
"Hanna nya dimana, Mas?" Tanya Reyhan.
"Mbak Hanna masih bekerja, Mas. Sebentar lagi pasti datang. Saya permisi dulu yah, sudah gerah, mau pulang, mandi dulu." Ari berpamitan kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
"Apa! Hanna kerja!"
"Iya, Mas." Ari sambil melangkah meninggalkan Reyhan.
Hampir satu jam Reyhan berada di dalam kamar hotel itu, di lihatnya jam yang bertengger di dinding, sudah menunjukkan tepat pukul sembilan malam. Namun, Sampai sekarang Hanna belum juga menunjukkan batang hidungnya. Sementara nomor Ponsel milik Hanna pun tidak dapat di hubungi. Membuat Reyhan semakin gusar di buatnya.
"Di kerjain atau gimana ini, sih! Uda jam sembilan malam lho ini." Reyhan berjalan di dalam kamar hotel seperti setrikaan.
Tidak lama kemudian, terdengar ada yang membuka pintu, Reyhan yang baru saja duduk di sofa seketika berdiri dan melihat siapa yang datang. Raut wajah Reyhan seketika berseri melihat sang pujaan hati yang hampir sebulan lebih meninggalkan nya.
"Sayang!" Reyhan berjalan mendekati Hanna, saat hendak memeluknya tiba-tiba saja Hanna menolak. Penolakan Hanna seketika membuat Reyhan terdiam.
"Maaf, Be." Hanna berjalan melewati Reyhan menuju kamar mandi. Sesaat setelah selesai dengan ritual mandinya, Hanna segera keluar dari sana. Melihat raut wajah Reyhan berubah seketika Hanna ingin tertawa.
Ternyata penolakan tadi membuat Reyhan berpikiran bahwa Hanna benar-benar ingin berpisah dengannya.
"Sayang, maafkan aku, aku sadar selama ini aku kurang tegas menghadapi Ria, aku tidak memiliki perasaan apapun kepada Ria, sejak awal menikah hingga saat ini hampir lima belas tahun, pernikahan kita hanya sebagai tameng agar Ria mendapatkan hak waris dari seluruh harta papanya dan sebagai penebus hutang Papa ku, " Reyhan berjalan mendekati Hanna yang sedang duduk di sofa.
__ADS_1
"Maaf, Be. Apa labih baik kita akhiri saja pernikahan ini, aku sudah lelah." Hanna terisak sembari menunduk kan wajahnya.
"Enggak, Hanna. Sampai kapan pun kamu akan aku perjuangkan. Kamulah istri yang sempurna buatku, bukan Ria." Reyhan menggenggam kedua tangan Hanna.
"Tapi bagaimana dengan Mbak Ria. Jika kamu menceraikannya, siapa yang akan mengurus nya, siapa yang akan menjalankan perusahaan Papa nya, sementara kamu juga masih memiliki tanggung jawab kepada Aqila dan Hafidz.
" Bercerai ataupun tidak dengan Ria, semua akan sama saja. Ria tidak akan pernah bisa menjadi istri yang sesungguhnya buat aku," jelas Reyhan.
*
Sementara Ria yang berada di rumahnya menjadi uring-uringan. Apapun yang dia inginkan tidak semua bisa terpenuhi. Apalagi sang pelayan yang menjaganya izin pulang kampung karena anaknya sedang sakit.
"Qila ... Qila ...," teriaknya memanggil Aqila.
"Ambilkan ponsel Mama, di atas meja, Mama tidak bisa mengambilnya," perintah Ria.
Dengan segera Aqila mengambil ponsel milik Ria." Ada lagi, Ma?" Tanya Aqila.
"Sudah! Eh, tunggu! Antar mama masuk ke kamar saja, mama mau istirahat," ucapnya.
Sesampainya di kamar, tiba-tiba saja Ria membanting ponselnya, seketika Aqila kaget.
__ADS_1
"Mama kenapa, sih. Kok marah-marah terus, mana berisik lagi," protes Aqila.
"Apa kamu bilang, berisik! Berani kamu ngatain Mama berisik, dasar anak tidak tau di untung, pergi kamu. Sama saja dengan papamu. Bikin orang marah saja," bentak Ria.
Aqila keluar dari kamar sang Mama dengan menangis. Hatinya begitu sakit mendengar ucapan sang Mama.
"Ya Tuhan, kenapa aku dilahirkan dari seorang Mama yang seperti itu, apa aku tidak berhak memiliki keluarga baik, Aku tidak menyesal memiliki Mama seperti Dia, tapi saat dia berkata seperti itu, hatiku sangat sakit, Tuhan," Aqila menangis sesenggukan di dalam kamarnya.
🍂
Sambil nunggu up selanjutnya yu mampir ke karya temen Syfa, Neng Syantik. Pandawa ( pesona janda beranak dua) Ditunggu jejaknya ya, Like, komen, gift, rate, voter, Favorit juga ya.
Pandawa (pesona janda beranak dua)
Zivanya, Janda muda beranak dua. Yang menjadi idaman setiap kaum Adam. Dari kalangan Berondong, Duda, bahkan sampai suami orang.
Wajah cantik, juga penampilan sexy dan menggodanya itu, kerap kali mengundang bencana dalam rumah tangga orang lain. Meski begitu, ia sama sekali tidak pernah berniat untuk menggoda pria. Hanya saja, sikap ramahnya dan murah senyum, membuat banyak pria terpesona dan membuat para istri dari pria yang sudah menikah itu memandang rendah dan benci padanya.
Awalnya, Zivanya tidak pernah ambil pusing dengan semua hinaan dan cacian para ibu-ibu yang ada di lingkungannya. Tapi semua itu berubah, setelah ia dan tunangannya putus. Tunangannya memutuskan hubungan dengan alasan yang tidak jelas, tunangannya mengatakan bahwa, ia adalah Janda genit dan juga sering menggoda pria. Dari situlah Zivanya berubah, ia benar-benar merubah hidupnya. Hinaan dan juga tuduhan yang di lontarkan padanya, benar-bebar ia wujudkan dan lalukan.
__ADS_1
Bagaimana kisahnya? (Pesona Janda Anak Dua)