Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 71


__ADS_3

Jangan menunggu bahagia untuk merasa bersyukur. Namun bersyukurlah atas apa yang kamu miliki. Maka, kebahagiaan pun akan kamu rasakan.


Tak perlu menjerit karena rasa sakit, tak perlu cemburu hanya karena kau tak mampu, tahukah kamu? Bahwa kebahagiaan itu tidak akan pernah tertukar. Meski hidup di hadapkan pada pilihan yang sulit. Tapi, percayalah bahwa Tuhan memiliki cara tersendiri untuk membuatmu bahagia.


🍂


"Be, jika hadirku memang tak kau inginkan, aku siap untuk pergi." Hanna mengusap air mata yang tak mau berhenti mengalir.


"Apa maksud kamu!" Reyhan dengan suara meninggi.


"Ceraikan saja aku, Be. Aku ikhlas, sejak awal aku memang sudah salah. Hadir di antara kalian yang sudah menikah." Hanna sembari memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.


"Hentikan Hanna, hentikan!" Reyhan membuka kembali koper yang sudah siap di bawah itu.


"Maafkan aku, aku tidak sanggup lagi." Hanna semakin menangis dengan tangan terus membereskan pakaian yang berserakan di lantai akibat ulah Reyhan.


"Aku tidak akan pernah menceraikanmu,sampai kapan pun tidak akan pernah, ingat itu!" Reyhan keluar dan membanting pintu dengan kasar.


Sementara Ria yang beberapa saat lalu baru pulang dari rumah sakit sedang asik menikmati tidurnya di ranjang big size itu. Reyhan datang dengan tiba-tiba hingga membuatnya terkejut.


"Mas Rey! Apa kamu tidak bisa masuk dengan mengetuk pintu dulu," protes Ria.


Reyhan tersenyum getir, darahnya sudah mendidih. Akibat ulah Ria, Hanna menjadi uring-uringan. Sejak beberapa waktu lalu dia selalu saja ingin pergi dari rumah itu.

__ADS_1


"Tidak perlu sopan santun untuk masuk ke kamar kamu, dan satu lagi aku ingatkan Ria. Jika Hanna memaksa pergi dari rumah ini, berarti aku juga akan pergi meninggalkan kalian. Ingat itu!" Reyhan menunjuk muka Ria dengan tatapan tajam.


"Apa maksud kamu?"


"Sudah jelas Ria, maksud ku. Jadi kamu bersiap-siaplah untuk aku tinggalkan. Karena kamu tau sendiri bukan, pernikahan kita hanya sebatas perjodohan. Bukan atas dasar cinta," ucap Reyhan.


Reyhan keluar meninggalkan ruangan itu, sementara Ria hanya tercengang mendengar ucapan Reyhan. Hanna yang membawah kopernya dari lantai atas membuat Reyhan bertambah marah.


Hanna terus saja berjalan melewati Reyhan, dan setibanya di depan kamar Ria dia menghentikan langkahnya. Di taruhnya koper itu di depan pintu kamar Ria, dia segera membuka dan masuk ke kamar Ria.


Reyhan langsung mengekori Hanna, ingin tau apa yang akan dikatakan oleh Hanna kepada Ria. Melihat Reyhan ikut masuk, dengan segera Hanna mengatakan tujuannya kepada Ria.


"Mbak, Hanna pamit. Maaf, kalau selama ini hanya menjadi benalu di keluarga, Mbak. Aku janji tidak akan pernah lagi mengganggu kehidupan rumah tangga Mbak, Maaf." Hanna membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggal Ria.


"Meraka anak kandung mu, Mbak! Itu kewajiban Mbak untuk mendidik dan mengasuh mereka hingga dewasa. Karena Mbak orang tuanya," ucap Hanna.


Hanna melangkah pergi, sementara tanpa berucap apapun Reyhan mengikutinya dari belakang. Aqila dan Hafidz yang melihatnya segera berlari mendekati sang mama sambung itu.


"Ma, Mama mau kemana? Mama jangan pergi!" Ucap Hafidz dan Aqila.


"Maafkan Mama, tidak bisa merawat kalian, lagi. Kalian janji, harus menjadi orang baik, dan berguna buat semuanya. Jangan pernah menyusahkan orang lain, tetap rendah hati." Hanna berucap sembari memeluk keduanya.


Hanna melepaskan pelukannya, dia ingin melangkah pergi namun tetap di cegah oleh kedua anaknya itu.

__ADS_1


"Jangan pergi, Ma. Kita sayang sama Mama," ucap Hafidz.


Aqila menoleh, melihat sang papa yang sedang berdiri di belakangnya, dia seger menanyakan Keingintahuan nya tentang Alvin.


"Pa! Apa benar Qila sama Hafidz bukan anak kandung Papa?" Tanya Aqila.


Dengan menarik napas, Reyhan mengatakan semuanya tentang Aqila, Hafidz, dan Alvin. Aqila menangis dengan segera dia memeluk Hanna.


"Kalian jangan bersedih, sebenarnya semua ini akan Papa kasih tau ke kalian nanti, setelah kalian berusia delapan belas tahun sesuai amanat dari opa kalian. Tapi, karena kalian lebih dulu mengetahui semuanya, jadi Papa ceritakan semuanya sekarang," terang Reyhan.


Semua terdiam mendengar ucapan Reyhan, sementara Ria yang Reyhan memberitahukan tentang Alvin menjadi murka.


"Apa yang kamu katakan, Rey! kenapa kamu memberitahu tentang Alvin kepada mereka. aku tidak sudi Alvin menjadi ayah mereka," ucap Ria dengan penuh emosi.


"Karena Alvin ayah kandung mereka!" Bentak Reyhan.


"Ayah macam apa, dia," ucap Ria lagi.


"Seburuk atau sebobrok apapun Alvin, dia tetap ayah kandung mereka. jadi mereka berhak tau semuanya," sahut Alvin tak kalah emosi.


🍂


Hanna jadi pergi nggak ya🤔, sambil nunggu up selanjutnya jangan lupa mampir ke karya temen Syfa, Kepedihan Jiwa karya Rima Junia Ermolina. Ditunggu jejaknya ya gaesss, Like, komen, vote, gift, rate, juga favoritnya.

__ADS_1



__ADS_2