
🎵
Andai aku bisa memutar waktu
Aku tak ingin mengenalmu
Mengapa ada pertemuan itu
Yang membuat aku mencintaimu?
Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja?
T'rus mengingatmu, memikirkanmu semua tentang dirimu?
Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja?
Tak seperti kamu, yang mampu tanpa ku
Bagaimana ...
...
By; Judika
(Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja)
🍂🍂🍂
Happy reading...
Menteri mulai membenamkan diri keperaduannya, sementara rembulan dan sang bintang mulai menampakkan sinarnya di tengah gelapnya malam. Ria berjalan di lorong apartemen yang sepi, mendatangi sang pujaan hati berharap ada hal yang bisa membuatnya sedikit melupakan segala penat di kepalanya.
Membuka pintu apartemen itu dengan mudah dia lakukan, karena dia juga menyimpan sandinya. Di carinya sosok laki-laki yang selama hampir limabelas tahun bersemayam di dalam hatinya.
__ADS_1
"Sayang, kau ada dirumah!" Ria mencari keberadaan Alvin, hingga beberapa kamar dia lihat namun nihil.
"Sepertinya dia tidak pulang malam ini, aku butuh dia." Ria merogoh tas yang baru saja dia taruh di atas meja. Mencari keberadaan benda pipih itu.
Ria berusaha menelpon Alvin, hingga beberapa panggilan namun tidak ada jawaban. Membuat Ria muali gusar.
"Kemana, dia! Selalu saja menghilang disaat aku butuhkan," seloroh Ria dalam hati.
Tak lama kemudian laki-laki itu masuk dengan seorang wanita cantik dengan balutan baju ketat menempel ditubuhnya.
"Brengsek! Jadi begini kelakuannya selama ini." Ria berjalan mendekati kedua sejoli itu.
Tanpa berpikir dan berucap apapun lagi Ria langsung menampar pipi laki-lakinya itu. Terkejut itulah yang di alami Alvin.
"Kamu!
" Iya, kenapa, kaget?" Ria berucap tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Tanpa berucap apapun, Ria berjalan meninggalkan ruangan itu, mengambil tas nya yang baru saja di taruh di atas meja. Hatinya sungguh pilu, rela meninggalkan suami sahnya demi laki-laki yang selama ini dia cintai, kedua buah hati hasil hubungan gelap mereka juga Rey yang menanggungnya. Bahkan menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri.
Di rumah sakit, Bram yang sedang ditemani Reyhan berusaha mencari kebenaran yang selama ini ditutupi oleh anak dan menantunya itu.
" Rey, katakan semua kepada Papa. Papa ingin tahu dari kamu.
"Apa maksud Papa?" Tanya Reyhan.
"Kebenaran tentang pernikahan kalian!" tegas Bram.
Tanpa berbasa-basi lagi Reyhan menceritakan semuanya, karena ini merupakan kesempatan emas dan tidak akan bisa terulang lagi. Harapan Reyhan hanya satu, bisa terlepas dari belenggu keluarga Bram.
Reyhan menceritakan semua mulai dari awal pernikahan mereka, sebuah perjanjian yang mengatakan bahwa Reyhan tidak boleh menyentuh Ria, membiarkan Ria hidup dengan damai bersama dengan Alvin, bahkan kedua cucunya adalah buah hati Ria dan Alvin. Tidak hanya itu saja, Reyhan juga menceritakan bahwa dirinya tidak pernah sekalipun menyentuh Ria hingga belasan tahun mereka menikah.
Di akhir cerita, Reyhan juga menceritakan tentang pernikahannya dengan Hanna beberapa bulan lalu. Dan Reyhan juga memohon agar Bram mengizinkan dirinya bercerai dengan Ria.
__ADS_1
"Pa, Reyhan mohon sama Papa, Reyhan juga ingin bahagia, ingin memiliki keluarga utuh seperti orang-orang di luar sana," ucapnya dengan sedikit menghibah.
"Tapi, Rey! Bagaimana dengan Ria?" Tanya Bram.
"Dia akan hidup bahagia bersama Alvin, Pa.
" Papa tidak akan pernah merestuinya, dia bukan laki-laki baik buat Ria," terang Bram.
Rey terdiam tidak menjawab ucapan Bram. Tidak lama kemudian datang dokter yang selama ini merawat Bram.
"Siang, pak Bram, bagaimana keadaan anda hari ini?" Tanya sang dokter.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik, Dok!" terang Bram.
Dokter mulai memeriksa keadaan Bram, dan benar saja, hari ini Bram sudah di izinkan untuk pulang. Karena semua tes kesehatan yang di jalani sudah menunjukkan stabil dan lebih baik.
"Selamat, Pak! Anda bisa pulang hari ini. Tapi jangan senang dulu, bapak harus tetap jaga kesehatan, pola makan, istirahat yang cukup, juga jangan terlalu capek dan stres. Karena hal itu bisa membahayakan jantung anda lagi," Pesan Dokter itu sebelum akhirnya berpamitan pergi meninggalkan ruangan VVIP itu.
"Baik, Pak! saya akan ingat pesan Anda. Terima kasih sudah merawat saya dengan baik.
" Sama-sama, Pak. Saya permisi dulu." Pamit dokter itu sebelum akhirnya melangkah pergi.
"Pa, Rey selesaikan administrasi dulu ya, setelah itu kita pulang," pamit Rey.
Bram hanya mengangguk, sebagai tanda setuju.
Satu jam kemudian, sampailah Reyhan dan Bram dirumahnya. Memarkirkan mobil di garasi rumah, serta membawah barang-barang yang sejak beberapa hari lalu di gunakan dirumah sakit membuat Reyhan sedikit kerepotan.
"Mau Papa bantu, Rey."
"Nggak usah, Pa. Rey bisa balik lagi, atau panggil bibik saja." Rey sambil membawah beberapa barang di tangannya. Begitu masuk, keduanya di kagetkan dengan kejadian yang membuat keduanya kaget, dan Reyhan juga tidak pernah menyangka sebelumnya.
"Cepat! atau aku akan benar-benar menghabisimu."
__ADS_1
Terima kasih, masih setia sama Reyhan dan Hanna, jangan lupa tao jempolnya ya, komen gift juga rate dan vote, pokoknya jangan lupa tinggalkan jejaknya.
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan, jaga kesehatan jangan lupa bahagia, 😘