
"Jatuh hati tidak bisa memilih. Tuhanlah yang memilihkan. Kita adalah korban... Kecewa adalah konsekwensi, sedangkan Bahagia adalah bonus."
By, Sujiwo Tedjo.
π
Mencintai itu memang mudah, tapi aku baru sadar, bertahan dengan mencintai tanpa balasan itu bodoh. Karena sudah menyiksa diri sendiri, menahan sakit sendiri, dan tidak memberikan diri sendiri kesempatan untuk bahagia.
πππ
Sementara di Surabaya sepasang sejoli yang sedang di mabuk asmara sedang merencanakan kepergiannya ke Ibukota. Meminta restu kepada orang tuanya untuk segera melangsungkan pernikahan. Siapa lagi kalau bukan Dicky dan Aisyah. Sejak kepergian Reyhan dan Hanna, Dicky dengan gencar melakukan pendekatan kepada Aisyah. Tanpa diketahui ternyata Aisyah juga memiliki rasa yang sama kepada Dicky.
"Syah, penerbangan kita jam satu siang, kamu siap-siap ya, sebentar lagi aku jemput," Dicky lewat panggilan via ponselnya.
"Ini sudah siap, tinggal otewe saja," jawab Aisyah.
Perjalanan Surabaya-Jakarta sudah mereka tempuh, kini tinggal menunggu Reyhan yang akan menjemput keduanya di Bandara. Bolak-balik Dicky melihat jam di tangannya, sudah hampir tiga puluh menit mereka berdua menunggu, namun Reyhan yang sudah berjanji menjemput tidak kunjung datang.
"Mas, apa kita naik taksi saja, mungkin mas Reyhan sedang ada kesibukan yang tidak bisa ditinggal," Aisyah mencoba memberi masukan.
"Sebentar, aku coba telpon Reyhan dulu, siapa tau sudah di jalan." Dicky mengambil ponselnya dan segera menghubungi Reyhan.
Setelah beberapa kali panggilan, tetap saja nihil. Tidak ada jawaban dari Reyhan." Kok tumben ya, nggak di angkat." Dicky melihat kearah Aisyah.
"Aku pesan taksi online saja ya, Mas.
Dicky hanya mengangguk, kecewa kepada Reyhan. Padahal kemarin yang antusias menjemput dirinya adalah Reyhan.
" Yuk!" Dicky mengajak Aisyah masuk kedalam taksi online yang baru saja datang.
Setelah beberapa menit akhirnya sampai juga di rumah Aisyah." Mas Dicky, mau mampir dulu apa langsung pulang?" Tanya Aisyah.
"Langsung pulang saja ya, besok saja kemari, sekalian sama mama dan papa," ujar Dicky.
"Ok, terima kasih, Aisyah masuk dulu, Mas." Aisyah melangkah keluar dari taksi itu. Sementara Dicky melanjutkan perjalanannya kerumah Reyhan. Dia harus harus meminta izin kepada kedua orang tua angkatnya itu.
Sesampainya di halaman rumah mewah itu, Dicky segera turun, dilihatnya rumah begitu sepi. Hatinya mulai gelisah." Pada kemana kok sepi banget, ya."
"Bi... Bibi... " Dicky mencari keberadaan asisten rumahnya.
"Lho Den, kapan datangnya?" Tanya bi Asih asisten rumah itu.
"Barusan, Bi. Kok sepi pada kemana, Bi?" Tanya Dicky lagi.
"Itu Den, bapak keluar kota, ibu sama mas Reyhan lagi nganterin Mbak Hanna kerumah sakit, tadi habis di srempet orang, Den." Terang bi Asih.
"Keserempet!
" Iya Den, saat nunggu taksi di depan swalayan," jelas bi Asih.
"Sudah lama perginya, Bi!
__ADS_1
" Sudah, Den. Mungkin sebentar lagi sudah datang," terang bi Asih lagi.
"Ya sudah kalau begitu saya pamit ke atas dulu." Pamit Dicky sebelum akhirnya pergi meninggalkan bi Asih.
Deru mobil terdengar hingga kamar Dicky, dia segera bergegas turun. Dilihatnya Reyhan, Hanna dan sang ibu sambungnya telah datang.
"Assalamu'alaikum, Ma!" Sapanya pada Rita.
"Waalaikumsalam, Dicky! Kesayangan Mama kok pulang nggak bilang-bilang.
" Sudah bilang, Ma. Suruh jemput juga. Ya karena sudah punya gandengan baru, jadi Iky terabaikan." Dicky sambil melirik Reyhan.
"Gue panik, dudul. Bini gue jatuh, nih kalau nggak percaya. Terus mana ada telpon, chat juga nggak ada."
"Lihat dulu hp loe," tukasnya.
