
"Aku sudah mendaftarkan gugatan perceraian kita ke pengadilan agama. Maaf, mungkin kamu akan menganggapku sebagai laki-laki egois. Tapi, ini sudah ku pikirkan jauh-jauh hari sebelum kamu sakit," ucap Reyhan dengan penuh penekanan.
Ria sudah menduga Reyhan akan melakukan ini, sejak kepergian Hanna tempo hari Ria menjadi sadar diri. Bahwa dirinya bukanlah istri yang sempurna dalam sebuah pernikahan.
Ria berusaha untuk tersenyum, walaupun air matanya tak mampu lagi dia bendung. Reyhan yang melihat pun sedikit iba kepada Ria.
"Maafkan aku." Reyhan memegang tangan Ria.
"Tidak ada yang perlu di maafkan, kalaupun ada yang minta maaf itu seharusnya aku, bukan kamu, Mas." Ria masih berusaha untuk tersenyum.
"Aku juga punya salah, menikahi Hanna tanpa meminta izin dari kamu," terang Reyhan.
"Itu bukan salah kamu, hanya aku saja yang selama ini tidak becus menjadi seorang istri. Menghinamu, memojokkan, bahkan aku tidak pernah menghargai kamu." Ria sembari mengusap air mata yang sejak tadi tidak mau berhenti keluar.
"Jangan pernah mengingat itu lagi, Ria. Itu semua hanyalah masa lalu," tutur Reyhan.
"Aku yang tidak akan pernah bisa melupakannya, Mas. Aku hanya seorang istri durhaka, tidak pernah melayani suami dengan baik, apalagi membahagiakan kamu. Aku hanya bisa membuat kamu tersiksa berada di dekat ku," ucap Ria.
"Sudah jangan bicara lagi!" Reyhan menutup mulut Ria dengan jarinya.
"Mas, jika nanti kita resmi bercerai atau aku meninggal karena penyakit ku ini, aku titip anak-anak, jangan sampai mereka di ambil oleh Alvin. Aku mau mereka menjadi orang yang sukses seperti kamu, Mas. Aku tau, aku tidak pantas meminta ini kepada kamu. Tapi tidak ada lagi orang yang bisa lebih baik dari kamu yang bisa aku percaya. Dan satu lagi, jangan pernah buat Hanna menangis. Dia satu-satunya wanita baik yang pernah aku temui. Aku harap kelak, jika Aqila dewasa bisa menjadi wanita seperti dia. Penyabar, penyayang dan baik hati." Tutur Ria.
Reyhan hanya tersenyum mendengar ucapan Ria. Bukan dia bahagia, hanya tidak ingin keliatan bersedih di hadapan Ria.
"Maafkan aku," ucap Reyhan lagi.
__ADS_1
Keduanya terdiam, mereka sama-sama meneteskan air mata. Mungkin inilah akhir dari perjalanan pernikahan perjodohan antara Reyhan dan Ria. Keegoisan para orang tua lah yang menjadikan mereka harus rela menjalani pernikahan tanpa cinta hingga belasan tahun.
"Mas, boleh aku meminta permohonan terakhir sebelum akhirnya kita berpisah?" Tanya Ria menghibah.
"Katakan, jika aku mampu akan aku kabulkan," jawab Reyhan.
" Apa boleh aku memelukmu sekali saja," pinta Ria.
"Kenapa enggak. Kita masih halal untuk bersentuhan, bukan!" jawab Reyhan.
Ria hanya tersenyum mendengar jawaban Reyhan, mungkin semua memang sudah terlambat. Namun, dia ingin merasakan pelukan dari sang suami, orang yang selama ini tidak pernah sekalipun dia anggap sebagai suami.
Reyhan berpamitan kepada Ria, karena ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesai. Namun, Reyhan terkejut. Saat hendak keluar dari ruang rawat Ria, sosok Yudha tengah berdiri di samping pintu.
"Ba-baru saja. Iya, saya baru saja masuk," jawabnya dengan terbata.
"Maaf, saya harus pergi. Nanti malam saya akan kembali lagi." Pamit Reyhan sebelum akhirnya pergi dari dalam ruangan itu.
***
Tepat jam delapan malam, Reyhan sudah kembali lagi ke rumah sakit, kali ini Reyhan tidak lagi memakai jas kebesarannya. Melainkan memakai celana jeans dengan atasan kaos dengan di balut jaket di luarnya. Aura ketampanannya semakin terpancar sekalipun usianya tidak muda lagi.
"Mas, Reyhan. Kamu sudah datang," sapa Ria.
"Hemm," jawab Reyhan.
__ADS_1
Tidak lama kemudian dering ponsel Reyhan berbunyi, tertera nama Sayang di layar ponsel itu. Dengan segera Reyhan menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Assalamu'alaikum, iya Sayang," sapa Reyhan.
Sementara Ria yang mendengar ucapan mesra dari lelakinya itu membuat Ria cemburu, walaupun dia sudah bisa menebak kalau itu madunya yaitu Hanna.
"Apa kamu mau berbicara dengan Ria?" Tawar Reyhan. Dan Reyhan pun memindah panggilannya menjadi panggilan Vidio.
"Assalamu'alaikum, Mbak! Apa kabar?" Tanya Hanna berkaca-kaca.
"Waalaikumsalam." Ria tersenyum.
"Na, maaf ya. Aku banyak berdosa sama kamu," ucap Ria.
"Mbak, aku juga banyak salah, maafkan aku juga." Hanna berusaha tersenyum walau dalam hati dia sungguh cemburu melihat lelakinya berada sangat dekat dengan istri pertamanya yang sedang terbaring di brankar rumah sakit.
"Aku ada kabar gembira buat kalian," ujar Hanna.
Reyhan dan Ria saling berpandangan. Mereka menunggu kabar apa yang akan Hanna berikan. Semua di luar perkiraan Reyhan maupun Ria.
🍂
Apa tuh kejutannya, di tunggu up selajutnya ya gaess. Sambil nunggu jangan lupa mampir ke karya teman Syfa nih. Karya @Ocybasoacy. Dengan tema Beauty Cloud. Di tunggu jejaknya ya gaesss, jangan lupa like, komen, gift, vote, rate, juga favorit. Terima kasih 😘
__ADS_1