
'Setiap individu mempunyai arti cinta masing-masing. Yang berbeda hanya caranya, mau mengutarakannya atau menyimpannya. Bagi saya memiliki seseorang yang saya cintai bukanlah hal yang sulit, yang sulit adalah bagaimana menjaganya untuk tetap bahagia bersama saya.
Saya pernah belajar dari seseorang yang dulunya lumayan berarti untuk saya. Katanya," bahagia itu bisa datang dari mana saja. Kalau kita sayang sama orang, kita pasti mau dia selalu bahagia walau bukan bersama kita."
Dan saya percaya karena yang saya rasakan saat itu memang hanya kebahagiaannya yang saya mau, meski bukan pada saya. Sulit memang. Tapi percayalah ..., memiliki seseorang yang hatinya bukan untuk kita itu jauh lebih menyakitkan, daripada mengikhlaskan orang yang kita cintai untuk orang lain yang bisa membuatnya bahagia.
Beriringnya waktu, saya kembali merasakan hal yang sama. Kepada dia, orang yang selalu memandang saya, sebagai versi terbaik saya dengan segala keburukan yang saya punya. Orang yang mungkin disediakan Tuhan untuk menemani saya dikala sepi.
Mulanya saya sangat ingin memilikinya, tapi ternyata ada hati lain yang sedang menjaganya. Saya tidak tahu harus berbuat apa saat itu. Yang saya tau, saya tidak ingin merusak dongeng wanita lain, yang mungkin dengan wanita itu dia jauh lebih bahagia daripada bersama saya yang sangat jauh dari kata sempurna.
Pada akhirnya saya kembali memasrahkan kehendak bukan memaksakan kehendak-Nya. Saya hanya bisa meminta semoga Tuhan selalu menjaganya dan membuatnya selalu tersenyum.
Setelah itu, saya sadar, mencintai orang itu tidak semudah kita ingin memilikinya, tapi dengan sesulit kita membuatnya bahagia.
By: Kataa.fiersa
🍂🍂🍂
Selamat membaca.
Riska yang sejak tadi menunggu di luar ruangan meeting itu membuatnya sedikit gusar, pasalnya setelah Reyhan menyuruhnya untuk keluar hingga saat ini belum ada tanda-tanda Ria keluar dari ruangan itu, sehingga membuatnya tidak tahu apa saja yang di bicarakan antara suami istri itu.
"Riska, bisa keluar dulu!" Reyhan menyuruh Riska untuk keluar dari ruangan itu.
Walau dengan berat hati, dia tetap melangkah keluar dari ruang meeting itu, hanya menyisakan Reyhan, Ria dan salah seorang kepercayaan Reyhan dikantor itu.
"I-iya, Tuan." Riska sembari menunduk dan segera keluar dari ruangan itu. Dalam hati Riska mengumpat Reyhan.
"Brengsek, bisa-bisanya ngusir gue. Tunggu saja tanggal mainnya," umpannya dalam hati.
*
__ADS_1
Ketiga orang yang berada di dalam ruangan itu sedang bernegosiasi dengan salah seorang staf terbaiknya.
"Bim, saat ini posisi papa tidak ada yang mengisi. Karena perusahaan ini telah diwariskan kepada ku, maka aku yang akan menggantikan posisi papa. Sementara kamu, orang yang selama ini menjadi orang yang penting buat ku, maka kamu aku naikkan jabatan kamu menjadi wakil CEO. Bagaimana?" Tanya Reyhan kepada Bima, orang yang selama ini menjadi tangan kanan Reyhan.
Reyhan menoleh juga ke arah Ria, Ria hanya menganggukkan kepala sebagai tanda setujuan atas keputusan Reyhan. Bukan tanpa alasan Reyhan memilih Bima. Dia salah satu orang yang sangat bisa diandalkan dalam berbagai hal dan keadaan. Sehingga membuat Reyhan sangat mempercayainya.
