
Ke esokan harinya, Reyhan dan Hanna sudah mengambil keputusan. Hanna akan tetap tinggal di kota kecil itu, sementara Reyhan akan membagi waktu antara Hanna dan Ria. Hanna pun tidak keberatan dengan keputusan Reyhan.
"Be, aku tinggal dulu ya. Nanti jam makan siang aku kembali." Pamit Hanna sembari mengambil ponsel yang terletak di atas meja.
"Apa kamu tidak bisa izin dulu, Sayang. Temanin aku dulu, besok aku harus kembali ke Jakarta," pinta Reyhan.
"Nggak bisa, Be. Cuma sebentar saja kok. Jangan manja deh, kemarin juga hampir sebulan nggak ketemu, kamu masih baik-baik saja, kan." Hanna mendekat ke arah Reyhan.
Dua jam sudah Hanna meninggalkan Reyhan sendirian. Merasa jenuh akhirnya Reyhan memilih untuk keluar kamar. Di lihatnya pemandangan yang tampak indah di sepanjang pantai. Sontak dia teringat akan sangat mama. Dengan segera dia mengambil ponsel dan melakukan pangggilan vidio.
"Assalamu'alaikum, Ma!" Sapa Reyhan.
"Waalaikumsalam, lho! Kamu ada dimana itu Rey? Kok, liburan nggak ajak-ajak, Mama?" Tanya Rita.
"Siap juga yang liburan, Ma. Reyhan nyusulin Hanna, tapi yang di jemput tidak mau pulang," terang Reyhan.
"Lha, terus."
"Sudah nanti Rey ceritakan semua. Sekarang Rey mau nikmati dulu honeymoon sama Hanna." Reyhan sambil cengegesan.
"Oh, jadi ini cerita honeymoon. Ya sudah, jangan lupa pulang bawahkan Mama cucu," goda Rita.
"Ya sudah, Mama baik-baik ya. Besok Rey pulang, titip anak-anak," pamit Reyhan.
*
Jam satu siang, Hanna baru saja keluar dari tempat kerjanya. Hari ini dia meminta izin untuk kerja setengah hari. Karena ingin menemani Reyhan sebelum dia kembali lagi ke Jakarta.
Seusai membersihkan diri, dia langsung menuju ka penginapan Reyhan. Hanna dengan segera memasuki ruangan VVIP itu. Dilihatnya kesegala arah, namun dia tidak menemukan keberadaan Reyhan. Dengan segera dia menghubungi Reyhan. Namun naas ponsel Reyhan tergeletak cantik di atas nakas.
"Ya uda, mending aku istirahat saja, paling sebentar lagi juga datang." Hanna membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
__ADS_1
Reyhan berjalan ke mes tempat Hanna tinggal, dia menanyakan keberadaan Hanna kepada temannya. Namun saat mendapat jawaban Hanna telah pergi beberapa saat lalu, dia tidak segera kembali ke kamarnya. Melainkan pergi ke tempat para penjualan souvenir berada.
"Ponsel ku." Reyhan merogoh kantong celananya.
"Pasti ketinggalan ini, tadi habis telpon mama kan aku taruh di kamar," Reyhan bermonolog.
Dengan segera dia membayar beberapa barang yang telah dia beli. Kemudian kembali menuju tempatnya menginap. Begitu sampai di kamarnya dia tersenyum melihat sang istri ternyata telah menunggunya.
Reyhan mendekati Hanna, mengusap kepala kemudian mengecupnya sekilas. Reyhan tersenyum melihat sang istri begitu pulas dengan tidurnya. Hingga sentuhannya tidak membuat Hanna terbangun.
"Istirahat lah, karena nanti malam aku tidak akan membiarkan kamu bisa tidur dengan nyenyak." Reyhan kembali mengecup kali ini bibir ranum Hanna yang menjadi tujuannya.
