Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 85


__ADS_3

Semburat sinar cahaya rembulan mulai memancar dari peraduannya, cahaya sinar mentari pun telah tergantikan. Malam yang gelap berubah menjadi terang yang temaram. Begitupula keadaan Reyhan saat ini, sesuai janjinya, dia akan menemani Ria tidur dan memeluknya sebagai salam perpisahan antara dirinya dan dan Ria.


Sore tadi Reyhan meminta kepada pihak rumah sakit untuk mengganti bad yang di gunakan Ria agar bisa ditempati lebih dari satu orang. Karena dia berencana akan mengabulkan permintaan Ria.


"Mas Rey, apa kamu yakin akan tidur dengan orang yang penyakitan ini?" Tanya Ria sembari melihat ke arah Reyhan.


"Kenapa tidak!" Membahagiakan istri atau suami itu adalah ibadah. Jadi, apa salahnya." Jawab Reyhan.


Ria terenyuh mendengar ucapan Reyhan, butiran bening dari manik hitam itu lolos mengalir begitu saja. Hatinya benar-benar rapuh untuk saat ini. Ternyata benar adanya, penyesalan itu datangnya di akhir cerita.


Ria dengan segera mengusap pipinya yang basah, dia takut kalau Reyhan sampai mengetahui kesedihannya. Dia tidak ingin suasana malam ini menjadi nuansa melow di perpisahannya dengan Reyhan.


"Mas, bolehkah aku menghubungi Hanna?" Tanya Ria.


"Kenapa tidak!" Reyhan merogoh kantong dan mengambil ponselnya yang di taruh disana.


Beberapa saat kemudian, terlihatlah Hanna di layar ponsel Reyhan. Iya, Reyhan melakukan panggilan vidio kepada Hanna.


"Assalamu'alaikum, Mbak! Apa kabar hari ini?" Tanya Hanna begitu melihat Ria yang sedang berada di seberang sana.


"Ya masih tetap sama, Na. Kamu sendiri bagaimana?" Tanya Ria balik.


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja," jawab Hanna.


"Apa kamu tidak ada keinginan untuk pulang, Na?" Tanya Ria.


"Nanti, Mbak! Setelah kontrak kerjaku berakhir aku akan pulang. Tapi, mbak jangan khawatir aku akan sering berkunjung ke Jakarta.


" Terima kasih ya, Na. Telah menjadi madu terbaik buat ku, istri dan ibu terbaik juga buat mas Reyhan dan anak-anak ku." Ria mengusap air matanya. Sementara Hanna juga menangis mendengar ucapan Ria.


Reyhan yang baru saja dari kamar mandi merasa penasaran apa yang sedang di bicarakan Ria dan Hanna, dia segera mendekat ke brankar Ria.


"Lha, kenapa pada nangis?" Reyhan bertanya kepada keduanya.

__ADS_1


"Biasa, Be. Wanita lagi curhat, jangan ikutan nanti kebawa suasana lho," sahut Hanna memecah ke sedihan.


"Na, aku mau bilang sesuatu, tapi kamu jangan cemburu ya." Reyhan sambil tersenyum.


"Bilang saja, Be. Aku nggak akan cemburu," sahut Hanna.


"Ini, istri pertama minta di kelonin, boleh nggak?" Tanya Reyhan di selingi candaan.


"Terserah kamu, Be. Dia kan istri kamu juga," ucap Hanna walau dalam hatinya sangat menolak.


" Ya sudah, aku pamit dulu, besok kita telponan lagi," Hanna berpamitan kepada keduanya.


"Assalamu'alaikum," ucapnya sembari tersenyum, menahan air mata yang sebentar lagi pasti akan jatuh.


"Waalaikumsalam," balas Reyhan.


Namun saat Hanna akan mematikan ponselnya Reyhan melihat ada sesuatu yang di sembunyikan oleh istri keduanya itu. Reyhan bisa melihat itu, karena dia tau betul Hanna tidak pernah mematikan ponselnya terlebih dahulu saat melakukan panggilan.


***


"Istri pertama minta di kelonin, boleh nggak!" ucapan Reyhan itu terus saja membuat Hanna berpikiran yang tidak-tidak.


"Apa aku cemburu? Ini tidak boleh terjadi, mas Reyhan bukan cuma milikku seorang. Tapi dia juga miliki mbak Ria." Hanna duduk sembari memeluk ke dua lututnya.


