
"Rezeki emang nggak kemana!" Target sudah ditemukan." Dicky sambil merogoh kantong yang berisi ponselnya. Dengan segera dia menghubungi Reyhan.
"Rey... Target sudah di depan mata," ucapnya dalam panggilan telpon itu.
Reyhan yang baru saja mendapatkan telpon, mencoba membuka mata, beberapa kali mengerjapkan mata dan berusaha mencerna dengan baik ucapan Dicky.
Namun setelah kesadaran terkumpul semua setelah istirahat singkat yang dia lakukan, dia segera berajak dari tempat tidurnya.
"Ha... Ok share lock, meluncur!" Rey penuh semangat, walau usianya tidak muda lagi, tapi semangatnya sungguh luar biasa.
Karena waktu sudah beranjak malam, akhirnya Hana dan Aisyah memutuskan untuk kembali ke kerumah. Untuk sementara waktu Hana tinggal dirumah saudara Aisyah.
Keduanya pulang dengan berjalan kaki, karena rumah dan kafe itu jarak nya tidak terlalu jauh.
Sementara Reyhan dengan buru-buru mencari keberadaan Dicky di dalam kafe, begitu menemukan yang di cari dengan segera dia mendatanginya.
"Ky, mana ky!" ujarnya tanpa basa basi.
"Sabar kenapa sih, salam dulu kek, nyerocos aja loe kayak bebek." Dicky sambil mencari sosok yang tadi di lihatnya.
"Lha kok... "Dicky celingukan kanan kiri mencari keberadaan Hana.
" Bentar, loe tunggu disini!" tegasnya.
Dicky berjalan ke arah kasir bertanya kepada pelayan disana, berharap apa yang di carinya masih berada didalam sana.
"Mbak! Dua cwek yang tadi duduk disana ke mana ya?" Dicky menunjuk kearah kursi kosong di ujung ruangan.
"Sudah keluar, Mas! Beberapa menit yang lalu," jelas pelayan.
Tanpa permisi Dicky langsung pergi meninggalkan pelayan itu dengan sedikit berlari hingga keluar kafe. Sementara Reyhan yang melihat kelakuan Dicky sudah menduga, kalau targetnya sudah pergi meninggalkan kafe itu.
"Gagal loe dapat bonus," ucapnya Rey saat Dicky sudah kembali duduk di depannya.
"Gara-gara loe kelamaan!" Dicky mempertegas ucapannya.
__ADS_1
"Nggak becus aja loe, bukan salah gue itu.
Reyhan dan Dicky sudah berteman akrab sejak mereka duduk di bangku SMP, Dicky orang yang suka blak-blakan, sementara Reyhan orang yang super pendiam.
Setelah kedua orang tua Dicky meninggal dia di asuh oleh orang tua Rey, karena sedikit banyak mereka masih kerabat jauh. Dulu sebelum meninggal papa Dicky juga bekerja di perusahaan milik keluarga Rey.
Hingga saat ini Dicky dan Rey sudah seperti saudara kandung.
"Pokoknya, gue nggak mau tau! Besok loe cari dia sampai ketemu." Rey beranjak dari tempat duduknya.
"Dasar atasan gila!" Cari dimana coba, cuma tau namanya saja, orangnya pun taunya sekilas.
Dicky masih bertahan dengan menyeruput kopi yang sudah semakin dingin itu, sambil memikirkan bagaimana cara agar bisa menemukan HannaHanna dengan segera.
"Yes!" Ucapnya penuh semangat sambil melangkah kearah kasir. Membayar pesanan kopi yang telah tandas itu.
"Mbak! Disini ada CCTV-nya nggak?" Tanya Dicky.
"Ada, Mas!" Jawab sang pelayan.
"Boleh, Mas. Mas bisa minta bantuan sama bapak itu saja." Pelayan menunjuk kesalah satu petugas keamanan yang berada di ujung ruangan itu.
"Ok! Terima kasih ya mbak." Dicky sambil berlalu.
Dicky mendatangi petugas keamanan yang berada di depan pintu masuk, setelah beberapa saat memberikan penjelasan akhirnya dia diizinkan untuk melihat layar rekaman itu. Dia berharap bisa menemukan petunjuk dimana tempat dia tinggal, paling tidak bisa lihat nomor plat motor atau mobil yang digunakannya.
"Hufffttt... "
Dicky membuang nafas kasar, karena yang diharapkan justru tidak membuahkan hasil seperti yang diinginkan. Hampir saja dia frustasi dengan semua itu. Namun, berkat saran dari petugas keamanan dia kembali bersemangat.
"Mas cari cewek ini?" Tanya petugas itu sambil menujuk ke monitor.
"Iya, jawab Dicky.
Setelah mengamati beberapa saat akhirnya petugas itu memberi saran kepada Dicky untuk mencarinya di masjid yang tak jauh dari kafe.
__ADS_1
Secara di layar monitor keduanya terlihat berjalan ke arah masjid itu.
" Wao... Terima kasih, Pak! Dicky segera berjalan keluar dari ruangan itu.
Beberapa menit kemudian, Dicky telah sampai di pelataran masjid yang dimaksud, dengan segera dia turun dari mobilnya. Belum sempat melihat ke dalam masjid, target yang dia cari sudah berjalan keluar.
"Pucuk dicintai ulam pun tiba." Dicky dengan segera masuk kedalam mobil. Di ikuti nya kedua gadis itu dengan hati-hati, sambil terus fokus memperhatikan target.
Keduanya telah sampai di depan rumah, Hanna dan Aisyah masuk kedalam rumah itu.
"Lho! Itu kan rumah pak Alif. Mereka siapanya pak Alif." Dicky berbicara sendiri.
Setelah mengetahui tempat tinggal Hanna, Dicky segera kembali mendatangi rumah Reyhan. Sesampainya disana, Dicky menjelaskan semua informasi yang telah dia dapatkan.
"Jadi, mereka tinggal dirumah pak Alif?" Tanya Rey.
"Iya, coba tanya saja sama pak Alif. Siapa tau dapat informasi lebih dari sana.
" Loe aja ya yang tanya gue males," papar Rey.
"Gengsi noh, gedein. Gimana mau dapat tuh cewek, kalau loe gengsian." Dicky sambil berdiri dari duduknya.
*
*
*
Rey kok... Cuma tanya doang aja, nggak mau. Hemm, dah lah tunggu up besok. Kira-kira Rey mau nggak ya, 🤔
Maaf gaess telat up, othor lagi oleng 🤭
Terima kasih, masih setia sama ADM, jangan lupa tinggalkan jejak ya gaesss. Like, Komen, Gift, Rate ⭐5, juga jangan lupa di Favorit kan.
Jangan lupa apa lagi gaess, tetap jaga kesehatan jangan lupa bahagia
__ADS_1