
**Hargailah orang lain jika kita ingin dihargai. karena manusia tidak akan mengerti jika tidak merasakan hal yang sama. Hargailah orang yang dengan tulus mencintai kalian sebelum kalian benar-benar merasakan kehilangan.
🍂**
Happy Reading.
"Vin, utarakan saja, apa yang ingin kamu bicarakan. Aqila sudah siap untuk mendengarkan," terang Reyhan dan diangguki oleh Alvin sebagai tanda setuju.
"Aqila, Hafidz dan semua yang ada di sini, saya mau minta maaf, atas semua perbuatan yang telah saya lakukan selama ini. Terutama untuk Ria," ucap Alvin penuh penyesalan.
"Telat! Mama sudah pergi dan aku sudah terlanjur benci," seru Aqila dengan ketusnya.
"Qila," sahut Rey. Seketika Aqila pun langsung diam.
"Lanjutkan, Vin," perintah Reyhan.
"Aku memang banyak salah sama kalian. Mungkin, jika aku minta maaf sekalipun dosa itu tidak akan pernah bisa termaafkan." Alvin diam seraya menundukkan pandangannya.
"Selama kamu benar-benar meminta maaf dengan tulus, maka aku juga akan memaafkanmu. Tetapi, jika semua ini kamu lakukan sebagai kedok untuk mendekati mereka maka ...," Reyhan menjeda ucapannya.
"Jangankan untuk memaafkan, untuk bertemu saja aku tidak akan pernah mau," sahut Aqil yang mulai emosi.
"Sayang, sudah!" Hanna mengusap punggung anak gadisnya itu.
"Aku benci, Ma. Aku benci dia. Karena dia mama Ria menderita, karena dia mama pergi ninggalin kita semua," Aqila histeris meluapkan seluruh amarahnya kepada Alvin.
Tiba-tiba saja air mata Hanna mengalir membasahi pipi mulusnya. Dia tidak menyangka Aqila yang selama ini sangat membenci Ria ternyata hanya ucapan saja. Namun, hatinya sangat menyayangi dan mencintai Ria begitu besar.
"Maafkan papa, Nak. Maafkan Papa. Dulu Papa memang bukan orang baik, selalu membuat Mamamu menderita. Maka, saat ini Papa ingin membahagiakan kalian berdua. Menebus semua kesalahan dan semua dosa di masa lalu. Papa mohon." Reyhan bersujud di depan kaki Aqila.
Aqila menangis, melihat ketulusan Alvin. Sementara semua orang tidak percaya bahwa Alvin yang notabennya orang yang selalu ingin menang sendiri dan arogan bisa melakukan ini semua.
__ADS_1
"Maafkan papa Alvin, Nak. Bagaimanapun juga dia tetap papa kandungmu. Tanpa dia kamu dan Hafidz tidak akan pernah ada didunia ini." Hanna sembari memeluk anak gadisnya itu.
"Tapi, Ma ...," Aqila menjeda ucapannya.
"Tidak ada tapi, dia papa kandungmu. Dan kita juga keluarga kalian. Jadi, jangan khawatir kalian tetap anak mama dan papa," terang Hanna.
Pertahanan Aqila mulai runtuh, ada rasa iba melihat Alvin yang bersujud di hadapannya. Air mata yang sejak tadi ditahan pun kini mulai mengalir di pipi putihnya. Melihat ke arah Alvin yang sedang berlutut dihadapannya sejenak dia merasa menjadi anak paling durhaka. Membiarkan seorang ayah bersujud meminta maaf kepada anaknya.
"Pergilah, maaf. Untuk saat ini aku tidak bisa memaafkanmu. Mungkin suatu saat maaf itu akan ada." Aqila berlari, pergi menjauh dari ruang tamu itu.
Sementara Alvin yang dengan tegas mendapatkan penolakan dari sang anak membuat hatinya sedikit tercubit. Sebesar itukah dosa yang telah dia perbuat, hingga darah dagingnya sendiri tidak mau memafkan dirinya. Alvin menangis tersedu di dalam hatinya.
