Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 26


__ADS_3

Sinar mentari siang yang begitu terik membuat siapapun yang di bawahnya akan merasa sangat kegerahan, begitu juga dengan Ria, saat dia mendengar gosip tentang pernikahan Reyhan dia begitu terpancing emosi bak cacing kepanasan. Siang ini dia mendatangi kantornya, mengira Reyhan ada disana.


Ria membuka pintu ruangan itu dengan kasar, memanggil Reyhan yang dia kira ada di dalam sana, dilihatnya semua ruangan, dan kamar mandi tetapi nihil, dia tidak menemukan siapapun.


"Rey, Reyhan," Ria berteriak mencari keberadaan Reyhan. Berusaha bertanya kepada sekretarisnya.


"Mir ..., Mira ...." teriaknya memanggil sekretarisnya itu.


Mira segera berlari menghampiri Ria," I-iya bu, ada yang bisa saya bantu." Mira sembari menundukkan kepala.


"Kemana pak Reyhan?" tanyanya pada sekretaris itu.


"Maaf, Bu. Tadi pak Rey sempat datang, tapi hanya sebentar. Setelah selesai mengemasi barang-barangnya, beliau langsung pergi lagi, " terang Mira.


Tanpa berkata-kata Ria langsung pergi dari hadapan sekretarisnya. Mengambil tasnya yang ditaruh diatas meja dan segera berlalu dari ruangan itu. Ria berusaha menghubungi Reyhan hingga beberapa kali. Namun hasilnya Nihil.


"Hufftt ...." Ria membuang nafasnya kasar dari dalam hidungnya.


"Kemana lagi tuh orang, merepotkan saja. Apasih maunya," Ria memukul setir mobilnya.


Ria mengendarai mobil tanpa tujuan, ntah mau kemana dia sekarang? Tidak lama kemudian dering ponselnya berbunyi dengan nyaring, dilihatnya dering ponsel itu, ternyata sang papa yang menghubunginya.


"Iya, Pa!" Ria menjawab ucapan sang Papa.


Ria segera menambah kecepatan mobilnya, berbalik arah menuju rumah. Bram dan Reyhan telah menunggunya. Setelah beberapa menit sampailah Ria di rumahnya, dia begitu bahagia saat melihat mobil Reyhan terparkir di garasi rumahnya.


"Duh, kenapa nggak mulai tadi sih, tau sudah pulang kan aku nggak marah-marah di kantor." Ria sembari melangkah masuk ke rumah.


Ria masuk tanpa rasa bersalah sedikitpun, di pikirannya hanya ada kemenangan yang sebentar lagi dia dapatkan. Reyhan yang sudah kembali, pasti sang papa juga akan mengembalikan semua kartu ajaibnya yang telah di sita sang Papa.

__ADS_1


"Ria!" Bram memanggilnya dengan nada yang tidak biasanya.


"Iya, Pa," jawab Ria.


"Duduk!" ucap sang ayah lagi.


Dengan segera Ria duduk di sofa depan sang Papa, sementara Reyhan turun dari lantai dua rumah itu dengan menyeret koper di tangannya.


"Mas, mau kemana?" tanyanya dengan manis, karena ada sang papa di depannya.


"Pulang!" jawab Reyhan enteng.


"Apa semua ini." Ria bingung mendengar ucapan pulang dari Reyhan.


"Ya pulang! Saya akan pulang ke rumah saya sendiri," terang Reyhan.


"Pa, papa ...."


Ria histeris melihat keadaan Papanya, sementara Reyhan dengan segera mengangkat tubuh Bram, di bawahnya Bram kerumah sakit, hampir dua puluh menit Reyhan mengendarai mobilnya, tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut keduannya. Mereka lebih disibukkan dengan pemikiran mereka masing-masing.


Sesampainya di rumah sakit Bram segera di tangani oleh para dokter dan perawat yang sedang bertugas disana. Bram mulai menampakan kesadaran, jari-jarinya mulai bergerak di ikuti dengan kelopak mata yang juga ikut bergerak.


