
Sesampainya di rumah sakit, Reyhan berjalan berjalan menuju ruangan Ria. Dilihatnya bibi sedang duduk di depan ruang ICU. Iya, keadaan Ria yang kritis membuat dokter yang menanganinya segera membawanya ke ruangan itu.
"Bi, bagaimana keadaan Ria. Apa dokter sudah memberi informasi?" tanya Reyhan.
"Maaf, dokter belum keluar sejak tadi nyonya di bawah masuk. Tapi, bibi tadi sempat dengar kalau nyonya kritis,Tuan." Bibi sembari menundukkan kepala.
"Oh, Tuhan. Cobaan apalagi ini." Reyhan menengadah sembari mengusap wajah dengan kasar.
Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam. Hanna cemas, bukan tanpa alasan. Dia memikirkan sangat suami yang tidak kunjung meneleponnya.
"Mas Rey ke mana ya, kok tumben belum ada kabar sampai malam?" tanya Hanna dalam hati.
Dilihatnya kembali ponsel miliknya yang ditaruh di atas kasur. Namun, hanya foto Reyhan dan dirinya yang terlihat di sana. Hanna mencoba menghubungi Reyhan. Nihil, hanya suara operator seluler yang terdengar.
Hanna semakin cemas di buatnya. Dia mencoba menenangkan diri. Namun beberapa saat kemudian ponselnya berdering. Dengan segera dia mengambil dan melihat siapa yang menghubunginya.
Dilihatnya nama Aisyah di sana, kecewa. Tentu saja, namun dia tetap berusaha baik-baik saja. Hanna menggeser tombol hijau itu.
"Assalamu'alaikum, Sya," sapa Hanna.
"Waalaikumsalam, Na. Uda tidur apa belum?" tanya Aisyah.
"Belum, Sya. Apa ada yang penting?" tanya Hanna balik.
"Tunggu, aku kesana sekarang." Aisyah mematikan panggilannya dan segera menuju mes tempat Hanna tinggal.
"Sayang, mau ke mana?" tanya Dicky.
"Ke tempat Hanna. Mau memberi tahu soal keadaan Mbak Ria." Aisyah sembari mengemas ponselnya ke dalam tas kecil.
" Aku ikut." Dicky menyisir rambutnya yang berantakan dan segera menyusul Aisyah.
Sesampainya di mes Hanna. Aisyah segera masuk dan mengajak Hanna untuk duduk. Tidak lama kemudian Dicky datang dengan tergesa-gesa. Membuat Hanna dan Aisyah sedikit aneh dibuatnya.
__ADS_1
"Mas, habis ngapain sih, sampai ngos-ngosan!" seru Aisyah.
"Ngejar kamu, kan kamu tinggalin." Dicky sambil Menyelonjorkan kakinya.
"Ini kalian nggak pada tidur, uda malam juga malah main ke sini!" seru Hanna.
Hening. Tidak ada yang bersuara sedikitpun, hanya suara detik jam dinding yang terdengar di ruangan itu. Hanna mengerutkan keningnya. Memandang ke arah sahabat dan adik iparnya itu.
"Ini kalian kenapa, sih. Mending balik deh, tidur sana," usir Hanna pada keduanya.
"Na, barusan aku dapat kabar, mbak Ria kritis." Aisyah sembari memegang kedua tangan sahabatnya itu.
"Tapi, mas Rey nggak bilang apapun. Bahkan dia tidak menghubungi ku sejak siang." Hanna sembari menoleh ke arah Dicky dan Aisyah.
"Mama yang ngasih kabar ke aku," sahut Dicky.
Hanna terdiam, mencerna kembali ucapan kedua orang di hadapannya itu. Beberapa saat kemudian tangisnya pecah. Merutuki dirinya sendiri. Menyesal bukanlah saatnya untuk kali ini.
"Besok pagi saja, Na. Ini sudah malam." Aisyah yang baru saja mengikuti Hanna masuk.
