Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 87


__ADS_3

Tidak semua wanita tertarik dengan ketampanan, tidak semua wanita juga tertarik dengan harta bendamu.


Ada wanita yang berdo'a." Ya Allah, jodohkanlah aku dengan laki-laki yang paham agama, agar kelak bisa membimbingku menuju ke surga-MU.


🍂


Seminggu sudah David mencari tahu tentang siapa Yudha. Dengan senyum yang mengembang dia menuju ruangan Reyhan di kantor milik Bram. Sesampainya di depan pintu dia segera mengetuk dan masuk ke ruangan itu.


"Misi selesai!" David dengan mengulurkan amplop berwarna coklat ke arah Reyhan.


Reyhan membuka amplop itu. Betapa terkejutnya dia saat tahu siapa dalang di balik semua peristiwa yang terjadi selama ini.


"Jadi ...," Reyhan menjeda ucapnya.


"Iya, itu mereka. Apakah Anda mengenalnya?" Tanya David.


"Sangat! Alvin dulu kekasih Ria." Reyhan terus membuka foto-foto yang diberi David.


"Jadi, semua ini ada hubungannya dengan bu Ria, pasti ada sesuatu yang menjadi tujuan mereka," ucap David.


"Harta!" Jawab Reyhan tegas.


*


Sementara di tempat lain, Yudha sedang menunggu Aqila dan Hafidz keluar dari tempat mereka bersekolah. Hampir dua jam dia menanti kepulangan ke dua kakak beradik itu.


"Lama benar, sampai kapan ini nungguin mereka." Yudha kembali masuk ke dalam mobilnya.


Tidak lama kemudian keluar lah Aqila dan Hafidz dari sekolah. Yudha yang melihat sedikit lega. Namun, hampir saja dia kehilangan jejak keduanya. Dengan segera Yudha turun dari dalam mobil dan berjalan sedikit cepat untuk mengejar Aqila dan Hafidz.


"Hai, tunggu!" Panggil Yudha kepada ke dua anak Ria.

__ADS_1


Sontak keduanya menoleh ke arah sumber suara. Berhenti sejenak, menunggu orang yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Ke dua anak itu saling berpandangan, mencari tahu siapa orang yang baru saja menghentikan langkah kaki mereka.


"Aqila dan Hafidz," sapanya sok kenal.


"I-iya, Anda siapa ya?" Tanya Aqila.


"Kalian bisa panggil saya Om Yudha. Om kerabat ayah kamu," jelasnya.


"Eh, iya Om. Ada apa ya, Om?" Tanya Aqila.


"Kalian bisa ikut Om sebentar, nanti Om antarkan pulang," pinta Yudha.


"Maaf, Kita sudah di tunggu supir, Om." Qila sambil menunjuk mobil hitam di seberang jalan.


"Emm, Om bisa tanya sesuatu?" Tanya Yudha.


"Mau tanya apa, Om," selidik Aqila.


"Bukan!" Sahut Hafidz.


"Kita anak kandung papa Reyhan. Kita juga tidak kenal Alvin," ucapnya lagi.


Yudha tercengang mendengarkan ucapan mereka. Bingung, itulah yang dirasakan Yudha saat ini. Tidak lama kemudian Yudha di kagetkan dengan ucapan Aqila.


"Om, kenapa Om masih menanyakan soal itu kepada kita, kalau benar Om kerabat kita seharusnya Om tau, kita anak siapa. Tanpa bertanya kepada kita." Aqila menggandeng tangan sang adik.


"Dek, kita lari saja. Dia bukan orang baik." Aqila dan Hafidz segera berlari menuju mobil yang sudah menunggu mereka.


"Eh, jangan lari. Tunggu!" Yudha mengejar kedua anak itu. Langkah keduanya lebih cepat sehingga Yudha gagal mengajak keduanya.


***

__ADS_1


"Lho, kok pada lari-lari. Kenapa ini?" Tanya Bang Edi.


"Bang Edi, kenal dengan orang itu tidak?" Aqila menunjuk keberadaan Yudha yang tidak jauh dari mobil mereka.


Sejenak, sang supir memperhatikan orang yang hanya terlihat punggungnya saja. Begitu menoleh barulah kelihatan. Siapa orang di balik punggung kekar itu.


"Kalain di apain sama dia?" Tanya Edi penuh selidik.


"Orang itu memaksa kita buat pulang bareng sama dia karena mencurigakan ya kita lari saja," terang Hafidz.


"Syukurlah, lain kali kalau bukan abang yang jemput kalian jangan mau ya diajak pulang. Sudah terbukti kan, ada orang jahat di sekeliling kita," tutur Edi sang supir.


*


Di kediaman Ria, dia sedang beradu mulut dengan Alvin. Beberapa saat lalu dia datang menemui Ria. Dia menanyakan tentang siapa ayah dari kedua anak itu. Namun, karena Ria masih menyangkal sehingga Alvin bener-bener marah kepada Ria.


"Cepat katakan, siapa ayah kandung mereka!" Sentak Alvin sembari mencekik leher Ria.


"Lepaskan! Lepaskan! Brengsek. Ria terus berontak. Usahanya sia-sia dia kalah karena Alvin terus saja memojokkannya.


" Bunuh saja aku, itu lebih baik. Daripada aku harus hidup hanya bisa menyusahkan orang lain. Aku akan sangat berterimakasih jika kamu mau melakukan itu," ucap Ria dengan terbata.


"Cepat katakan, siapa ayah mereka sebenarnya." Alvin semakin mengencangkan cekikannya.


***


Cuss tunggu up selanjutnya ya gaess. Siapa nih yang bakal nolongin Ria. Apakah Ria dia masih tertolong atau malah sebaliknya 🤔. Sabar dulu ya.🤭


🍂


Alhamdulillah, akhirnya bisa up lagi. Maaf ya beberapa hari menghilang. Jangan lupa tingalkan jejak ya gaess. Terima kasih 😘.

__ADS_1


__ADS_2