Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 55


__ADS_3

Mendengar keputusan Reyhan seluruh anggota keluarganya tercengang, namun tidak dengan Hanna, dia merasa bahagia dia beranggapan bahwa dirinya bisa bermanfaat buat Ria. Membantu mengurusi segala keperluan Ria.


"Terima kasih, Mas!" Hanna dengan tersenyum.


Ria pun demikian, dia begitu bahagia mendengar keputusan Reyhan. Berharap suatu saat nanti dirinya bisa menjadi istri yang baik buat Reyhan. Tapi nasi sudah menjadi bubur, jangankan untuk melayani Reyhan, untuk berdiri saja dirinya harus di bantu orang lain.


Setelah mendengar keputusan Reyhan, Ria bertekad untuk menjadi istri yang baik, madu yang baik dan ibu yang baik untuk kedua anak-anaknya.


"Terima kasih, Mas Reyhan. Masih mau memperistri Ria. Ria janji akan berubah menjadi istri yang lebih baik," ucapnya berjanji kepada semua orang yang berada di ruangan itu.


Hanna berjalan mendekati Ria, dan dia segera memeluknya. Ria menangis melihat Hanna begitu menyayanginya.


"Maafkan aku, selama ini selalu jahat sama kamu, aku sadar bahwa tak selamanya kita hidup selalu dengan kebahagiaan. Sekali lagi maafkan aku." Ria mengeratkan pelukannya.


"Sama-sama, Mbak. Aku juga minta maaf, tidak bermaksud untuk merebut mas Rey dari Mbak," ujar Hanna sendu.


Rita, Wisnu, Reyhan dan Dicky saling memandang melihat kejadian yang begitu langkah baru saja mereka lihat. Awalnya Rita mengira bahwa Ria dan Hanna tidak mungkin bisa akur, tapi nyatanya apa yang di pikirkan Rita salah. Ria begitu bahagia, walaupun pada awalnya pernikahan Hanna dan Reyhan begitu ditentang olehnya.


Aqila dan Dicky ikut berhambur memeluk kedua mamanya itu. Raut wajah keduanya begitu berseri mengetahui kedua orang yang mereka sayangi bisa bersanding bersama.


"Asik ... asik ... asik ..., kita punya dua mama, Dek!" Teriak Aqila pada Hafidz.


"Iya, Kak. Hore ... hore ...," Hafidz ikut bersorak.


Semua orang tua yang melihat tingkah laku kedua kakak beradik itu sangat terharu dan bahagia. Pasalnya keduanya jarang sekali seceria itu. Mereka lebih sering mengurung diri di dalam kamar.


"Alhamdulillah, semoga kebahagiaan ini selamanya tidak hanya sesaat," ucap Hanna dalam hati.


.

__ADS_1


Waktu begitu cepat berlalu, keadaan rumah tangga Reyhan begitu bahagia. Tidak ada perselisihan ataupun percekcokan lagi. Meskipun hidup dengan madunya, tapi Ria begitu beruntung. Hanna yang selalu membantu mengurus dia dan kedua anaknya sehingga dia bisa sedikit melupakan kesedihan tentang kelumpuhan kakinya itu.


"Huffttt ...," Hanna mengusap keringat di dahinya, Ria yang melihat itu merasa kasihan kepada Hanna.


"Na," Ria memanggil Nana.


"Iya, Mbak. Kenapa?" Tanyanya pada Ria.


"Apa nggak sebaiknya kamu cari orang saja, buat ngerawat Mbak. Kamu capek tiap hari ngerawat anak-anak juga. Kapan kamu bisa cepat punya baby. Kasihan Mas Reyhan juga, Na. Dia pasti juga ingin punya anak dari darah dagingnya sendiri," ucap Ria.


"Nggak usah, Mbak. Hanna masih sanggup, nanti kalau sudah nggak sanggup baru Hanna cari teman." Hanna sembari memegang kedua tangan Ria.


"Kamu yakin, kapan kamu istirahatnya. Dari pagi, siang sampai malam kamu hanya mengurus Mbak dan anak-anak saja. Kamu juga butuh istirahat, Na!" Ria meyakinkan.


"Ya sudah, kalau itu maunya Mbak. Nanti kita bilang ke mas Reyhan aja dulu. Biar mas Rey saja yang memutuskan. Kalau menurut Nana mending nggak usah, Mbak." Hanna sambil duduk di kursi sebelah Ria.


Hampir seminggu mencari orang yang cocok untuk menjadi pekerja akhirnya ada seorang wanita berusia dua puluh lima tahun seusia Hanna. Dia cekatan dalam bekerja, cantik juga sopan. Wanita itu yang menjadi pilihan Hanna dan Ria sebagai pengasuhnya.


"Maaf kenalkan nama saya Riska," ucap wanita itu memperkenalkan diri.


Setelah acara perkenalan selesai, Hanna menjelaskan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pengasuh Ria. Iya, dia hanya membantu Ria saja tidak ada yang lain lagi, karena sudah ada bibi yang mengurus keperluan rumah tangga, dan Hanna yang membantu mengurus anak-anak.


"Iya, non. InsyaAllah saya mengerti," jawabnya mendengar penjelasan Hanna.


Hampir satu bulan Riska bekerja di rumah Hanna, semua baik-baik saja, namun ada hal lain yang tidak di ketahui oleh keluarga Reyhan.


"Sayang, hampir satu bulan aku kerja di rumah Ria, apa misi kita di jalankan sekarang, atau masih mau menunggu lagi?" Tanyanya pada seseorang yang ada di ujung telpon sana.


"Iya, lakukan saja pelan-pelan sesuai rencana yang sudah kita buat. Ingat! Hati-hati, jangan gegabah. Kita selangkah lagi bisa menghancurkan keluar itu," ucap seseorang di akhir panggilannya.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Aku akan segera melakukan misi kita. Menghancurkan keluarga Reyhan," jawabnya sebelum akhirnya benar-benar menutup panggilannya.


🍂🍂🍂


Yuhuuuu, ada yang tau siapa Riska sebenarnya, kenapa dia ingin menghancurkan keluarga Reyhan, punya dendam apa Riska hingga mau menghancurkan keluarga itu.


Yuk kepoin up-up berikutnya ya. Terima kasih masih setia dengan ADM. Jangan lupa di akhir cerita ada doorprize yang sedang menunggu siapa yang aktif komentar, dan pemberi Gift terbanyak.


Pembaca yang bijak, jangan lupa jejaknya ya.


Like


Komen


Gift


Rate


Favorit.


😘😘😘


Sambil nunggu up selanjutnya mampir gaess ke karya akak satu ini, di jamin nggak kalah seru.


blurb



__ADS_1


__ADS_2