Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 32


__ADS_3

Keesokan paginya, Hanna benar-benar pergi meninggalkan rumah mewah milik keluarga Reyhan. Walau sebenarnya berat apalagi meninggalkan kedua anak sambungnya itu.


"Hanna, mau kemana kamu, Nak! Kok pagi-pagi begini sudah bawah koper." Rita sembari mendekati Hanna.


"Untuk beberapa hari Hanna akan tinggal dirumah mama Rika, sudah lama juga Hanna tidak berkunjung, Ma," jelas Hanna.


"Kamu tidak ada masalah dengan Reyhan kan, Na?" tanya Rita lagi.


"Nggak kok, Ma. Semua baik-baik saja." Hanna sambil tersenyum.


"Ya sudah! Hati-hati, dan cepat pulang. Anak-anak pasti akan merindukan mu.


" Iya, Ma. Do'akan semua segera membaik. Dan Hanna akan cepat pulang." Hanna mengulurkan tangan mencium tangan mertuanya itu.


"Assalamu'alaikum," Hanna berpamitan.


"Waalaikumsalam," jawab Rita.


Reyhan yang masih tidur tiba-tiba saja terbangun, mencari sosok perempuan yang sejak semalam tidur di sampingnya.


"Sayang!" Reyhan mencoba membuka mata yang masih sedikit berat.


"Kok nggak ada. Apa sudah bangun." Reyhan segera bergegas kekamar mandi, setelah selesai barulah dia mencari keberadaan sang istri.


" Ma, Hanna dimana?" Tanya Reyhan pada sang Mama.


"Dia tadi bawah koper katanya mau berkunjung kerumah mamanya." Jawab Rita sambil menata makanan untuk sarapan.


Reyhan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil ponsel yang tertinggal diatas nakas.


Dengan segera Reyhan menghubungi sang istri.


Panggilan pertama tidak ada jawaban, panggilan kedua pun sama hingga akhirnya panggilan ketiga barulah di jawab panggilannya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, iya, Be." Hanna memulai obrolannya.


"Sayang, kenapa tidak menunggu ku bangun, aku kan bisa mengantarkan kamu pulang. Nanti mama berpikiran macam-macam kalau kamu datang sendirian," cerocos Reyhan.


"Apa sih, Be. Nggak usah dipikirkan, lagian aku juga sudah sampai rumah. Ini, baru saja sampai," jelas Ria dengan santai.


"Ya sudah, bentar lagi aku susulin."


"Nggak usah, Be. Aku ingin menenangkan diri dulu. Kamu juga selesaikan masalah kamu sama mbak Ria, biar kita semua sama-sama enak dan tidak ada lagi yang saling menyakiti.


Reyhan terdiam, semua perkataan Hanna benar adanya, membuat kedua istrinya akur itu sangatlah tidak mungkin. Apalagi sifat Ria yang sedikit arogan membuat siapapun enggan untuk berteman dengannya.


"Ya sudah, kalau itu kemauanmu, aku bisa apa," ucap Reyhan dengan sedikit lesu.


"Kamu baik-baik ya, jaga anak-anak, aku tutup telponnya, Assalamu'alaikum." Hanna mengakhiri panggilan telponnya.


Setelah mengakhiri panggilan itu Reyhan duduk di balkon sambil melihat indahnya pemandangan di pagi hari. Sejenak dia memikirkan akan semua masalah yang saat ini sedang dia hadapi.


"Tuhan, andai aku bisa memilih, aku memilih tidak mengenal mereka. Kasihan Hanna, terlalu banyak beban yang dia pikul karena menikah dengan ku." Reyhan melihat foto Hanna di layar ponselnya.


Hari menjelang sore, Ria yang sejak pagi tidak keluar kamar akhirnya luluh juga, perutnya yang keroncongan, membuat dia harus mengalah demi cacing-cacing yang minta di beri asupan. Ria berjalan menuju dapur mewah dirumahnya.


"Nyari apa, Non?" tanya Ani, bibi yang bekerja dirumah itu.


"Lapar, Bi," jawab Ria.


"Sebentar, Bibi panaskan dulu, Non." Sambil memasukkan makanan kedalam microwave.


Sambil menunggu masakannya, Ria merenung. Reyhan, Alvin, mana yang harus dia perjuangkan, Alvin dia laki-laki yang tidak bisa diajak berkomitmen, dia hanya mau sama uangnya saja. Sementara Reyhan yang sejak dulu setia kepadanya malah di telantarkan begitu saja.


"Sudah, Non." Bi Ani membuyarkan lamunannya.


"Oh, terima kasih,Bi.

__ADS_1


Ria menikmati makannya, namun di sela-sela makan dia teringat akan Reyhan, yang selalu menemaninya, bahkan melayani dia makan.


" Rey, maafkan aku," ucapnya dalam hati.


Ria sudah tidak ada selera makan lagi, hanya beberapa suap saja makanan yang masuk kedalam mulutnya. Dalam benaknya hanya ada Reyhan.


"Oh Tuhan, rasa apa ini sebenarnya."


Ria meneteskan air mata, dia mengingat perlakuannya selama ini kepada Reyhan." Maaf Rey, maafkan aku." Ria semakin merasa bersalah.


"Aku harus menemui Reyhan, minta maaf kepadanya. Siapa tau saja dia berubah pikiran, dan tidak jadi menceraikan ku." Ria bergegas ke kamarnya.


"Rey, pokoknya kamu harus tetap menjadi milik ku, apapun yang terjadi. Jika aku tidak bisa memilikimu lagi, akan ku pastikan tidak akan ada wanita lain juga yang bisa memilikimu.


***


Ria yang egois mulai berulah, akan kah Reyhan mau menerima Ria sebagai istrinya lagi, atau akan tetap menceraikannya? tungguin terus update selanjutnya ya gaess...


🍂🍂🍂


Maaf gaes kemarin nggak up, tapi akan Syfa usahain hari ini bisa up dobel ya, Terima kasih, masih setia ngedukung karya receh ini. Jangan lupa dukungannya ya gaess,


Like


Komen


Gift


Vote


Rate


Di tunggu jejaknya,

__ADS_1


Selamat menunaikan ibadah puasa. Jaga kesehatan jangan lupa bahagia 😘


__ADS_2