Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 7


__ADS_3

'Jika dalam menjalani hidup ada momen yang sangat berat, hingga tak kuasa membendung tangis. Maka, istirahat lah, walau hanya sebentar.Terkadang beben itu memang perlu dilepaskan, tidak harus dipikul terus.


By : Gus Baha


🍂🍂🍂🍂🍂


Setelah orang tua Reyhan mendengarkan semuanya. Mereka begitu kaget, ternyata kebahagiaan Reyhan selama ini hanyalah pencitraan semata.


Tangis sesal dari sang mama membuat Reyhan ikut meneteskan air mata, mereka berdua tak menyangka ternyata di balik kemewahan yang selama ini mereka nikmati ada hati yang begitu tersiksa dan terluka.


Nasi sudah menjadi bubur, semua tinggallah penyesalan, kini orang tua Reyhan telah mengerti kenapa setiap kali Rey pulang selalu saja menolak untuk kembali ke rumah Ria.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Ria yang sejak semalam mabuk, kini mulai merasakan sekujur tubuhnya serasa remuk tak bertulang. Sambil sesekali mengerjapkan mata dia berusaha mengingat- ingat kejadian yang terjadi semalam.


Semakin lama tubuhnya semakin merasakan dinginnya lantai yang dia tempati sebagai alas tidur. Tanpa ranjang yang nyaman, tanpa bantal juga tanpa selimut tebal yang selalu menemaninya setiap hari.


Kini dia mulai membuka mata dengan sempurna, diamatinya sekitar tempat dia berbaring, sorot mata yang melihat sarang laba-laba di pojok-pojok kamar, membuat dia histeris, bangun seketika mencari pintu keluar.


Dia berusaha membuka pintu kayu itu, tapi nihil. Dia mulai frustasi menggedor-gedor pintu pun percuma, karena tak ada seorang pun yang membantunya.


"Tuan, nyonya Ria kelihatannya sudah bangun, apa saya perlu membuka pintunya?" Tanya sang ajudan kepada Bram.


Bram beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan kearah gudang tempat Ria di hukum.


Pintu segera di buka saat sang ajudan menerima anggukan dari Bram.

__ADS_1


Sementara dari dalam sana Ria yang mendengar kedatangan seseorang segera berlari ke arah pintu. Betapa terkejutnya dia saat melihat sosok Bram, ayah yang sangat dia takuti.


"Papa! Sejak kapan papa disini?" tanya Ria tanpa merasa bersalah.


"Sejak Reyhan keluar dari rumah ini.


" Pasti Rey kan yang mengadu ke papa," ucapnya penuh kebencian.


"Semua ini tidak ada hubungannya sama si Reyhan. Semua ini karena kelakuan burukmu yang tak kunjung hilang." Bram menatap horor ke arah Ria.


Ria sedang bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada Rey dan kedua anaknya. Hingga sang papa datang menemui dirinya. Ria hendak melangkah keluar kamar berdebu itu, baru saja akan melangkah, namun di urungkan karena ucapan sang papa.


"Mau kemana, kamu! Siapa yang menyuruh mu keluar dari dalam sama," ucap sang papa penuh emosi.


"Ria mau mandi, Pa! Badan Ria kotor semua, semalam tidur di tempat kumuh ini. Papa nggak lihat." Ria sembari menunjukkan bajunya yang sedikit berdebu.


"Ria, bikin ulah apalagi dih, Pa? Tanya Ria balik.


" Kamu masih belum sadar, apa masih perlu Papa beberkan secara detail sama kamu!" ucap Bram emosi.


Ria terdiam mengingat beberapa minggu terakhir ini memang Ria yang menangani perusahaan Bram, dengan harapan bisa belajar menjalankan perusahaan yang nantinya akan menjadi miliknya itu.


"Ria sudah berusaha sebaik mungkin, Pa! Emang si Rey aja yang nggak mau bantuin Ria," ucap Ria mengkambing hitamkan Rey.


"Jangan bawah-bawah Rey! Papa tau semua kelakuan mu, dan semua akal licik kamu." Bram semakin emosi.


Ria tak menjawab lagi, semua yang dikatakan sang papa benar adanya, dia yang meminta Rey untuk berhenti membantunya di perusahaan. Dengan alasan ingin mandiri tanpa bantuan orang lain.

__ADS_1


Perusahaan yang awalnya memiliki kejayaannya yang luar biasa kini mulai tergeser oleh perusahaan-perusahaan lain. Baru beberapa minggu saja di tinggalkan oleh Reyhan perusahaan itu sudah mengalami ke rugian yang tidak sedikit.


"Maaf, Pa! Ria nggak ada maksud buat merugikan perusahaan. Ria hanya ingin belajar mandiri, Pa." Ria sambil memelas.


"Papa akan maafkan kamu, kalau kamu berhasil membawah Reyhan dan Cucu-cucuku kembali kerumah ini. Dan, satu lagi untuk sementara waktu kamu jangan pernah menempati rumah utama, cukup kamu tinggal di ruangan ini." Bram memberikan tas yang semalam di dapatnya dari Alvin.


Bram pun keluar dari ruangan itu, seorang ajudan Bram memberikan sebuah koper yang berisikan beberapa baju milik Ria.


"Pa! Ria nggak mau tinggal disini, Pa!" Ria mengejar sang papa.


"Sudah nikmati saja fasilitas ini, dan camkan baik-baik, kalau kamu ingin hidup mewah, belajar jadi susah dulu. Dan satu lagi, bawah Rey sama cucuku kembali. Ingat itu!" Bram sambil melangkah meninggalkan Ria.


"Papa jahat, papa tega sama Ria." Teriak Ria.


Sang papa pun terus melangkah pergi tanpa menggubris ocehan Ria,


Akhirnya Ria kembali ke dalam kamar berdebu itu, mengambil dompet yang masih berada di dalam tas jinjingnya. Dilihatnya dompet itu hanya menyisahkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah, tanpa ada satupun kartu ajaib di dalamnya.


"Sial... Sial... Kenapa jadi seperti ini." Ria melemparkan semua barang yang ada di dekatnya.


" Aku harus buru-buru mencari si Reyhan, atau aku benar-benar akan menjadi gembel," omel Ria.


🤔


Kira-kira usaha Ria buat bujuk si Reyhan berhasil nggak ya gaess? Secara si Rey sudah capek lahir batin ngadepin si Ria. Tunggu gaess di up berikutnya.


🍂🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


Terimakasih masih setia sama Aku Diantara Mereka, jangan lupa Like, Komen, dan Favoritnya ya gaess. Tetap jaga kesehatan jangan lupa bahagia 😘


__ADS_2