"Rey, Hanna. Maaf, sudah membuat tidak nyaman di rumah ini. Aku pamit." Alvin menjabat tangan Reyhan, dan beberapa orang yang sedang berada di rumah itu. Mengucapkan salam sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah peninggalan Bram itu.
Di dalam kamar, Aqila terus terngiang ucapan Hanna." Apapun yang terjadi, dia tetap papa kamu. Kamu harus hormat ke padanya, sebelum kamu menyesalinya, Nak," terang Hanna.
Aqila memandang kepergian Alvin dari balik jendela kamarnya di lantai dua. Air matanya tiba-tiba saja mengalir tanpa bisa ditahan lagi.
Semua orang yang berada di ruang tamu itu kaget melihat Aqila berlari. Sontak Reyhan ikut mengejar kepergian Aqila. Sementara Alvin sudah tidak terlihat lagi.
"Papa ...." Aqila berteriak sambil berlari.
"Papa ...," teriaknya lagi.
Semua orang yang melihat Aqila berucap syukur, karena Aqila bisa menerima Alvin sebagai Papa biologisnya. Alvin berhenti mendengar suara teriakan. Namun, dia masih belum sadar jika itu Aqila yang menaggilnya.
"Papa.Tunggu!" Kembali Aqila memanggil Alvin. Hafidz yang masih berada di teras rumah segera berlari mengikuti Aqila.
"Alhamdulillah, akhirnya mereka mau menerima keberadaan Alvin!" seru Reyhan.
"Iya, Be. Alhamdulillah akhirnya mereka bisa merasakan kasih sayang seorang ayah kandung. " Hanna sembari mengusap sudut matanya.
__ADS_1
Alvin yang melihat Aqila dan Hafidz berlari menuju arahnya sedikit terkejut. Pasalnya beberapa menit yang lalu gadis kecil yang tumbuh menjadi remaja itu menolaknya dengan keras dan tidak mau mengakui dirinya sebagai ayah kandung mereka. Tapi, mengapa sekarang malah mereka yang datang menghampirinya?
"Aqil, Hafidz." Alvin memeluk ke dua buah hatinya itu.
"Maafkan Papa, Nak. Maafkan Papa," ucap Alvin bergetar sembari meneteskan air mata bahagia.
"Qila juga minta maaf, Pa. Maafkan Qila yang sudah khilaf, karena tidak mau mengakui Papa." Tangisan Aqila pecah setelah mengucapkan maaf kepada Alvin.
"Hafidz juga minta maaf, Pa. Karena Hafidz tidak pernah percaya kalau Papa itu orang tua kandung kita."
"Sudahlah, kalian tidak perlu minta maaf, di sini yang salah itu Papa sama mama Ria. Terima kasih, karena kalian sudah mau mengakui Papa. Maafkan Papa, Nak." Alvin kembali memeluk kedua buah hatinya itu dengan penuh kasih sayang.
"Reyhan, Hanna, dan juga kedua orang tuanya beserta beberapa kerabat yang melihat semua meneteskan air mata tanpa terkecuali.
"Alhamdulillah, semoga keluarga ini selalu hidup rukun hingga akhir hayat!" seru Rita dalam hati.
Sementara Hanna yang sejak tadi sudah merasakan capek kini beralih ke kandungannya sedikit merasakan nyeri. Dia berusaha sedikit sabar dan tidak terbawah emosi.
"Auw ...." Hanna berteriak sembari membungkukkan badannya. Dengan segera Reyhan memapah Hanna dan memberinya air minum.
"Apa ada yang sakit?" tanya Reyhan.
"Sedikit kram, Be." Hanna memegang perut bagian bawah.
"Kita ke dokter!" seru Reyhan.
🍂
Hai, ketemu lagi. Jangan lupa jejaknya ya gaesss. Terima kasih😘. Eh, satu lagi yuk mampir ke karya Syfa yang lain di tunggu jejaknya ya.
__ADS_1