Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Kesedihan


__ADS_3

"Dokter ada dua pasien kecelakaan!!!" teriak suster di ruang IGD.


Terlihat dua dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruang IGD dan segera melakukan tindakan.


Lisa yang ingin ikut menerobos masuk ke dalam ruang IGD, kini dihadang oleh suster. "Maaf, Anda tunggu diluar ya."


"Tapi, saya mau lihat keadaan..."


"Maaf ya." suster sedikit mendorong Lisa lalu menutup ruang IGD.


Dewa menahan pundak Lisa saat akan kembali mendorong pintu itu. "Lis, Dokter sedang menangani di dalam. Lo duduk ya.."


Lisa menuruti perkataan Dewa. Dia kini duduk sambil memeluk jas almamater Rizal. Air mata itu belum juga berhenti mengalir. Dia sangat takut terjadi hal buruk pada Rizal.


"Lo punya nomor orang tua Rizal?"


Lisa menggelengkan kepalanya. Ingin Dewa menghubungi orang tua Rizal dengan ponsel Rizal tapi ponsel Rizal mati total dan pecah.


"Pinjam hp lo."


Lisa memberikan ponselnya pada Dewa. Untuk menghubungi orang tuanya saja, Lisa seolah tidak punya kekuatan lagi.


Dewa menghubungi orang tua Lisa dan menceritakan apa yang telah terjadi. Tak lupa menitip pesan kepada orang tua Rizal agar segera ke rumah sakit.


Lisa mencium dalam aroma parfum Rizal yang masih menempel di jas almamaternya. Baru semalam dia memeluk Rizal dan merasakan kenyamanan tubuhnya, tapi sekarang dia sangat takut jika tubuh itu tidak bisa lagi dia peluk.


"Kita gak tahu kan, berapa lama lagi waktu kita bisa bersama."


Lisa tiba-tiba teringat dengan kalimat itu. Kalimat yang diucapkan Rizal semalam saat video call dengannya. Saat itu Lisa hanya menganggap itu candaan Rizal, tapi ternyata Rizal sekarang sedang bertaruh nyawa di ruang IGD.


Lisa berdiri dan berjalan lagi ke depan pintu IGD. Dia ingin melihat Rizal, tapi kaca yang ada di pintu IGD itu tidak tembus pandang. "Kak, Kak Rizal harus kuat. Jangan tinggalin aku. Waktu bersama kita masih panjang kan..." Lisa semakin sesenggukan. Dia beringsut duduk dilantai karena lututnya sudah sangat terasa lemas.


"Lis, jangan kayak gini." Dewa berusaha menenangkan Lisa walau sebenarnya Dewa sendiri juga sangat khawatir dengan keadaan Rizal. "Kita berdo'a, semoga Rizal gak kenapa-napa." Dewa mengusap punggung Lisa yang sangat bergetar.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian kedua orang tua Rizal dan Lisa datang.


Terlihat Bu Ela sudah berderai air mata. Dia tidak sanggup membayangkan jika terjadi apa-apa dengan putra semata wayangnya.


"Lisa..." Bu Reni meraih tubuh Lisa dan memeluknya. Bu Reni bisa merasakan kesedihan Lisa.


"Ma,.."


"Iya sayang. Udah jangan nangis. Kita berdo'a ya, semoga Rizal gak kenapa-napa." Bu Reni mengusap lembut rambut Lisa untuk sedikit menenangkan Lisa.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Pak Alan sambil memeluk istrinya yang sedari tadi menangis.


Lisa tidak mampu menjawabnya.


Dewa berdiri dan mendekati orang tua Rizal. "Rizal, balapan dengan Andi."


Bu Ela melebarkan matanya. Dia tahu betul, Rizal tidak mungkin pernah ikut balapan. "Ini semua pasti gara-gara Andi. Mama sudah larang Rizal bergaul dengan Andi. Andi itu bawa pengaruh buruk ke Rizal." Ya, Bu Ela memang beberapa kali bertemu dengan Andi saat Andi ke rumah Rizal di awal masuk kuliah. Bu Ela juga tahu, Andi anak Pak Bambang.


