Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 56


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, suara riuh burung bersahutan, melompat kesana kemari diatas dahan, membuat pemandangan pagi itu begitu indah. Ria yang sedang duduk berjemur di teras samping rumah mengamatinya dengan sesekali bibirnya tersenyum.


"Mama ...!" Teriak Aqila yang baru saja selesai mandi.


"Iya, Sayang. Sini! Ria mengulurkan kedua tangannya, menyambut kedatangan Aqila.


Sementara di balik pintu Riska sedang mengawasi kebersamaan antara ibu dan anak itu. Dia teringat Ria belum sempat meminum jus yang sempat di buat Hanna sebelum pergi berbelanja tadi. Dengan segera dia mengambilnya dan memberikan jus itu kepada Ria.


"Nyonya ini jusnya." Riska menaruhnya di meja dekat Ria duduk.


"Terima kasih, " ucapnya.


Ria mengambilnya dan segera ingin meminumnya. Belum sempat meneguk jus itu Hafidz berlari dari arah dalam dan berteriak kepada Ria.


"Mama, tunggu. Jangan diminum. Itu ada racunnya." Hafidz berlari sembari terus berucap jangan di minum.


"Kenapa, Sayang! Kenapa?" Tanya Ria.


Sekilas hafidz menoleh ke arah Riska. Namun dia takut untuk mengatakan kepada Ria.


"Sudah nyonya minum saja, jusnya. Saya ke dalam dulu membereskan bekas sarapan nyonya." Ria melirik sekilas ke arah Hafidz sembari menajamkan tatapannya.


Hafidz langsung mengambil jus yang di pegang Ria, di buangnya jus itu ke halaman samping rumah.


"Sayang, kok di buang?" Tanyanya pada Hafidz.


Hafidz hanya terdiam, dia tidak berani bersuara karena dia masih melihat sosok Riska yang masih mengawasinya di balik pintu.


"Brengsek, mau cari gara-gara tuh bocah. Kalau bukan karena papanya gue ogah kerja jadi babu." Paparnya dalam hati.


*


*


*


Sementara di kediaman Rita sibuk dengan acara persiapan pernikahan Dicky dan Aisyah, yang rencananya satu bulan lagi malah di majukan tiga hari lagi. Untung saja semua persiapan di bantu oleh pihak wedding organizer, jadi persiapan bisa sedikit dipercepat.


Hanna yang sudah berpakaian rapi menghampiri Ria di teras samping. Dia sedang berjemur sekaligus menikmati mentari pagi yang mulai terasa menyengat.

__ADS_1


"Mbak, aku ke rumah mama dulu ya, mau lihat persiapan pernikahan Iky sama Aisyah." Pamitnya sembari membenahi rambut Ria yang berantakan karena angin.


"Iya, salam buat mama. Maaf Mbak gak bisa ikutan, toh kalau ikut juga pasti cuma ngerepotin." Ria sambil tersenyum.


"Kalau begitu Hanna pamit ya, titip anak-anak. Kalau ada apa-apa, langsung telpon ya," Pesan Hanna.


"Iya, kamu hati-hati," ucapnya lagi.


Sesampainya Hanna di rumah Reyhan, dia segera mencari keberadaan Rita. Ingin menanyakan tentang gaun pengantin yang beberapa waktu di pesannya dari butik milik sahabat Hanna.


"Assalamu'alaikum, Ma!" Hanna mencium tangan kanan Rita.


"Waalaikumsalam, sama siapa? Anak-anak mana, kemana mereka kok ga ikut?" Cerocos Rita.


"Anak-anak sama mbak Ria, Ma. Kasihan kalau Mbak Ria sendirian. Jenuh di rumah," terang Hanna.


Sudah hampir jam delapan malam, namun pekerjaan di rumah mama Rita masih ada saja yang belum selesai. Hanna yang merasa lelah menuju kamar Reyhan, dia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum pulang.


"Huhh ..., seger banget sudah mandi, sudah jam delapan, baiknya aku pulang sebelum terlalu larut. Mana sendirian lagi," gerutunya pelan.


Baru saja memegang ponselnya yang sejak tadi ditaruh di dalam tas, tiba-tiba saja benda pipih itu berdering dengan nyaringnya. Dilihatnya siapa yang menghubunginya malam-malam, ternyata Reyhan sang suami.


" Masih di rumah Mama?" Tanya Reyhan.


"Iya, Be. Ini aku uda mau jalan balik.


" Jangan, aku susulin ya, tunggu!" Cegah Rey.


"Tapi ...,"


"Sudah, tunggu saja. Nggak ada penolakan." Tegas Reyhan sembari menutup panggilannya.


Reyhan bergegas turun mendatangi Ria, dia berpamitan kepada Ria, bahwa dia mau menyusul Hanna di rumah mamanya.


"Ria, sudah tidur!" Reyhan sembari masuk ke dalam kamar tidur Ria, karena saat ini Ria sedang duduk diatas tempat tidur.


"Belum, Mas! Ada apa?" Tanya Ria.


"Aku mau nyusulin Hanna dulu, sudah malam nggak mungkin dia naik taksi online. Apa kamu mau ikut?" Tanya Reyhan.

__ADS_1


"Susul saja, Mas. Aku juga nggak mungkin ikut, yang ada ngerepotin, Mas." Ria sembari melihat layar ponselnya.


"Ya sudah, terima kasih. Aku berangkat dulu." Reyhan mengecup singkat pucuk kepala Ria.


Reyhan pun berangkat menuju kerumah sangat mama, sesampainya disana langsung saja dia mencari keberadaan sangat istri. Belum sampai ke kamar tidurnya, dia telah melihat keberadaan Nana yang sedang berbincang dengan mama Rita.


"Assalamu'alaikum," sapanya kepada kedua wanita yang dia cintai itu.


"Waalaikumsalam, Be.


" Rey."


"Ma, pinjam Nana sebentar ya, Reyhan ada perlu sama dia." Pamitan pada sang Mama, sembari menggandeng tangan Nana.


Sementara sang Mama yang selalu mendapatkan curhatan dari Reyhan paham, jika anak semata wayangnya itu begitu merindukan sosok istri yang dulunya sangat romantis. Bukan Hanna berubah, namun dia lebih menghargai Ria sebagai istri pertama Reyhan.


"Be, be, pelan-pelan dong, nanti jatuh gimana? Main tarik aja sih, Kamu!" Protes Hanna saat Reyhan sudah tidak sabar lagi untuk membawahnya pergi dari ruang tengah itu.


"Iya, ini sudah pelan, Sayang!" Reyhan menarik pinggul sang istri ke sampingnya sembari mencium kepala sang istri.


🍂🍂🍂


Jangan lupa tinggalkan jejak ya gaess,


Like


Komen


Vote


Rate


Gift


Favorit.


Sambil nunggu up mampir yuk ke karya temen Syfa, GAIRAH DUDA PERJAKA. karya Ka MPOON. Jangan lupa jejak ya gaess.


__ADS_1


__ADS_2