
"Siapa wanita itu?" Ria bermonolog.
Reyhan merangkul Hanna, mengajaknya masuk kedalam rumah mewah itu. Sesampainya di dalam, sang mama sangatlah senang melihat kedatangan Hanna dan Reyhan.
"Assalamu'alaikum, Ma," sapa Hanna.
"Waalaikumsalam, Sayang. Bagaimana kabar kamu? Tanya sang Mama.
" Baik, Ma. Anak-anak pada kemana, kok sepi." Hanna celingukan mencari keberadaan anak sambungnya itu.
"Lagi belajar di kamarnya, Nak. Sudah duduk saja dulu." Rita mengajak Hanna untuk duduk.
Sementara Ria masuk ke rumah Reyhan dengan diam-diam. Di amatinya mertua dangan madunya itu, menguping pembicaraan antara Rita dan Hanna. Tanpa di sadari Wisnu datang dari arah luar.
"Ngapain ngendap-ngendap disini, masuk saja. Semua sedang berkumpul di dalam," Ajaknya pada Ria.
"Eh, Papa. Sejak kapan Papa ada di sini.
" Sejak kamu berdiri di belakang tembok itu." Wisnu menunjuk tembok dan melangkah pergi.
Akhirnya Ria mengikuti Wisnu yang masuk ke ruang tengah. Dilihatnya Rita begitu akrab dengan Hanna, membuat dia semakin bertanya-tanya. Siapakah wanita muda itu?
"Lho! Ngapain kamu masih disini, bukannya tadi sudah balik. Apa ada yang ketinggalan?" Tanya Rita.
"Rey uda balik, jadi aku mau jemput dia. Kan sudah berapa bulan dia nggak pulang. Papa juga mencarinya. Apa ada yang salah!" ucap Ria.
"Salah, banyak salahnya malah. Sudah, mending kamu balik saja. Toh Rey juga nggak bakal balik lagi ke rumah yang bak neraka itu," ucap Rita tidak mau kalah.
Ria berjalan menuju kamar Reyhan, sambil terus berteriak memanggi-manggil nama Reyhan.
"Rey, Reyhan! Teriak Ria menggema di seluruh penjuru rumah.
Merasa ada yang memanggil, Rey segera beranjak dari kamarnya. Mencari sumber suara yang terus saja memanggil namanya.
"Siapa lagi?" Tanya Reyhan sembari berjalan keluar dari kamarnya.
"Oh, kamu! Ada apa kesini," ucap Reyhan lagi.
__ADS_1
"Rey, kamu itu jangan lari dari tanggung jawab dong, enak aja main pergi. Di cariin sama papa, tuh," Ria dengan nada mulai meninggi.
"Bukannya udah nggak butuh lagi ke aku, kamu sendiri kan yang bilang." Reyhan sembari berjalan.
"Reyhan! Pokoknya gue nggak mau tau, malam ini juga loe harus pulang, sebelum papa murkah," ucap Ria memaksa.
Reyhan terdiam, memikirkan apa yang harus dia lakukan. Kalau dia pergi berarti dia harus meninggalkan Hanna, Bagaimana dengan perasaan Hanna? Tapi, kalau tidak pergi semua masalah tidak akan pernah selesei.
Cukup lama Reyhan terdiam, dia terus saja berjalan meninggalkan Ria yang ada di belakangnya. Sesampainya diruang tengah Reyhan duduk di kursi yang bersebelahan dengan Hanna.
"Bisa ikut aku sebentar? Reyhan mengajak Hanna untuk berbicara di tempat lain.
Hanna hanya mengangguk, tanpa berucap sekecappun. Dia berjalan mengikuti kemana Reyhan mengajaknya pergi.
" Sayang, maaf ya. Malam ini aku harus ikut Ria. Aku janji jika memang memungkinkan aku akan cepat pulang, kamu di rumah saja ya sama Mama dan anak-anak. Biar aku selesaikan semuanya. Sebelum nanti kita menetapkan di Surabaya." Reyhan memegang tangan mungil itu sembari menjelaskan kepada Hanna.
"Iya, kamu hati-hati ya. Aku akan selalu setia nungguin kamu disini." Hanna dengan tersenyum.
