
Sementara dikamar ukuran 4x4 meter itu sedang terjadi pergulatan batin, ya, Hanna sedang merenungi nasib pernikahannya, disisi lain di sudah mencintai dengan apa adanya. Namun disisi yang berbeda dia mencoba untuk berontak. Dirinya merasa bersalah atas pernikahan itu. Tidak seharusnya dia menerima tawaran Reyhan untuk menjadikannya istri.
"Maafkan aku, Mbak Ria, semua terjadi karena aku. Tidak seharusnya aku berada diantara kalian. Namun kini, apa yang harus aku lakukan. Berpisah dengan mas Reyhan akan membuat dia sakit, bertahan dengannya juga akan menyakiti wanita yang lainlain," ucap Hanna dalam hati.
Hanna teringat kedua anak sambungnya, Aqila dan Hafidz. " Maafkan Mama, masih belum menjadi orang tua yang bisa kalian banggakan."
Tidak lama kemudian, sering ponsel Hanna berbunyi dengan nyaring. Dengan segera Hanna melihat layar ponsel itu, tertera nama Reyhan disana. Hanna bingung antara di angkat atau di biarkan saja panggilan itu.
"Assalamu'alaikum, Be."
"Lama banget angkat telponnya?"Tanya Reyhan.
" Maaf, tadi masih di kamar mandi," bohong Hanna.
"Kamu kapan pulang?"
"Beberapa hari lagi ya, Be," Hanna meminta izin.
"Aku susulin ya, sekalian aku juga mau menenangkan diri." Reyhan dengan penuh semangat.
"Tapi, Be!
" Nggak pakai tapi, aku langsung berangkat sekarang." Reyhan memutuskan sambunganya telponnya dan segera bergegas menuju kediaman Hanna.
Hampir satu jam Reyhan menempuh perjalanan dari rumahnya kerumah orang tua Hanna, sesampainya disana Reyhan dengan segera mengetuk pintu. "Assalamu'alaikum," ucapnya sembari melangkah memasuki rumah.
"Kok sepi," batin Reyhan.
"Waalaikumsalam," jawab Hanna keluar dari kamar tidurnya.
"Hai apa kabar, Sayang!" Reyhan mengecup kening sang istri.
"Aku baik-baik saja, Be!" Kamu kok mukanya lesu gitu?" Tanya Hanna.
"Gara-gara nahan kangen sama kamu," jawab Reyhan asal.
__ADS_1
"Bukan alasan, Be." Hanna melangkah ke arah dapur. Begitu juga Reyhan mengekorinya dari belakang.
"Mau ngapain, sih!" Reyhan mencari tau.
"Uda, duduk disini, diem yang anteng." Hanna mendorong pelan tubuh kekar Reyhan agar mau duduk di kursi makan itu.
Sementara Hanna bergelut dengan peralatan dapur dengan sangat lincah, Reyhan hanya memperhatikan istri mudanya itu. Dia benar-benar takjub melihat Hanna. Belum pernah sekalipun dia melihat Ria mau memasak untuk dirinya, yang ada Ria selalu menyuruh pelayan dirumahnya untuk memasak.
"Taraaa... sudah selesai, silahkan dinikmati." Hanna selesai menata semua masakan yang baru saja dia masak, di tata nya dengan rapi di atas meja makan itu.
Reyhan tersenyum, dia sangat kagum kepada istrinya itu. Namun sejak tadi dia tidak melihat keberadaan sangat mertua sehingga membuat sedikit bertanya-tanya.
"Mama kemana, kok nggak kelihatan?" tanyanya pada Hanna.
"Mama sedang ada pengajian, di komplek sebelah," jawab Hanna.
"Sudah di makan, Be keburu dingin." Hanna sambil ikut makan siang.
Keduanya menikmati makan siang dengan yang cukup hangat, beberapa kali Reyhan menyuapi sang istri yang sedang duduk di sebelahnya. Sungguh romantis makan siangnya saat ini.
Hanna menoleh mendengar ucapan sang suami," Mbak Ria nggak pernah masak buat kamu, Be?" Tanya Hanna.
"Jangankan masak, makan bareng aja nggak pernah," terang Reyhan.
"Lha terus," Hanna mulai penasaran.
"Ya gitu, semua serba sendiri," ucapnya lagi.
Hanna tidak tega mau meneruskan pertanyaan tentang Ria, melihat wajah sendu sangat suami dia enggan untuk bertanya lagi. Dia lebih memilih diam daripada harus kembali membuka luka yang hampir saja kering.
"Jangan menambah luka kepada orang yang berusaha untuk sembuh,"
Mungkin itulah ungkapan yang saat ini cocok di berikan kepada Reyhan. Namun itulah Reyhan dia lebih memilih diam daripada harus menceritakan kebodohannya di masa lalu.
"Sayang, kita pulang yuk!" Ajak Reyhan.
__ADS_1
"Be... "
"Kasihan anak-anak, mereka selalu saja mencarimu," terang Reyhan.
Hanna pasrah, memang sudah seharusnya dia menuruti sang suami. Sebagian istri yang baik dan patuh kepada sang suami.
"Be, bagaimana hubungan kamu sama mbak Ria, apakah sudah membaik?" Hanna mencoba untuk bertanya kepada Reyhan.
"Keputusan ku sudah bulat, aku akan tetap menceraikannya. Bukan karena harta pak Bram, tapi karena aku sudah tidak sanggup lagi menghadapi Ria.
" Apa maksudnya dengan harta pak Bram." Ria memandang manik hitam itu.
"Iya dulu pernikahan ku dan Ria adalah keterpaksaan, awal pernikahan Ria selalu saja minta di ceraikan, namun pak Bram tidak menyetujui itu. Dan akhirnya dia membuat wasiat, jika kelak kita bercerai seluruh harta pak Bram akan dilimpahkan kepada ku bukan Ria. Hal itulah yang membuat Ria tidak mau aku ceraikan."
"Kenapa bisa begitu, Be."
"Iya karena pak Bram tau, jika di berikan kepada Ria, dia pasti akan menghabiskannya. Ria tipe orang yang tidak mau susah, sukanya cuma berfoya-foya." Reyhan sambil memegang tangan lentik itu.
"Kita pulang ya? " Permintaan Reyhan untuk yang kesekian kalinya.
🍂🍂🍂
Terima kasih, masih setia dengan Aku di Antara Mereka, jangan lupa tinggalkan jejak ya gaesss.
LIKE
KOMEN
GIFT
VOTE
RATE
FAVORIT ♥
__ADS_1
Selamat menunaikan ibadah puasa, jaga kesehatan jangan lupa bahagia 😘😘