"Alhamdulillah," ucap sang dokter yang menyaksikan ke sadar Bram mulai berangsur-angsur normal.


"Pak! bisa mendengar saya?" ucap dokter itu.


Bram hanya mengangguk mengerti, tubuhnya yang sudah di pasang beberapa alat medis membuat dia berkeinginan membuat rencana agar Reyhan tidak berkeinginan menceraikan Ria.


"Dok, suara lirih itu memanggil sang dokter. Dokter pun segera mendekati Bram. Kemudian Bram menceritakan semua apa penyebab dirinya hingga terkapar dirumah sakit.

__ADS_1


"Jadi, maksud bapak, bapak akan berpura-pura sakit hingga keduanya kembali akur." Dokter sembari mengecek selang infus yang terpasang di tangan kirinya itu.


"Iya, Dok. Tolong bantu saya," ucap Bram memelas. Dokter pun menyetujui keinginan Bram, mendengar apa yang di ucapkan Bram membuat dokter itu ibah di buatnya.


Sementara di luar ruangan, Ria masih saja sesenggukan dengan duduk di atas kursi ruang tunggu rumah sakit itu, memikirkan bagaimana nasibnya jika Bram benar-benar meninggalkannya.


Reyhan duduk dengan tenang, sambil merapalkan do'a-do'a dengan berharap ada kabar gembira yang akan segera terdengar dari dokter yang menangani mertuanya itu. Hingga pukul sepuluh malam, Reyhan dan Ria berkutat dengan pikiran mereka masing-masing.


Dokter membuka pintu ICU itu, membuat Reyhan dan Ria segera berlari ke arah dokter, berharap ada kabar baik dari dalam sana." Maaf, Dok! Bagaimana keadaan papa, apakah sudah stabil?" Reyhan bertanya kepada sang Dokter.


"Maaf, Pak Reyhan, sepertinya butuh kesabaran ekstra agar pak Bram bisa kembali sehat. Semua organ dalamnya mulai melemah, kalau bisa apapun yang dia minta tolong dikabulkan saja," terang dokter.


"Maksudnya, Dok!" sahut Ria.


"Bisa jadi usia pak Bram tidak lama lagi, Mbak." Dokter pun berpamitan dan pergi dari hadapan keduanya. Sementara Ria begitu shok mendengar penjelasan fokter itu.


Ria menangis sejadi-jadinya, membuat Hati Reyhan terketuk, untuk membantunya." Bangun lah, semua tidak akan pernah selesai dengan menangis. Do'akan papa biar dia cepat sembuh." Rey memegang kedua pundak Hanna memberi semangat untuk Ria.


Seusai menenangkan Ria, Reyhan melihat jam tangan yang ada di lengan sebelah kirinya,"Astaghfirullah, sudah hampir jam dua belas malam, Hanna pasti menunggunya." Reyhan sembari merogoh ponsel dalam saku celananya. Hingga beberapa kali panggilan, barulah sang penerima telponnya menjawab.


"Assalamu'alaikum, maaf honey, aku tidak bisa pulang malam ini, pak Bram tiba-tiba saja pingsan, dan ternyata jantungnya ada sedikit masalah, jadi sekarang Mas masih dirumah sakit," tarang Reyhan tanpa ada cela Hanna untuk berbicara.


"Waalaikumsalam, be. Iya nggak papa, jaga kesehatan, jangan lupa makan sama istirahat. Semoga pak Bram segera membaik," ucap Hanna.


"Iya, titip anak-anak, jangan lupa istirahat, Love you," Reyhan mengakhiri panggilannya.


🍂🍂🍂


Terima kasih, masih setia sama Reyhan, dan Hanna. jangan lupa Like Komennya ya gaesss, di tunggu jejaknya, Maaf telat up. Habis vaksin badan jadi nano nano.

__ADS_1


__ADS_2