Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
Adm 28


__ADS_3

Hanna hanya tersenyum, dia berusaha tetap baik-baik saja walau dalam hatinya memang ada rasa kecewa kepada sang suami.


"Sudahlah, Be. Jangan di bahas lagi, lakukan apapun jika itu memang terbaik buat kita semua. Aku juga minta maaf harus berada di antara kalian." Hanna dengan mata berkaca-kaca namun bibir tetap berusaha tersenyum.


"Maafkan aku." Rey kembali memeluk Hanna.


Rita yang baru saja keluar dari kamar tidurnya merasa curiga dengan kedua pasangan itu. Pasalnya Hanna tidak pernah terlihat seserius ini. Hal ini membuat Rita curiga.


Rita berjalan mendekat ke arah sejoli yang sedang berpelukan sambil menangis. Rita hanya mengamati, iya hanya mengamati tanpa menegur keduannya. Lama sudah Rita mengamati, hingga akhirnya dia tidak sabar lagi untuk menanyakan yang sedang terjadi.


Rita berdehem mengejutkan Reyhan dan Hanna, keduanya langsung menoleh ke arah sumber suara. "Eh, Mama." Reyhan seraya melepaskan pelukannya.


"Kalian kenapa? Kok sore-sore sudah melow aja? tanya Rita.


" Nggak papa kok, Ma. Hanna hanya kangen saja sama Mas Reyhan." Hanna berusaha tenang, dengan senyum yang tetap mengembang di bibir mungilnya itu.


"Mama sudah makan siang?" Tanya Hanna.


"Sudah, Sayang," jawab Rita.


"Ma, Reyhan mau tanya sesuatu sama Mama.


" Apa itu Rey," jawab Rita.


"Papa Bram sedang dirawat di rumah sakit, karena serangan jantung.


" Iya, Mama sudah tahu," sahut Rita.


"Dia meminta Rey untuk mempertahankan pernikahan Rey sama Ria.


"Terus kamu terima permintaan Bram." Ria sambil menoleh kearah Hanna.

__ADS_1


"Reyhan belum kasih jawaban apapun tentang itu," tegas Reyhan.


Ketiganya terdiam, tidak ada satupun diantara mereka yang buka suara. Reyhan, Hanna, dan Rita sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Barulah ketika Wisnu datang Rita mulai buka suara.


"Kenapa pada diam, ada apa ini?" Tanya Wisnu pada ketiganya.


"Pa, Bram meminta Rey mempertahankan pernikahannya dengan Ria, bagaimana menurut Papa!" Ucap Rita dengan menggebu.


"Papa serahkan saja semua kepada Reyhan, karena dia yang akan menjalani semuanya. Bukan kita, Ma." Wisnu sambil menuang air minum kedalam gelas di depannya.


"Terima kasih, Pa. Sudah mau mengerti keadaan Reyhan." Reyhan menoleh kearah Wisnu.


"Pokoknya Mama tidak setuju, titik." Rita bangun dan pergi dari tempat duduknya.


"Sabar Rey, biar nanti Papa yang bicara sama mama, kamu berdo'a saja biar mama bisa luluh," terang Wisnu.


"Iya, Pa," jawab Reyhan.


Di ruangan VVIP di sebuah rumah sakit tempat Bram dirawat, seorang wanita cantik sedang memohon kepada ayahnya. Berharap pernikahannya dengan Reyhan masih bisa dipertahankan.


"Papa sudah berusaha, semua keputusan ada ditangan Reyhan. Kalau dia benar-benar menginginkan perceraian dengan mu, berarti semua aset yang Papa miliki akan jatuh ke tangan Reyhan. Karena dulu Papa pernah berjanji pada Reyhan, jika kelak kalian mempunyai anak, Papa akan menghibahkan semua kekayaan kepada Reyhan," jelas Bram.


" Qila dan Hafidz bukan anak Rey, Pa!" ucap Ria membongkar kebohongannya sendiri.