"Tidak ada waktu lagi, Sya. Aku harus segera bertemu mbk Ria. Aku harus minta maaf kepadanya." Hanna sembari mengusap air mata yang sejak mendengar keadaan Ria terus saja mengalir.
Kini ketiganya berada di dalam mobil yang sama, menuju Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Tiga jam lebih lima belas menit, mobil yang di kemudikan Dicky telah sampai di Surabaya. Namun, Dicky tidak segera mengantarkan Hanna ke bandara.
Kali ini Dicky membawa Hanna untuk pulang ke rumahnya. Hanna yang masih terjaga seketika ingin melayangkan protes. Namun segera si urungkan niatnya itu. Karena dia sadar tidak akan ada pesawat yang akan terbang malam ini juga.
"Ayo! Kita istirahat di rumah dulu. Kamu butuh istirahat. Ingat calon bayi yang ada di dalam kandungan mu." Aisyah mengelus pelan perut Hanna.
Mereka kini berada di rumah mewah milik Dicky, rumah pemberian Reyhan sebagai hadiah pernikahannya. Aisyah mengantarkan Hanna untuk beristirahat di kamar tamu. Sementara Dicky masih mencoba menghubungi Reyhan yang sejak tadi tidak bisa dihubungi.
"Alhamdulillah, akhirnya," seloroh Dicky saat panggilannya tersambung.
"Assalamu'alaikum, Ky. Ada apa?" tanya Reyhan.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, Rey, bagaimana keadaan Ria?" tanya Dicky.
"Masih kritis, dan masih nunggu hasil pemeriksaaan juga," terang Reyhan.
"Sabar ya, Rey. Semua pasti akan baik-baik saja," ujar Dicky sebelum akhirnya mengakhiri panggilannya.
Hanna yang meringkuk di kamar tamu itu tiba-tiba saja terisak. Akhir-akhir ini dirinya memenagkan sedikit melow. Mungkin juga karena bawaan dari kehamilannya.
Tepat jam lima pagi, Hanna, Dicky dan Aisyah sudah berangkat ke Bandara dengan diantar supir. Pesawat mereka akan berangkat jam enam pagi. Sesampainya di bandara Hanna merasakan mual yang amat sangat. Aisyah dan Dicky kembali panik di buatnya.
Hanna memilih duduk di kursi tunggu dengan di temani Aisyah. Sementara Dicky pergi ke kantin untuk membeli minuman hangat.
"Na, kita batalin aja ya, kondisi kamu tidak memungkinkan untuk ke Jakarta sekarang," ujar Aisyah.
"Nggak Sya! Aku harus pulang sekarang, sebelum semuanya terlambat." Hanna sambil memegang tangan Aisyah.
Dicky datang dengan membawa teh hangat untuk Hanna. Melihat keadaan Hanna membuat hatinya iba. Hamil tanpa di temani suami benar-benar menyiksa. Sejenak dia menoleh kearah Aisyah. Dia tidak bisa membayangkan jika itu terjadi pada Istrinya.
"Diminum, Na. Biar lebih enakan." Dicky menyodorkan teh hangat yang ada di tangannya.
"Makasih," ucap Hanna lirih.
Pesawat yang mereka tumpangi kini telah sampai di Jakarta. Mereka langsung menuju ke rumah Reyhan. Tepatnya ke rumah Wisnu mertua Hanna.
"Alhamdulillah, akhirnya pulang juga kamu, Nak." Rita memeluk Hanna dengan erat. Dia begitu rindu dengan menantunya itu.
Sementara di balik tembok, seorang gadis kecil tengah mengamati dengan bibir tersenyum. Siapa lagi kalau bukan Aqila. Dia juga begitu rindu dengan mama sambungnya itu.
"Mama!" panggilnya dengan berjalan menghampiri Hanna.
🍂
Pagi gaesss, do'akan bisa lancar ngetik. Biar nanti bisa up lagi. Jangan lupa tinggalkan jejaknya gaess. Like, komen, gift, rate, vote, juga favorit.
__ADS_1