinya seperti tadi, kondisi janinnya mendesak ingin keluar, Pak. Tapi, jangan khawatir ini semua bisa diatasi asal bu Hanna benar-benar istirahat total," jelas dokter kandungan itu.


"Apa saya boleh melihatnya, Dok!


" Tentu!" untuk sementara ibu Hanna harus tetap di rawat. Agar kondisinya benar-benar puluh.


"Terima kasih, Dok!" Reyhan mengulurkan tangan ke arah sang dokter.


"Sama-sama, Pak! Kalau begitu saya permisi dulu," pamit sang dokter.


Reyhan segera masuk ke dalam ruangan di mana Hanna dirawat. Melihat Hanna terbaring di atas brangkar pesakitan membuat hatinya nyeri. Andai saja dia bisa mencegah sang istri untuk tidak membatu persiapan do'a bersama, Hanna tidak mungkin drop seperti sekarang.

__ADS_1


"Maafkan aku, Sayang. Tidak seharusnya kamu merasakan sakit sendiri. Harusnya aku juga merasakan sakit yang kamu rasakan. Karena yang ada di dalam sini juga atas ulahku." mengecup tangan Hanna yang sejahtera tadi di genggamnya.


*


Di rumah peninggalan Bram. Alvin begitu bahagia. Dia berbincang dengan kedua anaknya hingga tengah malam. Entah, apa saja yang mereka bahas. Ketiganya kini sudah mulai akrab tidak ada lagi canggung di antara mereka.


"Pa, boleh Qila bertanya sesuatu?"


"Boleh, katakan apa yang ingin kamu tanyakan," ujar Alvin.


"Kenapa dulu Papa tidak menikahi mama?" tanya Qila menyelidik.


"Karena hubungan mama sama papa tidak pernah direstui oleh kakek kalian. Mama sudah dijodohkan dengan papa Rey," jawab Alvin sendu.


"Kenapa Papa tidak memperjuangkan mama. Bukannya kalian saling mencintai?" tanya Qila lagi.


"Bukan Papa tidak memperjuangkan, hanya saja mama tidak mau hidup susah dengan Papa. Karena ...," Alvin menceritakan semua yang dialaminya bersama Ria. Hingga membuat Aqila beberapa kali menyeka air matanya.


"Jadi, opa tidak akan memberikan warisannya jika mama bercerai dengan Papa Rey. Mama mempertahankan pernikahannya demi harta warisan karena mama tidak bisa hidup susah," ulang Qila.


"Benar, itulah yang terjadi di antara kita. Bukan Papa tidak mau berjuang, tapi karena hubungan kami di tentang. Sehingga membuat Papa salah jalan. Papa menjadi orang jahat hingga nekat menyakiti keluarga mama yang sudah mulai bahagia."


"Maafkan Papa. Papa janji akan menebus semua dosa dan kesalahan Papa di masa lalu. Papa ingin menjadi orang baik, karena Papa juga ingin hidup bahagia dan normal seperti orang-orang di luar sana," terang Alvin.


Aqila yang sejak tadi duduk di samping Alvin langsung berhambur memeluk tubuh yang mulai menua itu. Bagitu pula Hafidz yang sejak tadi hanya mendengarkan cerita Alvin ternyata juga terharu, ikut memeluk Alvin juga.


🍂


Jangan lupa tinggalkan jejak gaess, Like Komen, gift, rate, vote. Terima kasih 😘

__ADS_1


__ADS_2