Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 16


__ADS_3

Bram yang sejak tadi memang menunggu Ria sadar dengan segera mendatangi putrinya. Dilihatnya Ria sedang bertelpon dengan seseorang, membuat Bram mengurungkan niatnya untuk masuk, namun Bram berusaha mendengarkan pembicaraan sang anak dengan seseorang itu.


"Iya, Sayang. Butuh uang berapa kamu? Bilang saja nanti aku transfer," ucapnya pada seseorang di balik telpon itu.


"Siapa yang meminta uang kepada Ria. Ada hubungan apa Ria dengan orang itu?" Bram terus mengawasi gerak-gerik Ria.


Ponsel Bram tiba-tiba saja mendapatkan pesan masuk, dengan segera Bram melihatnya. Bram melebarkan mata melihat notif yang muncul di layar ponselnya itu.


"Sepuluh juta, buat apa uang sebanyak itu. Siapa juga yang berani meminta uang kepada Putri ku? "Tanya Bram dalam hati.


Tanpa basa basi lagi Bram langsung membuka pintu kamar itu dengan kasar, hingga membuat Ria yang berada di dalamnya terlonjak kaget, dan segera duduk.


"Papa, tumben Papa dirumah?"Tanya Ria tanpa ada rasa bersalah.


"Siapa yang kamu kasih uang sepuluh juta, ada hubungan apa dia sama kamu?"Tanya Bram tanpa basa basi.


"Dia, dia pacar Ria, Pa!" Jawab Ria dengan santainya.


"Siapa yang mengizinkan kamu memberi buang sebanyak itu kepada orang yang Papa tidak kenal.


" Dia pacar Ria, Pa! Nggak salah dong," ucap Ria.


Bram sudah kehilangan kesabaran, sudah kesekian kalinya Ria melakukan hal itu. Foya-foya, tanpa menghiraukan berasal dari mana uang yang selalu di gunakan. Tidak hanya itu saja, Ria juga salah dalam pergaulan. Mabuk-mabukan, obat terlarang hingga **** bebas dia lakukan. Hal itu juga yang sering membuat nama baik keluarga tercoreng. Bukan karena salah dalam mendidik anak, memang Ria saja yang tidak pernah bisa diatur.


"Plakk ...!"


Bram menampar Ria dengan keras, hingga dia tersungkur. Ria sakit hati dengan perlakuan Bram. Ria bangun dan segera berlari keluar.


"Hey, mau kemana kamu!


Ria tak menghiraukan ucapan sang Ayah, dia terus saja keluar dari rumah megah milik Bram. Hingga akhirnya Bram memutuskan membiarkan Ria pergi begitu saja.


" Ya Tuhan, sebesar apa dosaku hingga memiliki seorang anak seperti dia," ucapnya lirih.

__ADS_1


Keesokan harinya, Bram yang berada di rumah sakit sedang menemani sangat istri, tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan dua orang anggota polisi.


"Selamat siang, Pak! Dengan Pak Bram, orang tua dari saudara Ria Anggaraini?" Tanya salah seorang petugas polisi.


"Iya benar, saya sendiri, Pak." Bram sambil berjabat tangan.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Bram.


"Kami mau menginformasikan bahwa putri anda sekarang menjadi buronan, karena telah berhasil melarikan dari kejaran petugas polisi. Dan berhasil membawa kabur barang bukti berupa sabu seberat satu 250 gram.


Istri Bram yang terkulai lemah di brankar rumah sakit langsung histeris mendengar ucapan petugas polisi itu. Bram segera berlari menghampiri sang istri.


"Ma, Mama kenapa, Ma!" Bram memeluk tubuh lemah itu. Tubuh yang masih dalam pelukan itupun tiba-tiba terkulai lemas dengan nafas yang tersengal-sengal . Hingga membuat Bram semakin panik. Dengan segera Bram memanggil sang dokter.


Tak lama kemudian dokter pun datang, sementara Bram melanjutkan obrolannya dengan petugas polisi itu.


"Kalau begitu kami pamit permisi, Pak!" Semoga keadaan istri anda segera membaik, dan kami minta, jika sewaktu-waktu anda melihat atau menemukan saudara Ria tolong segera laporkan ke kami." Petugas itu berpesan sembari mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


"Iya, baik, Pak!" jawab Bram lesu.