"Mama, sudah. Jangan menyalahkan. Ini sudah terjadi. Kita berdo'a, semoga anak kita gak kenapa-napa. Papa yakin, Rizal itu anak yang kuat." Pak Alan mengusap punggung istrinya.


"Lisa duduk di atas ya. Dokter pasti melakukan yang terbaik."


Lisa mengangguk lalu mengikuti tuntunan Mamanya untuk duduk di atas kursi tunggu yang berwarna hitam. Bu Reni masih terus memeluk Lisa yang belum juga berhenti menangis. "Ma, aku gak bisa liat Kak Rizal kesakitan kayak tadi. Aku takut. Aku takut, Ma. Tadi Kak Rizal muntah darah dan pingsan di tangan aku, Ma. Aku gak bisa lihat Kak Rizal kayak gitu, aku gak bisa bantu Kak Rizal untuk mengurangi rasa sakitnya." Lisa menangis sesenggukan di dada Bu Reni.


Tanpa sadar Bu Reni juga ikut meneteskan air matanya. Dia tahu, pasti Lisa sangat shock dengan kejadian itu. Bu Reni mengusap punggung Lisa yang bergetar karena tangisnya. "Sudah ya, jangan nangis. Rizal pasti sedih kalau tahu kamu nangis gini. Sekarang yang bisa kita lakukan hanya berdo'a."


Bu Ela menatap nanar Lisa. Dia melihat masih ada bekas darah di tangan Lisa, baju dan celananya. Dia tidak bisa bayangkan rasa sakit yang dirasakan Rizal saat itu dan betapa shocknya Lisa. Bu Ela kini duduk di samping Lisa yang masih memeluk mamanya. Dia sangat ingat dengan ucapan Rizal tadi pagi, akan membawa Lisa ke rumahnya sebagai calon mantu. Sebesar itu cinta Rizal pada Lisa.


"Lisa.." Panggil Bu Ela yang membuat Lisa melepas pelukan Mamanya. "Tante yakin Rizal gak mau lihat kamu sedih kayak gini. Rizal itu sangat mencintai kamu. Kuatkan diri kamu, pasti Rizal akan kuat demi kamu." Bu Ela menggenggam tangan Lisa. "Zal, kamu kuat ya. Ada Lisa yang menunggu kamu.."


Beberapa saat kemudian, Pak Bambang yang ditemani dengan sopirnya datang ke rumah sakit. Napasnya tak teratur. Beliau juga sangat khawatir dengan keadaan Andi dan juga Rizal. Beliau tahu, pasti ini kesalahan Andi. Beliau menangis melihat keadaan haru ruang tunggu saat itu.


"Maaf kan putra saya." Suara Pak Bambang membuat semua orang menatapnya. "Saya tahu ini pasti kesalahan putra saya. Rizal tidak mungkin ikut balapan itu kalau bukan Andi yang mengajaknya. Maaf. Sekali lagi saya mohon maaf." Pak Bambang semakin menangis.

__ADS_1


Pak Alan mendekat dan mengusap pundak Pak Bambang. "Pak, lebih baik kita berdo'a yang terbaik buat anak kita."


...***...


"Dokter, darah yang keluar dari kepala pasien ini belum berhenti. Kita butuh transfusi darah."


"Segera lakukan! Injeksi lewat infus, agar darah segera berhenti."


"Baik, Dok!!"


Sedangkan di ruang sebelah yang hanya dibatasi oleh kain.


"Dokter, detak jantung pasien melemah dan napasnya sangat berat."


"Oksigen sudah terpasang. Lihat terus saturasi oksigennya. Kita belum bisa mengambil tindakan sebelum hasil rontgen keluar. Saya takut ada patahan di tulang rusuknya yang mengenai organ dalam."


"Dokter, detak jantung pasien semakin lemah."


"Suster, segera ambil alat pacu jantung."


"Baik."


...***...


Gelap? Aku dimana?


Dia melihat ruang gelap tanpa batas. Ingin berlari tapi kakinya terasa berat. Ingin berteriak tapi mulut terasa dikunci.


"Perbaiki hidupnya. Maka kamu akan kembali..."


Suara siapa itu??


💞💞💞

__ADS_1


😭💆😭


Aku gak bisa berkata lagi.


__ADS_2