"He he he... Mati." Reyhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sudah-sudah, Mama mau masuk dulu. Dengerin kalian nyerocos pusing Mama." Rita menarik pelan Hanna, dibawahnya ke arah meja makan.
"Bi Asih, sudah masak?
" Sudah, Bu! Ini baru selesai." Jawab bi Asih sambil menata piring diatas meja.
"Mas Reyhan, sama mas Dicky." Hanna hendak berdiri memanggil keduanya, namun dilarang oleh Rita.
"Sudah biarin saja, ntar kalau lapar juga pasti nyusul, biasa kalau lama nggak ketemu ya seperti itu. Selalu saja ada yang di perdebatkan." Rita sembari memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Mentang-mentang punya anak perempuan, kita yang laki terabaikan," Reyhan menggoda wanita yang sudah berusia matang namun tetap terlihat cantik itu.
"Iya, ya. Kita terabaikan," Dicky menimpali.
"Bi Asih, anak-anak sudah makan?" Tanya Rita kepada bi Asih.
"Sudah, Bu. Habis makan mereka langsung tidur," terang bi Asih.
"Bi Asih jangan lupa makan, sini bareng kita," ajak Reyhan.
"Iya Den, nanti saja.
" Sudah bi, sini makan bareng kita," Rita menimpali.
Mereka akhirnya menikmati makan malam itu bersama-sama. Tidak lama kemudian Ria datang. Membuat suasana makan malam itu menjadi kacau.
"Hallo Ma, apa kabar?" Ria mendekati Rita, namun Rita langsung mencegahnya.
"Hallo, Sayang. Kenapa kamu lama tidak pulang, aku kangen." Ria bergelayut di lengan kiri Reyhan sementara Hanna duduk di sebelah kanan Reyhan.
Reyhan yang sedang asik menyuapi Hanna tidak menghiraukan kedatangan Ria. Dicky yang tidak pernah sekali pun bertemu dengan Ria merasa eneg melihat wanita itu.
"Pingin tertawa tapi takut dosa," ujar Iky dalam hati.
__ADS_1
"Ih manja amat sih, makan aja minta disuapin. Mana suamiku lagi yang suapin."
"Deg." Hati Hanna mencolos mendengar ucapan Ria.
"Sudah, Be." Hanna menolak suapan dari Reyhan.
"Sayang, nggak usah di dengar. Anggap saja lalat sedang menempel. Bawah penyakit."
Ria tidak menghiraukan ucapan dari Reyhan, dia malah meminta di ambilkan piring.
"Bi, ambilkan piring dong, aku lapar mau makan juga." Perintahnya kepada bi Asih.
"Nggak usah di ambilin bi, makannya selesaikan dulu, kalau lapar biar ambil sendiri," ucap Rita ketus.
Ria berdiri dan segera mengambil piring di rak piring, sementara Hanna yang sudah selesai makan meminta izin untuk pergi ke kamarnya.
"Sudah ya, Be. Aku ke atas dulu," Hanna berpamitan.
"Iya, istirahat saja, sebentar lagi aku menyusul," jawab Reyhan.
Ria mengambil nasi, dan beberapa lauk diatas piringnya. Tanpa basa-basi dia memasukkan makanan itu kedalam mulutnya.
"Mas Rey, suapin aku juga dong. Aku kan juga istri kamu," pinta Ria.
Reyhan tidak menggubris, dia fokus dengan makanannya sendiri. Sementara Dicky yang melihat kelakuan Ria ingin segera tertawa.
"Dasar nggak tau malu, pantesan Reyhan ogah sama dia," ujar Iky dalam hati.
Rika yang sudah menyelesaikan makannya segera beranjak pergi dari meja makan itu, nafsu makannya seketika menghilang melihat kelakuan Ria.
Dicky pun demikian, setelah menghabiskan makanan dia segera pergi, karena sudah tidak sanggup lagi mendengarkan ocehan unfaedah yang Ria ucapkan.
"Bisa diam nggak!" Bentak Reyhan.
Seketika Ria berhenti berbicara, makanan yang ada di piringnya juga tidak dia habiskan. Dia terkejut melihat Reyhan membentaknya. Karena selama ini Ria tidak pernah sekalipun mendapatkan kata-kata menyakitkan dari mulut Reyhan. Apapun yang dia inginkan selalu dituruti oleh Reyhan, bahkan sering kali dia memarahi ataupun membentak Rey tanpa belas kasihan. Kini Ria merasakan betapa sakitnya ketika mendapatkan sebuah bentakan.
"Maafkan aku Rey."
πππ
Pembaca yang bijak jangan lupa tinggalkan jejak ya, terima kasih. Jangan lupa
Like
Komen
Gift
Rate
Vote
__ADS_1
Favorit
Ditunggu jejaknya. Jaga kesehatan dan jangan lupa bahagiaππ