"Apa tidak berlebihan!" Sahut Bima.
"Nggak ada lagi yang bisa diandalkan selain kamu! Dicky sudah aku tugaskan mengurus perusahaan ku yang di Surabaya. Sementara aku sendiri apa sanggup menangani keduanya, aku butuh orang hebat seperti kamu," ujar Reyhan.
"Bu Ria! Kenapa tidak beliau saja, dia lebih berkompeten dalam hal ini, dia juga istri kamu."
"Tidak! Dia harus bayak istirahat, dan di rumah saja bersama Hanna. Mereka tidak perlu bekerja, tugas mereka hanya menikmati hasilnya saja." Reyhan tersenyum kearah Ria. Sementara Ria membalas senyuman sang suami.
Akhirnya Bima pun menerima jabatan baru yang di berikan oleh Reyhan dan Ria. Semua lega, seluruh jabatan sudah ada yang mengisi sesuai kemampuannya masing-masing. Kini Bram bisa tenang di alam sana. Kehidupan Ria, kedua cucunya dan perusahaannya sudah berada di tangan yang tepat.
*
"Apa aku telpon saja, ya! Pikiran ku kok jadi nggak enak gini, sih?" Tanya Hanna dalam hati.
Belum sempat Hanna menelpon, suara mobil yang baru saja memasuki halaman rumahnya tiba-tiba saja berhenti. Hanna segera melihat siapa yang datang. Hanna begitu legah saat tau Ria lah yang datang. Dia segera menghampiri Ria dan segera memelukmu.
"Hei! Kamu kenapa malah nangis, ada masalah apa, Na?" Tanya Ria.
"Aku khawatir sama, Mbak!" Jawabnya.
"Aku baik-baik saja. Aku pikir kamu masih di rumah mama, jadi aku tadi ke kantor, karena ada beberapa kepentingan disana," jelas Ria.
"Ya sudah! Mbak kedalam sama saya saja ya. Biar Riska ada waktu buat istirahat." Hanna mencari kesempatan untuk bisa berbincang berdua dengan Ria. Hanna ingin menanyakan secara langsung tentang kejadian tadi pagi.
"Mbak mau ganti baju dulu, atau makan siang dulu," Hanna menawarkan.
__ADS_1
"Ganti baju saja dulu, mbak masih belum lapar," terang Ria. Keduanya masuk kedalam kamar tidur Ria, saat ini Hanna yang melayani Ria, sama seperti dulu sewaktu belum mempekerjakan Riska.
Hanna pun akhirnya menanyakan perihal kejadian tadi pagi, sama persis seperti apa yang telah diceritakan oleh Hafidz.
"Mbak hati-hati ya, takutnya apa yang dikatakan Hafidz ada benernya juga. Ya, muda-mudahan sih, enggak," ujar Hanna.
"Iya, Mbak akan lebih hati-hati lagi." Ria sembari memakai pakaian dengan di batu Hanna.
*
Riska yang sedang berada di ruangan tidurnya sedang menelpon Alvin di seberang sana. Dia menceritakan tentang semua yang di dengarkan tadi. Secara detail, karena tadi laporannya hanya secara singkat.
" Itu laki dapat warisan paling banyak, sementara istri dan kedua anak kamu hanya dapat seperempatnya saja. Ini tidak adil, seharusnya anak-anak yang mendapatkan lebih banyak, karena mereka cucu pemilik perusahaan itu," terang Riska.
Saat sedang asik berbincang, tanpa Riska ketahui ada seseorang yang sedang mendengarkan pembicaraannya di balik pintu, seraya mengintip lewat celah pintu yang terbuka sedikit itu.
Siapa yang menguping pembicaraan Riska ya gaess? Ada yang tahu, yuk jawab yuk.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya gaesss.
Like
Komen
Vote
Gift
Rate
Favorit.
__ADS_1
Terima kasih, jejak ya gaesss. 😘