Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Pillow Talk


__ADS_3

Lisa baru saja tersadar dari rasa terpesonanya saat Rizal sudah berada di dekatnya dan memegang kedua pundaknya. Pandangan mereka bertaut tanpa ada lagi sepatah kata pun. Semakin lama semakin dekat.


Lisa hanya mampu memejamkan matanya tapi dia tidak merasakan apa pun, hanya ada satu tiupan yang berhasil menyapu wajahnya.


Rizal tertawa melihat wajah tegang Lisa. "Udah, jangan tegang dulu."


Lisa membuka matanya dan menatap tajam Rizal yang sangat suka menggodanya.


"Lebih baik kita penuhi nafsu makan dulu, soalnya untuk memenuhi nafsu lainnya butuh tenaga ekstra."


Lisa sedikit mendorong Rizal agar memberinya jalan, lalu membuka almari dan mengambil baju untuk Rizal. "Pakai yang ini?"


"Iya." Rizal mengambil pakaian yang ada ditangan Lisa dan segera memakainya.


Lisa berlalu dan duduk di sofa. Sudah ada makanan yang tersaji di meja tapi Lisa hanya menatapnya. Entah kenapa perutnya tidak terasa lapar. Entah karena saking senangnya atau saking geroginya.


"Ayo makan dulu, kamu dari tadi belum makan loh." Rizal duduk di sebelah Lisa lalu mengambilkannya sepiring nasi yang sudah lengkap dengan lauknya dan meletakkannya di depan Lisa. "Makan ya.."


Lisa menganggukkan kepalanya. Dia mulai memakannya, sesuap, dua suap lalu berhenti dan hanya mengaduk-aduk makanannya.


"Kenapa?" tanya Rizal. Dia menaruh sendoknya dengan nasi yang sudah hampir habis. "Sini aku suapin." Rizal mengambil alih sendok yang berada di tangan Lisa lalu menyuapinya.


"Kak, aku gak enak makan."


"Gak! Kalau sama aku, kamu harus makan."


Lisa akhirnya membuka mulutnya dan memakan suapan demi suapan yang Rizal berikan sampai habis.


"Belum ada sehari istri aku udah manja banget. Kalau tadi gak enak makan bilang aja kalau mau disuapin. Aku mau kok suapin kamu tiap hari."


Lisa memakan suapan terakhir. Dia sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba rasa makanan itu berubah jadi lebih enak karena suapan dari Rizal. "Makasih ya, kak."


Rizal menaruh sendok Lisa lalu dia melanjutkan makannya yang tinggal sedikit. Setelah habis baru Rizal bersuara lagi. "Gak usah bilang makasih. Kamu sekarang udah jadi tanggung jawab aku." Rizal menarik tubuh Lisa hingga kini berada dalam pelukannya. Dia kecup kening Lisa sebagai ungkapan tanda sayangnya. "Tidur yuk?! Kamu gak capek?"


Lagi-lagi jantung Lisa sangat berdebar. Mendengar Rizal mengajaknya tidur saja sudah berhasil membuatnya resah.


"Kenapa? Kok jadi tegang gini kayak mau ujian aja." Rizal melepas pelukannya lalu menatap Lisa. "Mau di gendong?"

__ADS_1


Pipi Lisa terasa memerah. Dia seketika berdiri dan berjalan menuju ranjang. Merebahkan dirinya di sisi kanan.


Rizal tersenyum lalu menyusul Lisa dan langsung merebahkan dirinya di sisi Lisa. "Masih belum biasa sama hal baru kayak gini ya? Lama-lama juga biasa kok." Mereka kini saling berhadapan.


Lisa masih saja memeluk guling seperti biasanya hingga membuat tubuh Rizal terhalang. "Kenapa masih pakai guling, kan sudah ada aku." Rizal menarik guling hingga terlepas dari tangan Lisa lalu menyingkirkannya.


"Kak, aku gak bisa tidur kalau gak pakai guling."


"Bisa." Rizal mendekatkan dirinya lalu menarik tangan Lisa agar memeluknya.


Lisa hanya menurutinya walau dadanya terasa sangat sesak karena dekat dengan Rizal dengan posisi yang tak biasanya.


"Akhirnya kita sampai di posisi ini, setelah apa yang telah kita lalui. Aku sangat bahagia bisa menikah sama kamu." Lagi, Rizal mencium kening Lisa lalu membelai rambut Lisa.


"Iya, aku juga sangat bahagia. Semoga kita bisa selalu bersama sampai tua."


