
"Be, be, pelan-pelan dong, nanti jatuh gimana? Main tarik aja sih, Kamu!" Protes Hanna saat Reyhan sudah tidak sabar lagi untuk membawahnya pergi dari ruang tengah itu.
"Iya, ini sudah pelan, Sayang!" Reyhan menarik pinggul sang istri ke sampingnya sembari mencium kepala sang istri.
Sesampainya di kamar Reyhan langsung menutup dan mengunci pintu itu rapat-rapat. Hanna yang melihat kelakuan Reyhan menjadi sedikit aneh. Pasalnya Reyhan tidak pernah seperti ini sebelumnya.
"Be, kamu kenapa, sih! Aneh banget tau nggak sih.
" Kamu sudah mandi?" Reyhan mengalihkan pembicaraan.
"Sudah, memang kenapa?" Hanna balik bertanya.
"Ya, kalau belum kita mandi bareng saja. Kan sudah lama kita tidak mandi bareng." Reyhan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apaan sih, Be. Kamu kok tumben amat manja banget," seloroh Hanna.
"Nggak boleh, manja sama istri sendiri," Reyhan menoleh ke arah Hanna dengan tatapan genit.
"Sayang," Reyhan semakin mendekatkan diri ke Hanna.
"Hem, iya Be." Hanna melingkarkan tangannya ke leher sang suami.
Mendapatkan respon baik dari sang istri membuat Reyhan semakin semangat melancarkan aksi mesumnya. Di lumatnya bibir ranum sang istri yang selama ini menjadi candu baginya. Tidak hanya sampai di situ saja, keduanya semakin menikmati kemesraan itu. Hingga desahann dan lenguhan terdengar begitu syahdu. Pergulatan panas yang berlangsung hampir empat puluh lima menit itu membuat keduanya sedikit kelelahan. Setelah mencapai puncak kenikmatan keduanya mulai terlelap. Hingga mereka melupakan Ria yang sedang menunggu kedatangan mereka di rumahnya.
Tepat jam satu dini hari, Hanna terbangun. Dia baru menyadari kalau masih berada di rumah mertuanya. Dengan segera dia membangunkan sang suami.
"Be, bangun Be. Kita harus segera pulang, kasihan mbak Ria. Dia sendirian sama anak-anak." Hanna menggoyang bahu Reyhan, namun jangankan bangun Reyhan malah mendekap kembali tubuh mungil sang istri.
"Be ...."
Reyhan membungkam bibir tipis itu dengan bibirnya. Hanna hanya bisa pasrah mendapat perlakuan Reyhan.
"Emmm," Keduanya kembali menikmati kenikmatan surga dunia itu. Entah sudah berapa ronde mereka melakukannya, yang jelas keduanya sama-sama menikmati.
"Be, ayo pulang!
__ADS_1
" Besok pagi saja, kita nikmati malam ini berdua, kalau di rumah kamu pasti selalu bilang nggak enak ke Ria. Aku juga ingin berduaan sama kamu, Sayang." Reyhan sambil mengeratkan pelukannya. Tanpa sengaja Anaconda yang baru saja tertidur menempel lagi ke paha mulus Hanna. Membuat dia kembali menegang.
"Be, aku mandi dulu ya, kalau begini terus yang ada besok pagi remuk tubuhku."
"Jangan, biarkan kita nikmati sensasi seperti ini, sudah lama aku tidak menikmatinya." Hanna akhirnya menurut saja apa kata Reyhan, tidur tanpa sehelai benang, hanya selimut tebal yang menyelimuti mereka.
"Tapi, mbak Ria bagaimana?
" Dia pasti baik-baik saja, sudah jangan bahas dia lagi," Reyhan mendengus kesal. Lagi-lagi Hanna membicarakan Ria.
*
Pagi hari saat semua orang sedang duduk di meja makan, Reyhan dan Hanna baru saja turun dari lantai dua rumah mewah itu. Mereka asik bergandengan tangan layaknya muda mudi yang sedang dilanda kasmaran. Melihat kelakuan Reyhan, Iky sedikit ngeri.
"Ada ya usia juga nggak muda lagi, tapi kelakuan, hemm ...," Iky menjeda ucapannya.
"Usia boleh banyak, tapi semangat harus tetap muda," selorohnya tidak mau kalah.
"Kalau dirumah gue tuh nggak bisa ya manis-manis ke dia, apalagi mesra-mesraan yang ada dia nggak enak terus sama Ria. Kalau disini kan bebas." Reyhan mengecup pucuk kepala Hanna.
"Kan benar, Sayang," ucap Reyhan lagi.
"Sudah-sudah, jadi sarapan nggak nih." Mama Rita sembari menuang nasi ke piring Wisnu, sang suami.
"Mama kayak nggak pernah muda saja," sahut Wisnu.
"Sudah, Pa. Diam!" Ucap Rita lagi.
Seusai sarapan Reyhan dan Hanna langsung pulang kembali ke rumah mereka. Reyhan yang telah berpakaian rapi hanya mengantar Hanna saja sampai rumah, setelah itu dia langsung berangkat ke kantor milik keluarga Ria.
"Sayang, aku nggak turun, Ya. Langsung ngantor saja, sudah kesiangan ini." Reyhan sembari mengecup kening Hanna sebelum Hanna turun dari mobilnya.
"Anak-anak, sekolahnya bagaimana? Be," ucap Hanna.
"Diantar supir saja ya, pak Edi kan ada. Nggak ke buru kalau nunggu anak-anak, pagi ini ada meeting, jadi harus berangkat lebih pagi," terang Reyhan.
__ADS_1
"Ya sudah, hati-hati." Hanna mencium tangan sang suami. Reyhan pun pergi, sementara Hanna kembali ke rumahnya.
Sesampainya di dalam rumah Hanna mencari keberadaan ke dua anak sambungnya itu, setelah mendapati keduanya sedang berganti pakaian Hanna kemudian segera menghampiri kamar Ria. Diketuknya pintu kayu yang terbuat dari kayu jati itu, namun tidak ada suara sahutan dari dalam. Pintunya pun tidak terkunci, Hanna langsung saja masuk ke dalam kamar, dilihatnya ranjang ukuran big size itu. Tidak ada Ria disana, kursi rodanya pun tidak terlihat.
"Mbak, mbak Ria!" Hanna membuka kamar mandi dan nihil, tidak ditemukan siapapun di kamar itu.
Hanna segera berlari keluar kamar mencari Ria di seluruh penjuru rumah, bahkan bibi juga tidak mengetahui keberadaan sang majikan.
"Bi, dimana mbak Ria. Kok di kamarnya tidak ada?" Tanya Hanna.
"Bukannya sama si Riska, Non," ucap Bi Asih.
Hanna pun mencari keberadaan Riska. Di panggilannya nama Ria da Riska namun tidak ada yang menjawab.
*
*
*
Hayo ada yang tahu, dimana Ria dan Riska? Tunggu up selanjutnya ya gaess, jangan lupa tinggalkan jejak ya,
Like
Komen
Vote
Gift
Rate
Favorit.
Jaga kesehatan jangan lupa bahagia, 😘
__ADS_1