"Apa maksudmu?" tanya Bram.


Ria keceplosan mengatakan kedua anaknya bukanlah anak dari Reyhan. Dia mulai bingung mencari alasan. Jujur pun akan tetap salah, karena kebenarannya sudah mulai terungkap.


"Ma-maksud Ria, mereka kan anak Ria, Pa.


" Panggil Reyhan sekarang, Papa tidak mau tau, kalian harus menjelaskan semuanya kepada Papa." Bram sambil memegang dadanya yang sedikit nyeri.

__ADS_1


"Pa, Papa kenapa!" Ria mencoba mendekati Bram.


"Pergi! Cari Reyhan," usir Bram.


Ria pun akhirnya pergi meninggalkan Bram sendirian di rumah sakit, dengan segera dia menelpon Reyhan. Berharap Reyhan bisa diajak kerja sama.


"Rey angkat dong, Rey." Ria berusaha menghubungi Reyhan, namun sialnya Reyhan tidak mengangkat panggilan itu.


"Kalau Reyhan sampai membongkar semuanya, berarti aku tidak bisa menikmati harta papa lagi. Aku bakalan miskin. Dan Alvin tidak akan mau lagi sama aku. No, no, no ...," Mau tidak mau Reyhan tidak boleh menceraikan ku. Sampai kapanpun Reyhan tetap milikku hanya milikku," ucap Ria dalam benaknya.


Hanna yang sedang duduk dengan Reyhan berusaha untuk tidak membuat hatinya cemburu, pasalnya Reyhan sedang menceritakan semuanya tentang Ria.


"Sayang, apapun yang terjadi aku akan tetap menceraikan Ria. Tiga belas tahun, bukan waktu yang singkat. Aku rela mengorbankan semua kebahagiaan ku demi keluarga Ria, tapi tidak untuk kali ini. Aku akan tetap menceraikan Ria. Sudah cukup harga diriku sebagai seorang suami di injak-injak olehnya." Reyhan dengan nada penuh emosi.


"Be, pikiran dengan kepala dingin, jangan sampai kamu menyesali keputusan mu." Hanna mencoba mengingatkan Reyhan.


"Sudah, aku sudah memikirkannya. Bahkan sejak aku belum mengenalmu. Namun, aku tidak pernah tega meninggalkan Qila dan Hafidz. Walaupun mereka anak dari laki-laki selingkuhan Ria, aku tetap menyayanginya seperti anak kandungku sendiri." Reyhan bercerita dengan nada cukup pilu.


Sejenak keduanya terdiam, Hanna mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Reyhan. Dia begitu iba mendengar penuturan tentang kisah masa lalunya yang cukup rumit menurut Hanna.


Reyhan menikahi Ria karena hutang sang ayah kepada keluarga Ria. Dia rela mengorbankan masa muda demi berbakti kepada orang tuanya. Setelah menikah, bukannya kebahagiaan yang di dapat dari pernikahan itu. Justru hinaan dan cemoohan dari mulut Ria yang selalu merendahkannya. Tidak hanya itu saja, Ria juga masih berhubung dengan kekasihnya, hingga terlahir Aqila dan Hafidz dari hubungan terlarang keduanya.


"Sayang, maaf." Reyhan menggenggam kedua tangan Hanna. Keduanya larut dalam suasana haru itu.


Maaf baru bisa up, kesibukan RL yang luar biasa membuat Syfa sulit buat up rajin. Tapi ga papa, tetap syfa usahakan setiap hari up.


Terimakasih masih setia sama Reyhan Dan Hanna, yuk tunjukkan mana tim Hanna mana tim Ria. jangan lupa tab jempol ya, komen rate gift juga, pokonya ditunggu jejaknya.


Eh, satu lagi ini sambil nunggu up selanjutnya mampir yuk ke karya Askar Inayah Ahmad Sahroni. tak kalah keren lho


__ADS_1


__ADS_2