"Iya, Amin." Rizal mendaratkan ciumannya lagi di kening Lisa lalu turun ke pipi, lalu singgah cukup lama di bibir. Rizal mencium lembut bibir Lisa, ********** dan sedikit menyesapnya. Rizal semakin memeluk Lisa, menghapus jarak di antara mereka.


Ada rasa yang menjalar ke seluruh tubuh yang membuat Lisa membalas ciuman Rizal, cukup dalam bahkan dia sudah mampu mengimbangi permainan lidah Rizal. Lama, sampai mereka hampir kehabisan napas.


Lisa hanya tersenyum.


Dada mereka sama-sama berdebar kencang. Seketika pikiran Rizal blank, harus dimulai darimana?


Dengan tangan yang bergetar Rizal mulai membuka kancing atas piyama Lisa, lalu kedua, lalu.... Tiba-tiba ponselnya berbunyi cukup keras hingga membuyarkan konsentrasinya. Ingin dia membiarkannya tapi panggilan masuk itu tak juga berhenti.


"Maaf ya sayang, kepending." Rizal mengumpat kesal. Siapa yang mengganggu dirinya saat akan beraksi. Dia kini duduk dan mengambil ponselnya di atas nakas. "Evan?" Kalau panggilan dari teman lain mungkin akan dia reject tapi ini dari Evan yang sedari kemaren tidak ada kabar. "Sayang, aku angkat telpon dari Evan dulu ya."


"Iya." jawab Lisa.


Lalu Rizal mengangkat video call dari Evan sambil duduk ditepi ranjang.


"Rizal, sorry baru bisa telepon lo. Selamat ya, akhirnya lo nikah sama Lisa. Semoga langgeng dan selalu bahagia." kata Evan di seberang sana. Terlihat Evan masih memakai seragamnya.


"Iya, thanks. Jujur sih, sebenarnya ganggu banget lo telepon jam segini. Kalau bukan lo yang telepon, gak akan gue angkat."


Terdengar Evan tertawa cukup keras. "Iya, sorry. Harusnya pengantin baru jam segini tancap gas ya. Tapi beneran deh, gue gak ada maksud ganggu lo. Gue memang bisanya jam segini."

__ADS_1


"Iya, gak papa. Lo apa kabar?"


Lisa meraih guling lagi lalu memeluknya. Dia melihat punggung Rizal yang masih video call dengan Evan. Tiba-tiba dia merasa sangat mengantuk dan menguap beberapa kali. Matanya pun sudah terasa sangat berat dan dia akhirnya tertidur.


Menyadari tidak ada suara sama sekali dari Lisa, Rizal menoleh. "Yah, ditinggal tidur kan gue." Rizal mengalihkan kameranya sesaat pada Lisa yang sudah tertidur pulas dengan memeluk guling.


Tawa Evan semakin keras. "Ya, gagal deh tancap gasnya. Tenang Zal, masih ada besok bisa langsung lo gaspol."


"Gara-gara lo nih. Ya udahlah, gue mau tidur juga. Capek banget gue."


"Ya udah, selamat menempuh hidup baru ya." Evan mematikan video callnya sambil tertawa.


Rizal kini merebahkan tubuhnya di samping Lisa. "Untuk malam ini, posisi guling belum tergantikan." lalu dia mencium pipi Lisa, "Selamat tidur sayang."


Setelah itu Rizal kembali menatap ponselnya. Ada banyak chat WA yang belum sempat dia buka. Jarinya kini tertuju pada grup Rililover yang masih ramai. Dia membukanya. Dia scroll acak untuk membaca sekilas.


Dari tadi foto kondangan aja. Spoiler malam pertamanya gak ada?


Eh, iya. Penasaran gue..


Nih, spoiler. Evan mengirim foto screenshoot saat dirinya sedang video call dengan Rizal dan terlihat Lisa sudah tertidur.


Haha, ditinggal tidur.


Gak jadi ngegas nih malam ini.


Rizal cukup gregetan. Biasanya dia cukup menyimak tapi karena Evan akhirnya dia ikut membalas chat itu.


"Evan lo sengaja vc gue cuma buat konten?! Dasar!!!"


Maaf bos. Sedikit khilaf efek kangen ngumpul bareng. ✌️ Udahlah, besok kan masih bisa gas poll. 😆 Sorry..


Setelah itu, Rizal kembali meletakkan ponselnya di atas nakas yang kini sudah dia silent. Dia kini menghadap Lisa dan menatapnya. Tersenyum sesaat lalu ikut memejamkan matanya..


💞💞💞


Yah, kepending lagi.. 😆

__ADS_1


__ADS_2