
Tepat jam 04.30 pagi, dering alarm dari ponsel Reyhan berbunyi dengan nyaring, tangannya mencari keberadaan ponsel yang sejak semalam di taruhnya diatas nakas. Sejenak dia melihat jam yang tertera di layar ponsel itu.
"Ah, sudah setengah lima saja, aku harus segera bersiap." Walau mata masih enggan terbuka tapi Reyhan berusaha untuk bangun. Segera pulang ke rumah, dan melihat keadaan istri cantiknya itu membuat Reyhan bersemangat.
Setelah selesai bersiap Reyhan segera pergi ke lantai bawah. Sesampainya disana, dia melihat sudah ada sangat mertua duduk di meja makan. Dia lalu mendekati Bram yang sedang menyeruput kopi hitam di depannya.
"Pagi, Pa," Reyhan menyapa sang mertua.
"Pagi, kamu tidak ke kantor?" tanya Bram melihat Reyhan hanya memakai kaos dan celana jeans panjang.
"Bukannya sudah di urus Ria," ucap Reyhan.
"Apa maksud mu?" tanya Bram lagi.
"Ria tidak bilang sama Papa. Kalau dia akan memegang semua perusahaan Papa," terang Reyhan.
"Ria tidak bilang apapun," jawab Bram.
"Ria meminta Rey untuk pergi dari perusahaan Papa. Dia bilang sudah bisa mengurusnya sendiri. Makanya Rey memilih mengurus perusahaan Reyhan sendiri yang di Surabaya, karena disana sedang membutuhkan tenaga Rey, Pa," terang Reyhan.
"Rey pamit Pa, mau jemput anak-anak." Rey berdiri hendak pergi. Namun, Bram kembali memanggilnya.
"Rey,"
"Iya, Pa." Jawab Rey sambil berbalik.
"Jangan pernah pergi dari perusahaan Papa, Rey. Papa masih butuh kamu," pinta Bram.
"Sudah ada Ria, Pa. Dia sudah bisa mengatasinya.
__ADS_1
Bram tidak menjawab, dia hanya menelaah di setiap ucapan yang keluar dari mulut Reyhan.
Merasa tidak mendapat pertanyaan lagi, Reyhan langsung berpamitan kepada Bram.
" Rey berangkat, Pa! Assalamu'alaikum." Reyhan sambil beranjak dari duduknya.
Dalam perjalanan Reyhan terus saja tersenyum, rasa bahagia yang selalu menyelimutinya sejak bertemu Hanna, membawa hawa positif dalam diri Reyhan. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Reyhan sampai juga di rumahnya.
"Assalamualaikum," ucapnya saat memasuki rumah mewah miliknya itu.
"Waalaikumsalam," Jawab sang Papa sembari fokus pada ponselnya.
"Kok sepi, Pa! Pada kemana?" tanya Reyhan.
"Ada kok, di dalam.
Reyhan langsung saja beranjak mencari keberadaan sang Istri. Sementara yang Reyhan cari sedang asik menyiapkan keperluan kedua anaknya." Sudah selesai, tinggal sarapan lalu berangkat." Ucap Hanna sambil memasang tas ke punggung anak sambungnya itu.
"Rey, kapan pulang?" tanya Rita.
"Barusan, Ma." Reyhan mendekati Hanna dan mengecup singkat kening wanita cantik itu.
"Pasti uda kangen sama Nana." Rita sambil menyentong nasi, di taruhnya di atas piring Hafiz.
Nana tersipu mendengar ucapan sang mertua. Seketika membuat rona wajahnya memerah, membuat Reyhan semakin gemes melihat istrinya itu.
"Iya dong, Ma. Siapa sih yang tidak kangen sama istri cantik kayak gitu."
Hanna menoleh ke arah Reyhan, sementara Reyhan hanya tersenyum jahil, sehingga membuat Hanna semakin tersipu di buatnya.
__ADS_1
Seusai sarapan, Reyhan berpamitan pergi ke perusahaan milik Bram, bukan dia ingin kembali kesana, akan tetapi dia mengambil beberapa barangnya yang masih tertinggal disana. Sementara Hanna bertugas mengantarkan kedua anak sambungnya itu.
"Sayang kamu hati-hati ya, aku kekantor dulu." Reyhan berpamitan kepada Hanna.
"Iya, kamu juga hati-hati ya." Hanna mencium tangan Reyhan.
"Dada, Pa. Kita masuk dulu." Aqila dan Hafiz bergantian mencium kedua tangan orang tua itu.
"Nggak boleh nakal, dengerin apa saja kata ini ibu guru." Pesan Nana sembari membenahi topi Hafiz yang miring.
"Sudah, aku nunggu taksi disini saja, sebentar lagi datang kok," ucap Hanna.
"Hati-hati, aku berangkat." Reyhan melambaikan tangan sembari melakukan mobilnya.
Sementara di seberang sana ada sosok perempuan sedang mengawasi Reyhan dan Hanna. Dia begitu penasaran dengan wanita yang baru saja mengantarkan anaknya kesekolah.
"Siapa dia? Kenapa begitu akrab dengan keluarga Mas Reyhan. Kenapa aku tidak pernah melihat dia sebelumnya." Selorohnya dalam hati.
Hampir setengah jam Hanna menunggu taksi online pesanannya, namun tidak kunjung datang. Membuat Hanna mulai merasa bosan duduk di halte depan sekolah tempat kedua anak sambungnya itu bersekolah.
Sementara Ria yang berada di seberang jalan memutuskan untuk mendatangi perempuan cantik berhijab itu. Rasa penasaran yang membuatnya tidak sabar lagi untuk mengetahui siapa wanita itu sebenarnya.
Belum juga Ria sampai di tempat Hanna duduk, taksi online yang Hanna pesan sudah datang, membuat Ria sedikit kesal. Hanna naik ke dalam mobil itu, sementara Ria mengumpat karena terlambat mendatangi Hanna.
"Brengsek, brengsek, sialan. Kenapa harus pergi sih, kan gue belum tanya siapa loe?" Ria sambil berjalan menuju mobilnya.
"Pokoknya gue harus bikin perhitungan sama itu perempuan, Ria menutup pintu mobilnya dengan kasar.
πππ
__ADS_1
Terima kasih, masih setia dengan Reyhan Dan Hanna. Jangan lupa tap jempolnya ya π, komen juga, biar syfa tau dimana kurang karya ini.
Selamat menunaikan ibadah puasa, jaga kesehatan jangan lupa bahagiaπ.