"Terima kasih, sudah mau mengerti, titip anak-anak, ya." Reyhan menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Nyaman itulah yang Hanna rasakan saat berada di dekapan dada bidang itu. Enggan rasanya untuk melepaskan pelukan yang membuatnya candu.
Hanna terdiam menikmati kecupan itu, berharap sang pemberi ketenangan akan cepat kembali. Dan dia bisa menikmati masa-masa itu lagi bersama sang suami. Akhirnya Reyhan pun ikut bersama dengan Ria.
"Rey, mau kemana kamu? Tanya sang Mama.
" Rey mau kerumah papa Bram. Rey selesaikan semuanya dulu." Rey sembari memegang kedua tangan yang mulai keriput itu.
"Ya sudah, jangan lama-lama, cepat pulang. Nanti kalau kelamaan disana terkontaminasi lagi sama virus yang matikan. Dan Mama nggak mau itu terjadi." Rita berucap sembari melirik ke arah Ria yang sedang berdiri di dekat pintu.
"Do'akan Rey ya, Ma." Reyhan mencium kedua tangan sang Mama.
" Pasti sayang, semoga semua segera berakhir." Rita mengelus pundak bidang itu.
Sementara Wisnu sang Papa hanya memperhatikan, tidak berani dia memberikan komentar apapun. Karena penyebab Reyhan menikah dengan Ria dulu adalah dirinya. Dan untuk saat ini dia bener-bener tidak mau lagi ikut campur dengan kebahagiaan Reyhan. Apapun yang Reyhan lakukan dia akan selalu mendukungnya.
"Buruan Rey, sudah hampir larut ini." Ria berjalan keluar tanpa berpamitan kepada yang lainnya.
Reyhan menghampiri Hanna, kali ini hanya sebuah pelukan dan ciuman di kening yang Reyhan lakukan. Walaupun sebenarnya dia juga enggan untuk pergi meninggalkan istri mudanya itu.
__ADS_1
"Aku pergi. Nanti aku telpon ya." Reyhan sembari tersenyum.
"Iya, by." Hanna mengangguk.
Sementara Ria yang sudah berada di dalam mobil sudah tidak sabar lagi menunggu Reyhan. Sumpah serapah sudah dia ucapkan. Ntah kapan dia bisa berubah. Akankah selamanya Kelakuan Ria seperti ini?
Reyhan masuk kedalam mobil Ria. Baru juga duduk, Ria sudah mengoceh tidak karuan, membuat Reyhan semakin ilfil kepadanya.
"Buruan," perintah Ria.
Tanpa berucap Reyhan mengemudi mobil itu dengan kecepatan sedang. Dia tidak menghiraukan ucapnya Ria yang kadang memang menyakitkan.
"Loe tuh, kemana aja sih. Nggak tau diri banget." Ria menoleh ke arah Reyhan.
"Bukannya loe yang nyuruh gue pergi," jawab Reyhan santai.
"Siapa perempuan itu, kenapa dia bisa akrab sama mama? tanya Ria.
" Loe nggak perlu tau siapa dia, yang jelas dia orang baik, nggak kayak kamu," ucap Reyhan.
"Oh, jadi loe sekarang berani sama gue," Ria.
"Dari dulu gue diem bukan nggak berani sama loe, tapi gue males debat sama orang kayak loe." Reyhan sambil terus konsentrasi ke jalan yang sudah mulai lengang itu.
Ria terus saja mengoceh tanpa henti hingga akhirnya mereka telah sampai di rumah milik Ria. Tanpa berkata-kata Reyhan langsung masuk dan naik ke lantai dua dimana kamarnya berada. Segera dia menghubungi istri mudanya.
"Assalamu'alaikum, Sayang," sapa Reyhan dalam panggilannya.
Sementara Ria hanya bisa mengintip dan menguping pembicaraan Reyhan dari balik pintu kayu itu.
"Siapa yang dia telpon, mungkinkah wanita itu? Apa hubungan mereka sebenarnya? Ria semakin di buat penasaran.
๐ฆ
Terima kasih masih setia sama Reyhan dan Hanna, jangn lupa jejaknya ya gaesss, jaga kesehatan jangan lupa bahagia๐
Marhaban Ya Ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa semoga amal ibadah kita di bulan suci ini bisa lebih baik lagi dari tahun sebelum, mohon maaf lahir dan batin ๐๐
__ADS_1