Tidak lama kemudian, ponsel Hanna kembali berbunyi nyaring. Dilihatnya layar ponsel itu, dan ternyata Reyhan kembali menghubunginya. Namun, panggilan itu di abaikan oleh Hanna. Beberapa saat kemudian, setelah ponsel berhenti berbunyi dengan segera Hanna menonaktifkan ponselnya. Dia tidak mau Reyhan terus menghubunginya.


Hanna menuju kamar mandi mencuci mukanya yang sejak beberapa saat lalu di penuhi dengan air mata. Kini dia merasa segar dan segera menuju tempat tidurnya untuk beristirahat. Namun, hingga tengah malam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Matanya terpejam, tapi tidak dengan telinga dan hatinya. Masih terjaga dengan sempurna.


*


Di ruang rawat VVIP, Reyhan dan Ria tidur diatas brankar yang sama, keduanya sama-sama gerogi. Hingga akhirnya Reyhan membuka pembicaraan di antara keduanya.


"Ri, apa kamu mengharapkan lebih?" Tanya Reyhan.

__ADS_1


"Tidak, Mas. Aku bisa tidur di samping kamu sudah cukup bahagia, aku sadar kok, Mas. Aku tidak akan pernah mendapatkan hal yang lebih dari ini. Karena aku hanya seorang wanita yang penyakitan," tutur Ria.


Reyhan berpindah posisi, dari yang awalnya telentang, kini miring menghadap ke arah Ria.


"Bolehkah aku memelukmu?" Tanya Reyhan meminta izin.


Ria hanya mengangguk, memberikan isyarat bahwa dirinya memberi izin kepada Reyhan untuk memeluknya. Kini keduanya dalam posisi berhadapan, dan Reyhan memeluk Ria. Menuntaskan janjinya sebelum akhirnya benar-benar berpisah.


Ria menangis sesenggukan, mengingat semua kejadian di masa lalu, saat dirinya hanya memanfaatkan Reyhan, mendzolimi Reyhan sebagai seorang suami.


"Kenapa kamu malah menangis? Tidurlah, aku akan menemanimu sampai kau terlelap. Jangan pikirkan apapun, semangat lah, berjuanglah, demi anak-anak, demi hidupmu," tutur Reyhan.


"Andai dulu aku bisa menerima perjodohan itu, mungkinkah kita akan bahagia? Mungkin kita tidak akan pernah berpisah," sesal Ria.


"Yang lalu biarlah berlalu, jangan pernah pernah kamu mengungkitnya lagi, karena hanya akan ada luka yang terlihat. Tataplah masa depan, karena mereka yang akan kita jalani. Biarlah masa lalu menjadi kenangan yang entah itu bisa disebut indah atau tidak. Kita simpan saja. Kita tutup rapat-rapat. Jangan sampai kita mengulang lagi. Kita harus lebih baik di masa depan." Reyhan sembari mengelus punggung Ria.


"Terima kasih, Mas. Atas semua kasih sayang mu selama ini, dan aku minta maaf, belum bisa menjadi istri seutuhnya buat kamu, belum bisa membahagiakanmu. Dan aku juga terimakasih telah menjaga dan mendidik anak-anak dengan baik." tutur Ria sesenggukan.


"Sudah, tidurlah!" Perintah Reyhan.


Tidak lama akhirnya Ria benar-benar terlelap dalam dekapan Reyhan. Aroma parfum Reyhan yang maskulin membuat siapapun yang menghirupnya menjadi lebih tenang, sehingga Ria pun bisa terlelap dengan cepat.


Ke esok anda paginya, saat Ria terbangun, Reyhan sudah tidak ada lai di sampingnya. Semalam dia melihat ada seseorang yang berusaha menyusup ke dalam ruangan Ria. Tepat jam satu dini hari. Pintu rumah sakit yang tidak terkunci dibuka perlahan, berjalan mendekat menuju brankar Ria.


Lampu yang temaram membuat Reyhan tidak begitu jelas melihat siapa yang masuk. Namun, Reyhan tau dan mengenali salah satu suara dari mereka.


"Lha, di rumah sakit malah bermesraan, di kira ini hotel apa, ya!" Ucap salah seorang penyusup.


"Besok aja kita balik lagi, kalau dia tidak aja yang menjaga, kita bisa leluasa melakukan tindakan," jawab yang lainnya.


"Apa maksud mereka?" Tanya Reyhan bermonolog.


Setelah kedua penyusup itu keluar, Reyhan segera beranjak dari tempat tidurnya. Mengejar penyusup, dan naasnya Reyhan kalah cepat dengan kedua orang itu.

__ADS_1


🍂


pembaca yang bijak jangan lupa tinggalkan jejak ya gaess, like, komen, vote, rate, gift, juga favorit. Terima kasih 😘


__ADS_2