
Hidup itu bukan tentang seberapa banyak orang yang mencintaimu. Bukan pula seberapa hebat orang memujimu. Tapi, bagaimana kamu dapat menyentuh hidup orang lain dan menjadikannya lebih baik, sehingga kehadiranmu menjadi bermakna dan bermanfaat.
Alhabib Quraisy Bharun.
🍂🍂🍂
Selamat membaca
Setelah melihat keadaan Ria, Bram di pindahkan lagi ke ruangannya. Masih sama dengan yang sebelumnya, dia dipindahkan menggunakan Brangkar, jangankan untuk berjalan, duduk saja dia tidak mampu. Sesampainya diruang tempatnya dirawat, mendadak dia merasakan sesak napas yang begitu teramat menyiksa, Reyhan dan Hanna yang menyaksikan kejadian itu segera memanggil dokter. Reyhan berlari mencari dokter, sementara Hanna terus memegangi tangan Bram sembari memanggilnya.
"Om, om kenapa? Hanna terus mengusap tangan itu.
" Dokter cepat dok! " Teriak Hanna sesaat melihat napas Bram mulai meredah. Namun rasa khawatir terus saja menghantui Hanna.
"Silakan kalian tunggu di luar dulu, biar kita yang menanganinya," ucap seorang suster yang baru saja masuk. Reyhan dan Hanna pun keluar mengikuti perintahnya.
"Semoga baik-baik saja." Reyhan mendudukkan bokongnya di kursi tunggu di depan ruangan itu.
Dokter sedang berusaha semaksimal mungkin menangani Bram, berbagai macam cara dilakukan agar keadaan Bram tidak kembali menurun, bahkan langkah terakhir pun dilakukan oleh dokter dan perawat itu. Alat pemicu jantung pun akhirnya digunakan.
"Nihil, Dok!" Suster itu memberi tau.
"Sekali lagi," kembali dokter memberikan tekanan di atas dada Bram.
Hingga beberapa menit berlalu. "Bagaimana, Sus?" Tanya dokter itu lagi.
"Masih sama, Dok." Jawab suster sembari mengamati alat-alat medis itu.
__ADS_1
Tiittt ...
"Lewat, Dok!" Ucap sang suster.
"Innalillahi," ucap dokter itu lagi.
"Siapkan semuanya Sus, Saya akan memberitahu keluarga pasien." Dokter sambil melepas stetoskop yang bertengger di lehernya.
Mengetahui dokter keluar, Reyhan dan Hanna segera berjalan menghampirinya. Tanpa ragu lagi Reyhan langsung menanyakan keadaan Bram.
"Bagaimana keadaan pak Bram, Dok!
" Maaf Pak Reyhan, kita sudah mengupayakan yang terbaik buat beliau, tapi Tuhan berkehendak lain. Dengan berat hati saya harus mengatakan bahwa beliau telah meninggal," terang dokter itu.
Seketika Reyhan dan Hanna lemas dibuatnya. Betapa tidak, Bram yang baru saja memintanya untuk menjaga Ria dan menitipkan kedua cucunya kini telah tiada.
Sejatinya Maut, jodoh, dan rezeki, memang tidak bisa di sangka-sangka datangnya. Kita hanya bisa berdo'a kapanpun Izrail menjemput kita, kita tetap harus siap. Begitupula jodoh, tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak berjodoh, mungkin mereka memang belum dipertemukan, karena setiap jodoh sudah tertulis di lauhul mahfudz. Bersabarlah, tikung di sepertiga malam, pasti jodohmu akan segera datang. Begitupun rezeki, setiap manusia yang terlahir, hingga nanti menemui ajalnya, sudah di bekali dengan rezeki. Jangan ragu tentang semua yang kita butuhkan, semua sudah tersedia, tinggal bagaimana kita menyikapi. Jalani, nikmati alurnya, sembari menikmati hasil yang kita dapatkan.
.
"Sayang, sebaiknya kamu di rumah saja, ya. Kamu kelihatan capek banget." Reyhan menoleh ke arah Hanna.
"Sudah, Be. Nggak apa kok. Aku baik-baik saja." Hanna tersenyum kepada Reyhan.
"Ya sudah, kamu istirahat ya. Tidur di sana saja." Reyhan menunjuk sofa panjang di depannya.
.
__ADS_1
Sementara Dicky yang berada di kamar tidurnya menggerutu tidak karuan, pasalnya dia akan segera kembali ke Surabaya. Namun, karena begitu banyak persoalan yang menimpa Reyhan, sehingga dia harus menunda dan menunda lagi niatnya untuk melamar Aisyah.
"Bisa jadi bujang lapuk bener ini, gue. Malu juga sama keluarga Aisyah, mana sudah janji. Au datang lagi," gerutunya, namun masih bisa di dengar oleh orang yang baru saja datang.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Rita, yang baru saja pulang dari rumah Ria.
"Ma, gimana dengan rencana Iky. Nggak enak sama keluarga Aisyah, Ma. Mereka sudah terlalu lama menunggu." Iky menghela napas panjang.
"Sabar, nanti malam saja ya. Mama akan sempat kan waktu melamar Aisyah untuk kamu. Telpon Aisyah, nanti malam kita kesana." Rita mengelus rambut anak sulungnya itu.
"Terima kasih, ya Ma. Maaf Iky selalu merepotkan keluarga," ucapnya sendu.
🍂🍂🍂
Kita tinggalkan Reyhan sejenak ya gaess, kasihan Iky. Nanti jadi bujang lapuk beneran. Aisyah juga keburu di tikung orang. 🤭
Pembaca yang bijak jangan lupa tinggalkan jejak ya gaess.
Like
Komen
Gift
Vote
Rate
__ADS_1
Favorit
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Tetap jaga kesehatan jangan lupa bahagia ya😘