Hingga beberapa menit berlalu, Reyhan sudah selesai dengan ritual membersihkan dirinya. Kini dia sedang asik memandangi wajah ayu sang istri sambil sesekali membelai dan mengecupnya. Hanna melenguh, saat merasakan ada yang menyentuh bibirnya, dengan segera dia membuka mata.
"Be." Hanna tersenyum ke arah Reyhan.
"Sudah bangun, Sayang." Reyhan mengulas senyum.
"Dua jam yang lalu," jawab Reyhan.
"Kok nggak di bangunin," protes Hanna.
"Kamu tidurnya pulas banget, pasti capek kan. Jadi aku nggak tega buat bangunin kamu." Reyhan sembari memainkan tangannya ke arah wajah Hanna.
"Ya sudah! Kita jalan-jalan, mau!
" Boleh lah, sambil cari makan. Sudah lapar ini." Reyhan memegang perutnya yang sejak tadi mulai keroncongan.
Setelah selesai beberes keduanya berjalan santai menyusuri pantai. Sesekali mereka berlarian kecil. Reyhan terus saja memegang tangan sang istri, seakan Hanna takut hilang seperti anak kecil.
Setelah puas dengan berjalan di pinggir pantai, keduanya mencari wisata kuliner di sekitaran resort. Masih dengan menu favorit Reyhan, seafood. Semua terhidang dengan rapi di atas meja, keduanya menikmati makan siang menjelang sore itu sambil menikmati indahnya bentangan pasir putih di sepanjang garis pantai.
__ADS_1
Malam pun tiba, Reyhan tidak menyia-nyiakan malam terakhirnya dengan Hanna. Keduanya menikmati malam hanya di dalam kamar saja. Reyhan tidak berhenti menggoda sang istri, hingga Hanna sebal di buatnya.
"Be, lepasin deh. Gerah tau nempel terus." Hanna mencoba melepaskan pelukan Reyhan.
Sejak kepulangan mereka tadi sore Reyhan tidak melepaskan Hanna sedetikpun. Hingga suara nyaring ponselnya juga di abaikan begitu saja.
"Be, ponsel kamu bunyi tuh. Angkat dulu siapa tau penting," rengek Hanna.
"Udah." Bukannya di angkat, Reyhan malah mematikan ponselnya.
Keduanya menikmati malam ini dengan begitu bahagia, Reyhan berjanji kepada Hanna dia akan sering datang mengunjungi sang istri. Tidak hanya itu saja dia juga berjanji akan mencari jalan terbaik diantara hubungan mereka.
🍂
Kasih komen dong gaess, Reyhan sebaiknya gimana ya, pilih salah satu atau menceraikan salah satu, atau tidak dua-duanya. 🤭
Sambil nunggu up selanjutnya jangan lupa mampir ke karya teman Syfa ya, Lidiawati06 dengan judul Legenda Sang Dewi Alam Luxia. Di tunggu jejaknya ya gaesss, Like, Komen, Gift, Rate, Vote, Favorit.
Blurb
Luxia di lahirkan dengan tanda lahir Burung Phoniex di sebelah lengan kirinya, dan dia di takdirkan menjadi seorang penyelamat.
Meskipun ayahnya seorang kaisar, Luxia harus tetap berhati-hati demi keselamatannya dari musuh yang siap menyerang dan mengendalikan kekuatan yang dia miliki, agar tidak berubah menjadi iblis sang penghancur dunia apa yang harus Luxia lakukan?
Akan tetapi dengan kemampuan yang dia miliki, meski banyak ancaman yang datang kapan saja apakah Luxia akan berhasil menyelamatkan dirinya dari seorang yang berniat jahat?
Berhasilkah Luxia menyelamatkan dunia dan tidak harus menjadi seorang iblis penghancur?
Apakah yang akan Luxia hadapi nanti? dan bagaimana cara Luxia menyelamatkan dunia dan menjaga dirinya agar tak menjadi iblis sang penghancur? saksikan perjalanan Luxia
__ADS_1