Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 19


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, tidak berapa lama kemudian, Reyhan mengantarkan Hanna untuk pulang kerumah Om Alif. Dalam perjalanan keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing. Reyhan yang sangat berharap bisa meminang Hanna Akhirnya menepikan mobilnya di sebuah taman.


"Kita turun sebentar, ya. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan serius." Rey memegang tangan kanan Hanna.


Keduanya pun turun dari mobil, Rey mengajak Hanna duduk di sebuah kursi taman yang hanya disinari lampu temaram, dengan suasana taman yang mulai sepi, Reyhan dan Hanna duduk bersebelahan.


"Na, aku mau tanya sekali lagi sama kamu, maukah kamu menikah dengan ku?"Tanya Reyhan untuk yang kesekian kalinya.


Pertanyaan yang membuat Hanna bimbang, ada banyak hal yang dipikirkan oleh Hanna, ibunya, istri pertama Reyhan, pernikahan yang hanya di bawah tangan. Hanna terdiam, tidak menjawab pertanyaan Reyhan.


"Na." Rey memegang kedua tangan Hanna.


Hanna terlonjak kaget saat tangan Reyhan memegang tangannya. Hana menoleh dilihatnya manik hitam itu, begitu besar harapan yang terlihat disana. Ingin menerima tapi rasa takutnya juga lebih mendominasi hatinya. Ingin menolak tapi, harapan itu begitu besar terlihat di sana.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Reyhan.


"Banyak, Mas!" jawab Hanna.


"Coba ceritakan siapa tau aku bisa membantumu memberi jawaban.


" Bagaimana dengan istri Mas, kalau Mas nikah sama Hanna." Hanna sembari menoleh ke arah Reyhan.


"Na, aku sama Ria memang menikah secara resmi, tapi hubungan kita bukanlah hubungan yang normal seperti pada umumnya pasangan suami istri," terang Reyhan.


"Maksudnya, Mas," sahut Hanna.


"Ya, kita sebagai pasangan hanya di depan orang saja, di depan keluarga, teman, dan yang lainnya. Tapi, dibelakang itu semua, kita tidak pernah ada hubungan apapun, kita sepakat mencari kebahagiaan sendiri-sendiri. Mungkin memang terlambat, baru sekarang aku berfikir untuk mencari kebahagiaan.Dan semua itu ada di kamu, Hanna.


"Aqila sama Hafiz?" Hanna mencoba bertanya tentang kedua anak itu.


"Mereka hasil hubungan gelap Ria sama kekasihnya Alvin," ucap Reyhan.


"Jadi?


" Iya, Ria sama Alvin orang tua kandung Qila sama Hafiz. Kamu pasti berfikir mereka anak ku bukan? Reyhan berbalik tanya kepada Hanna.

__ADS_1


"Iya, awalnya aku pikir mereka anak kandung mu, Mas.


Reyhan hanya tersenyum, mendengar penuturan Hanna, Dia sudah menduga bahwa Hanna pasti mempertanyakan tentang Aqila dak Hafiz.


"Apa lagi yang mau kamu tanyakan."


Reyhan kembali memegang tangan Hanna.


"Jadi kalau kita menikah apa tidak masalah sama istri Mas.


" Dia urusan ku, biar aku yang selesaikan semua," terang Reyhan.


"Apakah kita tidak bisa menikah secara resmi, Mas?"


"Jika nanti aku sudah bercerai dengan Ria, atau jika Ria mau bertanda tangan, dan menyetujui aku akan menikahi mu secara sah."


Keduanya kembali terdiam, memikirkan apa yang baru saja mereka bicarakan, Hanna dengan bimbang nya, sementara Rey dengan harapan nya. Berharap Hanna mau menerima ajakannya untuk menikah.


" Na, masihkah ada yang ingin ditanyakan lagi."


"Lalu apa jawaban atas pertanyaan ku," ucap Reyhan.


"Aku ... aku ... aku tidak bisa." Belum sempat menyelesaikan ucapannya Rey lebih dulu memotong perkataan Hanna.


" Jadi kamu menolak ku? Rey dengan ekspresi terkejutnya.


"Aku tidak bisa menolakmu, Mas!" Hanna mengulang ucapannya.


" Syukur, Alhamdulillah." Rey mengusap muka dengan kedua tangannya.


Hanna sangat iba melihat Reyhan yang berwibawa dan banyak disegani tenyata dalam kehidupannya sangatlah tragis.


"Mungkin dengan menikahiku kamu akan bahagia, Mas." Hanna meneteskan airmata bahagianya.


Keduanya pun menikmati waktu bersama di kursi taman itu, hanya kebahagiaan yang mereka rasakan. Mungkin inilah jalan yang terbaik buat Reyhan, Hanna dan Ria. Hidup dalam satu hubungan yang entah bagaimana ujungnya.

__ADS_1


"Sudah malam, aku antara pulang, enggak enak sama Om Alif kalau kemalaman." Reyhan berdiri sembari mengulurkan tangan ke hadapan Hanna. Hanna menyambutnya dengan tersenyum.


Sesampainya di depan rumah Alif, Hanna segera turun dari mobil, Reyhan mengantarnya hingga depan pintu.


"Nggak mampir dulu, Mas." Tawar Hanna dengan tersenyum manis.


"Sudah malam, lain kali saja. Ya sudah, masuk sana, besok ketemu dikantor. Aku pamit ya." Reyhan melambaikan tangannya ke arah Nana.


"Iya," jawab Hanna.


Hanna menunggu hingga mobil itu tidak terlihat lagi, barulah dia masuk kedalam rumah Om Alif. Sesampainya didalam sudah ada dua orang yang siap menginterogasi Hanna. Iya, dia Alif dan Aisyah.


"Eh, eh, eh ... tunggu, diajak kemana sama pak bos?" tanya Alif.


" Kerumahnya," jawab Hanna.


"Terus, ngapain aja? giliran Aisyah yang mulai kepo.


" Ngobrol sama makan malam aja, nggak lebih." Hanna sembari melangkahkan kakinya.


"Eh, tunggu!"


" Apa lagi Sya?" tanya Hanna.


"Cerita dong."


" Besok, sekarang sudah malam, ngantuk. Ntar terlambat ngantor kena marah lho." Hanna sambil melangkah.


"Ya sudah, besok janji."


"Iya Sya, iya!" Hanna pergi meninggalkan ruang tamu itu.


๐Ÿฆ


Maaf gaess, telat up. Demam lagi melanda sejak semalam, jadi nggak sempat nulis๐Ÿคง. Jangan lupa Like, Komen ya gaess, rate, vote, gift, fav juga. Ditunggu jejaknya ya,

__ADS_1


Terima kasih masih setia nunggu kisah Rey dan Nana, jaga kesehatan jangan lupa bahagia ya ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2