Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 51


__ADS_3

Jodoh itu rahasia Tuhan, sekuat apapun kita setia, selama apapun kita menunggu, sekeras apapun kita berusaha, sebesar apapun kita bersabar, sejujur apapun kita menerima, tetap saja Tuhan yang menentukan.


Kita tidak bisa memilih dengan siapa kita berjodoh, tapi kita bisa memilih siapa yang patut untuk dipilih. Jika kau belum menemukan jodoh, maka carilah jodohmu di sepertiga malam. Jika sudah berjodoh, jagalah jodohmu jangan sampai di lirik orang. 🀭


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Selamat membaca.


Hanna yang berada di dalam taksi itu menumpahkan segala kesedihan hatinya dengan menangis. Hingga membuat sang supir takut di buatnya. Untuk menegur pun dia segan. Tidak lama kemudian tangisan itu mulai meredah, kini hanya tinggal sesenggukan yang di dengar.


"Maaf, Mbak! Mbaknya kenapa ya? Saya jadi takut kalau Mbak nangis terus begitu," tanya sang supir.


"Maaf, Pak! Kalau saya mengganggu." Hanna sembari mengusap hidungnya yang terus saja berair.


"Kalau boleh saya tau, Mbak punya masalah apa?" Tanya supir itu.


"Kehidupan rumah tangga yang sangat pelik, Pak! Saya menjadi orang ketiga diantara pernikahan meraka. Sebenarnya saya juga tidak menginginkan itu, Pak. Tapi Tuhan menggariskan lain dalam hidup saya," Hanna menceritakan kehidupan pernikahan yang dia jalani saat ini. Air matanya tidak berhenti menetes. Namun, ada perasaan lega dalam hatinya.


'Maaf, Pak! Kok saya jadi curhat, ya." Hanna sembari mengusap air matanya.


"Tidak apa-apa , Mbak. Kalau Mbaknya tidak keberatan boleh saya memberi masukan," ucap sang supir.


"Silahkan, Pak!" Jawab Hanna.


"Sebenarnya, di sini tidak ada yang salah, hanya saja mungkin waktu yang belum tepat. Suami Mbak butuh kebahagiaan, karena selama pernikahan dengan istri pertamanya dia hanya di perlakukan sebagai suami yang tidak pernah menerima haknya sebagai suami, nafkah batin tidak pernah dia dapatkan dari istri pertamanya. Sementara dia menerima kepuasan batin itu hanya dengan Mbak. Ya seperti yang saya bilang dari awal tadi, waktu saja yang belum tepat. Andai Mbak menikah sesudah suami Mbak bercerai. Mungkin ceritanya akan berbeda.


"Namun setelah mendengar kisah istri pertamanya, kasihan juga, sekarang dia malah tidak bisa apa-apa. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana jadinya kalau saya jadi Mbak. Tapi Tuhan maha adil, Dia tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya." Panjang lebar supir itu memberi masukan dan nasehat kepada Hanna.


"Andai waktu bisa di ulang, aku tidak mau memilih kehidupan seperti ini, begitu banyak hati yang terluka karena aku." Hanna sembari menunduk.


"Mbak jangan pernah putus asa, jalani saja semua dengan baik. Suatu saat, Tuhan pasti akan mengganti semua kesedihan Mbak dengan kebahagiaan yang tak terkira. Kita hanya butuh usaha dan do'a sembari berlapang dada menerima ujian ini dengan baik. Semua pasti akan indah pada waktunya. Mbak yang sabar ya, saya do'akan semoga kebahagiaan segera menghampiri keluarga Mbak."


"Terima kasih, Pak! Sudah mau mendengar keluh kesah saya," ucap Hanna.

__ADS_1


"Sama-sama, Mbak," jawab sang supir.


Tanpa terasa Hanna sudah sampai di depan rumah sang ibu. Dia belum sadar kalau ponsel dengan tas jinjingnya tertinggal di rumah sakit.


"Maaf, tunggu sebentar ya, dompet saya ketinggalan. Saya ambil uang di dalam dulu." Hanna sembari membuka pintu taksi itu.


Beberapa saat Hanna telah kembali, di sodor kan nya uang itu ke pak supir.


"Ini, Pak. Maaf lama nunggunya," terang Hanna.


"Terima kasih, Mbak! Ini kartu nama saya, siapa tau suatu saat Mbak ingin bercerita lagi." Sopir itu memberikan kartu namanya kepada Hanna, dan Hanna pun menerimanya.


"Terima kasih," jawab Hanna.


"Sama-sama, Mbak. Saya pergi dulu," Pamitnya pada Hanna.


Saat ini Hanna telah berada di rumahnya sendiri, sebenarnya dia enggan untuk masuk. Karena sudah bisa dipastikan sang ibu akan memberondong banyak pertanyaan kepadanya. Sementara Reyhan yang kehilangan jejak mengejar taksi yang ditumpangi sang istri sedikit frustasi. Dia berbelok ke arah rumahnya, tapi nihil. Dia tidak menemukan siapapun disana. Hanya ada kedua anaknya sedang bermain diruang tamu.


"Papa, papa sudah kembali, mana mama Hanna? tanya Aqila pada Reyhan.


"Belum, Pa! Qila sama Hafizh di temani bibi doang dirumah. Oma sama Opa juga pergi." Terang Qila.


Mendengar penjelasan dari sang anak membuat Reyhan bertambah frustasi, dia merogoh sakunya ingin menghubungi sang istri. Tapi naas, ponsel sang istri tertinggal di tas jinjing yang dia bawah.


"Hanna pergi ke mana, Kamu! Mama sama papa pasti ngomel kalau tahu semua ini," Selorohnya dalam hati.


"Ya sudah, Papa jemput mama dulu, kalian di rumah baik-baik ya," Reyhan berpamitan kepda anaknya.


Reyhan mengemudi mobilnya sembari menghubungi beberapa teman kenalan Hanna, semua nihil hanya tinggal Aisyah saja yang belum dia telpon, dengan segera diaencari kontak atas nama Aisyah, hingga beberapa saat kemudian panggilan itu di angkat.


"Mas, pak Reyhan kok telpon Aisyah, ada apa ya? "Tanya Aisyah yang sedang duduk di teras rumah dengan Dicky.


" Sini biar aku saja yang angkat." Dicky mengambil ponsel Aisyah itu.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, iya Rey. Ada apa kok loe telpon bini gue?" Tanya Dicky.


"Belum jadi bini kali Ky, masih calon. Ngapain juga loe disana!" Ucap Rey.


"Ngapel lah," jawab Dicky santai.


"Jangan apa-apain itu anak orang, belum sahabat juga," goda Reyhan.


"Eh sudah-sudah, ngapain loe telpon Aisyah," ucapnya pada Reyhan.


"Hanna gue ada disana nggak!"


" Lha, loe gimana sih, sampai kehilangan istri begitu."


"Gara-gara omongan Ria, dia pergi dari rumah sakit. Mana tidak bawah apapun, tas sama ponselnya juga ditinggal," terang Reyhan lesu.


"Bantu cariin," ucap Rey lagi.


πŸ‚


Pembaca yang bijak jangan lupa tinggalkan jejaknya, Terima kasih masih setia dengan ADM. Jangan lupa di akhir cerita ada doorprize ya, yang suka komen sama ngasih gift, siap-siap ya.


Jangan lupa


Like


Komen


Gift


Vote


Rate

__ADS_1


Favorit


Maaf lahir batin ya gaessπŸ™, masih suasana lebaran. Jaga kesehatan jangan lupa bahagia 😘.


__ADS_2