Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 97


__ADS_3

Reyhan mengajak Alvin untuk masuk. Begitu memasuki ruang utama, Rita dan Hanna terkejut melihat siapa yang datang. Sementara Aqila dan Hanfidz menatap tajam ke arah ayah biologis mereka.


Aqila berdiri, mendekat ke arah Alvin. Namun, tanpa disangka dia langsung mengusir Alvin begitu saja. Semua terperangah melihat kelakuan Aqila.


"Pergi!" teriak Aqila.


"Siap yang mengundang Anda ke sini. Apa Anda tidak tau malu. Setelah perbuatan yang Anda lakukan kepada kami dan sekarang Anda datang tanpa rasa bersalah sedikitpun," Aqila kembali berteriak.


"Qila, cukup sayang!" seru Reyhan.


"Apa papa mau membela laki-laki ini." Aqila menunjuk Alvin dengan penuh amarah.


"Qila." Hanna berdiri mendekat ke arah Aqila.


"Sudah, Nak. Jangan bikin malu diri sendiri di depan banyak orang. Sudah ya. Kita masuk aja. Biarkan mereka mengikuti tahlilan dulu. Nanti kita tanyakan semuanya pada dia." Hanna memeluk tubuh mungil Aqila.


Aqila langsung pergi dari ruangan itu, dia berjalan menuju kamar tidurnya yang sudah lama tidak dihuni. Sesampainya di kamar, Aqila langsung saja menumpahkan seluruh air matanya yang sejak tadi di tahan.


"Kenapa harus muncul lagi, di saat semua sudah mulai membaik? Apa aku tidak boleh melupakan semuanya. Aku benci dia, aku benci." Aqila memukul bantal yang ada di depannya.


Acara tahlil yang digelar sudah usai beberapa menit yang lalu. Para tamu undangan pun sudah banyak yang pergi meninggalkan rumah itu. Hanya menyisakan beberapa orang yang mungkin masih ingin berbincang-bincang.


Alvin yang sejak tadi menahan diri untuk buka suara akhirnya memberanikan diri untuk bicara. Alvin menggeser duduknya agak mendekat kearah Reyhan.

__ADS_1


"Rey, gue mau minta izin bicara sama Aqila dan Hafidz," ucapnya dengan sedikit ragu. Rey yang mendengar ucapan Alvin mengerutkan dahi.


"Silakan, kalau dia mau. Saya tidak akan mempersulitnya. Karena sejak awal mereka memang anak mu, bukan?" jawab Reyhan penuh wibawa.


"Tapi ...,"


"Biar aku yang bujuk mereka. Tapi, jangan terlalu berharap," ucap Rey lagi.


Alvin mengangguk sebagai pertanda setuju, sementara Reyhan berjalan menuju kamar Aqila. Dilihatnya gadis yang baru beranjak dewasa itu sedang berbaring di ranjangnya dengan terisak.


"Qila." Reyhan sambil memegang pelan bahu Qila.


Qila yang mendapatkan sentuhan itu dengan segera mengusap kasar pipinya yang basah, dengan segera beranjak bangun dari tempat tidurnya.


"Menangislah, jika itu bisa membuat mu lebih baik. Atau mungkin ceritakan semua kepada Papa, siapa tau semua beban di dalam sini bisa berkurang." Reyhan menunjuk kearah dada Aqila.


Aqila langsung saja menumpahkan kembali air matanya yang sempat berhenti beberapa saat. Sontak membuat Reyhan semakin mengeratkan pelukkannya. Hampir lima menit Qila menangis, kini suara tangisan itu sudah mulai meredah. Reyhan melepaskan pelukan itu, dilihatnya wajah sangat anak. Kelopak mata itu kini terlihat membengkak.


"Sayang, dengerin Papa ya!" seru Reyhan.


"Sejahat apa pun dia, seburuk apa pun dia, sebenci-bencinya kamu sama dia, dia tetap ayah kandung mu. Jadi, kamu wajib sopan dan hormat sama dia. Kalau dia tidak ada hubungan sama mama Ria, mungkin kamu dan Hafidz juga tidak akan pernah ada di dunia ini," tegas Reyhan dengan hati-hati.


"Tapi, Pa!"

__ADS_1


" Sayang, apa pun yang terjadi dia tetap ayah kandung mu," ucap Reyhan lagi.


Aqila hanya menunduk mendengar ucapan Reyhan, hingga Reyhan kembali membuka percakapan itu.


"Ayo keluar, dia menunggumu. Ingin berbicara dengan putra dan putrinya. Jangan bikin dia kecewa. Buktikan kalau didikan Papa selama ini adalah yang terbaik."


"Qila takut, Pa.


" Ada Papa, Mama, Oma dan Opa juga. Kalian tidak perlu khawatir. Kalian tetap anak-anak Papa," Reyhan masih berusaha membujuk Aqila.


Setelah berpikir sekian menit akhirnya Aqila pun menyetujui ajakan Reyhan. Dia berjalan mengekor di belakang Reyhan. Walaupun di dalam benaknya masih ada sedikit keraguan untuk bertemu dengan ayah kandungnya itu.


Sesampainya di ruangan depan, di sana sudah tidak terlihat lagi para tamu undangan, hanya ada sang mama, oma, opa, Alvin dan Hafidz saja. Nampaknya para tamu undangan itu sudah pergi meninggalkan kediaman Ria.


Aqila mengambil tempat duduk tepat di sebelah Hanna. Dia berhadapan dengan Alvin yang ber ada di depannya.


"Vin, utarakan, apa yang ingin kamu bicarakan. Aqila sudah siap untuk mendengarkan," terang Reyhan. Dan di angguki oleh Alvin sebagai tanda setuju.


"Aqila, Hafidz dan semua yang ada di sini Saya mau minta maaf. Atas semua perbuatan yang telah saya lakukan selama ini. Terutama untuk Ria," ucap Alvin penuh penyesalan.


🍂


Yuk buruan kepoin up selanjutnya. Jangan lupa jejak ya gaesss. 😘

__ADS_1


__ADS_2