
Tubuh Ria sudah semakin lemas, detak jantungnya pun sudah sangat lemah. Namun dokter dengan berbagai cara masih berusaha menyelamatkannya. Di detik berikutnya napas Ria sudah mulai stabil, detak jantungnya pun mulai mengalami peningkatan, usaha suster memasang alat untuk kantong darah juga berhasil. Membuat Dokter dan Suster itu sedikit lega. Walaupun keadaan Ria masih kritis namun masih ada harapan untuk bisa bertahan.
Dokter keluar memberitahu keadaan Ria kepada Reyhan dan Hanna. Walau sangat sulit mengatakan keadaan pasien yang sebenarnya, namun sebagai dokter dia tetap memberi tahu keadaan yang sesungguhnya kepada keluarga pasien.
"Bagaimana keadaan Ria, Dok!" Reyhan berlari menghampiri dokter yang baru saja ke luar dari ruangan itu.
Dokter pun menjelaskan secara mendetail keadaan Ria yang sesungguhnya kepada Reyhan dan Hanna. Mendengar penjelasan itu seketika tubuh Hanna menjadi lemas tak bertulang. Tubuhnya tiba-tiba saja merosot ke lantai, dengan segera Reyhan membantunya untuk bangun. Sementara dokter berpamitan untuk melihat kondisi Ria kembali.
"Be, kasihan Mbak Ria. Lakukan sesuatu, Be." Hanna menangis di pelukan Reyhan.
"Hanya do'a dan keajaiban yang kita tunggu saat ini." Reyhan membelai kepala dengan hijab berwarna hitam itu.
Waktu terus saja berjalan, hingga tiga hari sudah Ria belum sadarkan diri. Hanya masa kritisnya saja yang sudah berlalu. Hanna yang selalu setia menemaninya. Siang malam dia habiskan waktunya di rumah sakit untuk menemani Ria. Hingga suatu ketika Rita marah besar.
"Rey, apa kamu itu tidak kasihan sama Hanna. Dari dulu sampai sekarang kok yo cuma ngerawat Ria aja. Ajak dong jalan-jalan, shopping, bulan madu gitu. Biar Mama ini cepat punya cucu sendiri. Nggak numpang ngaku cucu orang!" Rita dengan mendudukkan bokongnya di kursi makan.
"Sudahlah, Ma. Toh ini semua juga kemauan Hanna. Dia tidak mau kalau orang lain yang ngerawat Ria." Reyhan mencoba menjelaskan kepada sang Ibu.
__ADS_1
"Sejak kamu menikah dengan Ria, apa pernah dia menghargai kamu! Hormati kamu sebagai seorang suami. Yang ada itu kamu cuma di jadiin babu sama dia," ucap Rita.
"Apa kamu tidak ingin bahagiakan Hanna. Kasihan dia Rey, kasihan. Pokoknya Mama mau kamu cari orang lagi buat ngerawat Ria," ucapnya lagi.
"Tapi, Ma. Kalau Hanna menolak bagaimana?" Tanya Reyhan.
"Ya sudah, biar mama saja yang ngerawat Ria, biar dia istirahat. Kasihan!" Rita sambil berlalu dari duduknya.
"Nggak usah, Ma! Nanti mama ke lelahan." Reyhan sembari menyantap sarapan yang ada di meja depannya.
Sementara di balik tembok sepasang manik hitam itu mendengar secara seksama omongan para orang tua. Sehingga membuat hati kecilnya bertanya-tanya.
"Kalau aku dan Hafidz bukan cucu kandung oma Rita, lalu siapa orang tua kandung ku?" Tanya Qila dalm hati.
Dia segera berlari menuju kamar tidurnya yang berjejer dengan kamar Hafidz di lantai bawah. Direbahkannya tubuh mungil itu sambil terus mencerna ucapan oma nya." Siapa aku sebenarnya." Kata-kata itu terus terngiang di pikirannya. Tanpa terasa Aqila meneteskan air mata.
"Aku harus mencari tau yang sebenarnya," ucapnya dalam hati.
__ADS_1
🍂
Sedikit dulu gaess nanti di sambung lagi. Sambil nunggu mampir yuk ke karya teman aku, Senja_90.Ditunggu jejaknya ya gaess.
Kehamilan merupakan sebuah impian besar bagi semua wanita yang sudah berumah tangga.
Begitu pun dengan Arumi. Wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter bedah di salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta. Ia memiliki impian agar bisa hamil. Namun, apa daya selama 5 tahun pernikahan, Tuhan belum juga memberikan amanah padanya.
Hanya karena belum hamil, Mahesa dan kedua mertua Arumi mendukung sang anak untuk berselingkuh.
Di saat kisruh rumah tangga semakin memanas, Arumi harus menerima perlakuan kasar dari rekan sejawatnya, bernama Rayyan. Akibat sering bertemu, tumbuh cinta di antara mereka.
Akankah Arumi mempertahankan rumah tangganya bersama Mahesa atau malah memilih Rayyan untuk dijadikan pelabuhan terakhir?
Kisah ini menguras emosi tetapi juga mengandung kebucinan yang hakiki. Ikuti terus kisahnya di dalam cerita ini!
__ADS_1