"Bagaimana, Sus?" Tanya sang dokter.


"Nihil, Dok. Pasien sudah meninggal." Suster sembari memberikan laporan ke pada dokter.


"Ok, siapkan semua laporan kematiannya, saya akan memberitahu keluarga pasien." Dokter sembari langkah keluar ruangan.


"Siap, Dok!


Sesampainya di depan pintu, Bram sudah beranjak menemui sang Dokter. Berharap semua akan segera baik-baik saja.


" Dok, bagaimana keadaan istri saya, Dok!


"Sebelumnya saya minta maaf, karena Tuhan lebih sayang kepada istri anda. Istri anda sudah tidak.

__ADS_1


Bram langsung berlari menuju ruangan istrinya, memanggil-manggil sang istri berharap masih bisa membuka mata kembali.


" Ma ... Mama ... Bangun Ma, Bram menangis di sebelah tubuh sang istri. Menyesal mungkin hanya itu yang ada di dalam benak Bram.


Sejak saat itulah Bram selalu tegas kepada Ria, karena dia tidak mau Ria salah pergaulan. Seperti halnya ketika Ria mau di nikahkan dengan Reyhan. Dalam hati dia menolak, namun karena sudah berjanji dengan sang Papa akhirnya dia menyetujuinya.


"Kalau kamu tidak mau menikah dengan laki-laki pilihan Papa, jangan harap kamu bisa keluar dari bui ini. Silahkan nikmati hukuman yang akan kamu terima." Bram sembari membalikkan badan dan segera pergi meninggalkan Ria.


"Pa ... Papa ..., tunggu! Ria tidak menolak, asal Ria bisa keluar dari dalam penjara ini," ucap Ria tanpa berpikir lagi.


"Baiklah, Papa akan mengeluarkan mu dengan jaminan, tapi kamu harus tepati janji kamu, kalau tidak jangan harap kamu bisa menikmati harta Papa," ucapnya tanpa menoleh kearah Ria.


" Iya, Pa! Ria janji sama Papa, akan selalu menurut sama Papa," ucapnya dengan penuh penyesalan.


Bram sudah berhasil menjinakkan Ria, namun Bram juga bingung, siapa laki-laki yang mau menerima Ria menjadi istrinya. Lama dia berpikir akhirny dia menemukan cara, bagaimana jika dia memaksa seorang Wisnu Pratama untuk menjadikan anaknya sebagai menantunya.


Awalnya Wisnu menolak melakukan perjodohan antara Reyhan Dan Ria. Namun dia juga berpikir dengan apa dia bisa membayar hutang-hutangnya kepada Bram.


"Ma, Papa harus bagaimana? Papa tidak sanggup jika Reyhan menikah dengan anak pak Bram. Tapi, jika kita menolak, dengan apa kita bisa membayar hutang-hutang yang begitu banyak.


" Reyhan setuju, Pa! Biarkan Rey menikahi gadis Itu." Rey menyahut sembari mendekat ke arah orang tuanya.


"Tapi, Nak.


" Sudahlah, Ma, Pa. Setujui saja persyaratan, biarkan Rey membalas budi Mama dan Papa. Dari sinilah terjadinya pernikahan antar Reyhan dan Ria.


***


Bram yang selama perjalanan melamun, kini telah disadarkan oleh bunyi klakson mobil yang sebentar lagi masuk kedalam rumahnya. Sambil mengusap wajahnya kasar, ada sedikit penyesalan disana. Namun semuanya memang harus terjadi. Penyesalan memang selalu datang terlambat, untuk itu pikirkanlah secara matang agar apapun keputusan yang akan di ambil tidak menjadi penyesalan di kemudian hari.


🐦


Nah, sudah tidak penasaran lagi sama kisah si Ria yang suka foya-foya dan dan nggak bisa diatur kan. Yang sudah untuk part selanjutnya maunya kisah si Ria apa si Hanna yang mulai mendapatkan restu dari keluarga Rey. Tunggu up selanjutnya ya.

__ADS_1


Terima kasih, masih setia dengan ADM, jangan lupa di tunggu Like, komen, vote, gift rate juga ya gaesss. 😘


__ADS_2