
Waktu begitu cepat berlalu, Reyhan kini telah hidup bahagia bersama ke dua istri dan ke dua anak tirinya. Namun Hanna merasa sedih karena pernikahan yang hampir lima tahun mereka jalani tidak kunjung memiliki keturunan.
Rita sang ibu mertua selalu menanyakan tentang kehamilan dan anak kepada Hanna maupun Reyhan. Tidak jarang dia juga memberikan resep-resep tradisional kepada Hanna, agar segera memiliki momongan.
"Na, coba kamu pergi ke dokter kandungan, konsultasi saja dulu. Minta Reyhan temanin. Sekalian kamu minum ramuan ini, katanya sih mujarab." Rita menyodorkan botol berisi ramuan sembari mendudukkan bokongnya di kursi. Sementara Hanna sedang sibuk membuat olahan makanan untuk makan siang yang di batu bi Asih.
"Iya, Ma. Nanti Nana bilang sama mas Reyhan," jawab Hanna.
"Jangan iya, iya saja. Nikah itu tujuannya juga memiliki keturunan. Tidak hanya jadi babu istri pertamanya Reyhan saja," ucapnya ketus.
"Sudah, Ma. Nggak papa lagian Hanna ikhlas kok ngelakuin semuanya." Hanna sembari duduk di sebelah Rita.
"Sudah lima tahun kalian nikah, masa cuma ngurusin anak orang saja. Kamu juga berhak bahagia," ucap Rita lagi.
Hanna hanya tersenyum, mendengar perkataan Rita. Namun, beda dengan Ria yang mendengar perkataan sang mertua di balik tembok ruang makan itu. Hatinya begitu teriris mendegar ucapan pedas sang mertua.
Ria memutar kursi roda, di jalankannya menggunakan tuas yang berada di sisi kiri tangannya menuju kamar tidur yang dia tempati. Menangis, hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.
Pasalnya Ria tidak hanya sekali saja menerima ucapan sinis itu dari ibu mertuanya. Sudah berulang-ulang kali. Namun Hanna selalu bisa membesarkan hati Ria.
Namun tidak kali ini, dia merasa menjadi wanita paling tidak berguna, wanita yang hanya bisa menyusahkan orang lain, wanita egois. Coba saja dulu dia bisa membahagiakan Reyhan, menjadi istri Reyhan seutuhnya, mungkin hidupnya tidak akan pernah seperti ini.
Bayangan masa lalunya kembali menyapa, membuat dirinya semakin merasa bersalah, wanita hina yang tidak bisa bersyukur memiliki suami yang begitu baik, suami yang selalu setia, namun selalu dia sia-siakan. Kini hanya penyesalan yang dia rasakan.
"Maafkan aku, maafkan aku!" Teriaknya menggema diseluruh ruangan kamarnya.
__ADS_1
Hanna yang mengantarkan sang mertua ke depan untuk pulang, setelah itu dia mendengar teriakan, terdengar pula ada benda jatuh dan pecah. Dia segera berlari setelah mobil Rita melaju pergi.
"Mbak, Mbak Ria, kenapa Mbak!" Hanna sembari menggedor pintu. Namun naas, pintu di kunci dari dalam oleh Ria.
"Ma, kenapa Ma!" Hafidz berlari dari kamarnya setelah mendengar teriakan Hanna.
"Mama Ria teriak, dan mengunci pintunya dari dalam," terang Hanna.
"Panggil bang Edi saja, Non." BI Asih sembari mendekat.
"Ya sudah, panggil Bi. Buruan!" Perintah Hanna.
Setelah di panggil, bang Edi pun segera datang dan berusaha mendobrak pintu kamar itu. Sekali dobrak, pintu masih kuat mengunci. Dua kali dobrak, dan tiga kalo dobrak pintu benar-benar terbuka dengan sempurna.
Hanna terperangah sambil menutup mulutnya yang terbuka dengan sempurna. Dia berlari mendekati Ria yang sudah bersimbah darah. Tangannya di sayat dengan menggunakan kaca dari meja rias nya yang telah hancur berantakan. Mungkin beberapa waktu lalu di telah memecahkannya. Karena pagi tadi cermin meja rias itu masih bertengger dengan rapi di tempatnya.
"Bang, siapkan mobil, kita kerumah sakit sekarang," ucap Bi Asih.
Hanna, Aqila dan Hafidz masih saja menangis, sementara Bi Asih mencari kain untuk mengikat tangan Ria yang berdarah itu agar tidak terus mengalir.
Beberapa saat kemudian sampailah mereka di rumah sakit, Ria segera di bawah ke ruangan IGD, sementara Hanna dan pak Edi menunggu di luar ruangan itu.
"Maaf, Bu. Silahkan anda menunggu di luar saja, kami akan segera menangani pasien." Suster memberi arahan kepada Hanna sembari menutup pintu IGD.
"Nonton, maaf. Apa sebaiknya saya memberi tahu tuan?" Tanya Bang Edi sembari menunjukkan ponsel di genggamannya.
__ADS_1
"Iya, bang. Kasih tau saja." Hanna sambil terus terisak. Tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada Ria. Dia juga menerka-nerka apa sebenarnya yang membuat Ria hingga nekat seperti itu.
"Mungkinkah ...,"
Hanna sibuk dengan isi kepalanya, ada banyak hal yang menjadi kemungkinan Ria melakukan percobaan bunuh diri.
"Oh Tuhan ...," Kenapa Mbak Ria senekad ini. Apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya?" Hanna bertanya kepada dirinya.
"Sayang! Reyhan datang dengan napas yang ngos-ngosan. Dengan segera dia memeluk Hanna. Tubuhnya seketika bergetar kuat, hatinya apa lagi. Dia merasa bersalah karena tidak becus mengurus Ria. Istri pertama suaminya itu.
" Mbak Ria, Be." Hanna memeluk tubuh sang suami dengan terus terisak.
"Sudah! Jangan menangis lagi, dia pasti kuat, dia baik-baik saja." Reyhan berusaha menenangkan Hanna sambil terus memeluknya.
Sementara di dalam sana, Dokter masih berusaha menangani Ria. Pergelangan tangannya yang di sayat telah berhasil di jahit. Namun darahnya tidak kunjung berhenti. Sehingga dia memerlukan transfusi darah.
Namun naas, belum juga kantong darah itu terpasang, keadaan Ria semakin memburuk. Dokter menyuruh suster untuk tetap memasang kantong itu namun tubuh lemah itu justru menolak.
"Bagaimana, ini Dok!.
Dokter hanya menggeleng.
🍂
Akankah Ria masih bisa di selamatkan atau justru sebaliknya? Tunggu up selanjutnya ya gaess. Sambil nunggu jangan lupa mampir ke karya AdindaR. Gadis Scorpion. Jangan lupa tinggalkan jejak ya gaesss. Like, Komen, Gift, Rate, Vote, juga Favorit.
__ADS_1