Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Buku Diary


__ADS_3

30 juli 2019,


Awal masuk SMA sih nothing spesial. Gak ada sahabat-sahabat lama gue di tempat ini. Gue berasa sendiri. Tapi, sudahlah mereka juga gak pernah menganggap gue terlalu spesial. Hingga hari itu waktu gue gak sengaja menabraknya. Sumpah! Dia cowok terganteng yang pernah gue lihat. Sayang banget kan, kita gak sekelas. Gue baru tau kalau nama dia itu Rizal. Iya, ingin banget bisa bicara dengan dia. Sebatas berkenalan pun rasanya gue malu banget. Apalagi gue baru tau, ternyata dia itu most wanted. Tapi gue gak boleh nyerah sebelum mencoba mendekati dia. Apa pun harus gue lakuin untuk dapetin yang gue inginkan.


2 Agustus 2019,


Wow!! Ternyata dia masuk anggota OSIS baru. Gue harus daftar juga. Oke, meski pun sebenarnya gue gak suka ikut-ikutan kayak gini tapi ini demi Rizal. Agar gue bisa banyak mengobrol sama dia. Siapa tau gue beneran bisa deket sama Rizal.


1 September 2019,


Oh, Tuhan, ternyata Rizal itu baik banget dan ramah. Gak salah gue jatuh cinta sama dia. Dia udah banyak banget bantu gue waktu awal pemilihan anggota OSIS. Kalau tahun depan dia menyalonkan jadi ketua OSIS, gue bakal jadi tim sukses dan dukung dia sepenuhnya.


5 Oktober 2019,


Mungkin, ini saatnya buat gue ungkapin perasaan gue..


10 Oktober 2019,


Surat yang gue kasih aja bahkan gak dibuka dan ditaruh di meja begitu saja. Kecewa! Dia sama sekali gak anggap gue! 😥😥😥


5 Januari 2020,


Dewi? Siapa sih dia? Kenapa juga Rizal bisa ngejar dia?


10 Juli 2020


Akhirnya sudah kenaikan kelas. Gue seneng banget kelas XI kali ini gue bisa sekelas sama Rizal. Ada anak baru juga. Cantik tapi sombong karena tajir melintir. Eh, tunggu dulu bisa gue manfaatin. Gue pura-pura aja jadi sahabatnya.


11 Agustus 2020


Wow!! Memang gak salah sih. Akhirnya Rizal jadi ketua OSIS.


15 September 2020


Ternyata benar, gosip tahun lalu kalau Rizal PDKT sama Dewi. Yah, sekarang kita semua sekelas. Rizal semakin mendekati Dewi. Berasa sok cantik banget. Sok jual mahal biar apa? Biar Rizal semakin ngejar dia?! Gue harus semakin manas-manasin Sofi biar Dewi habis kena bully.


18 Oktober 2020


Dewi lagi! Dewi lagi!!!!


1 November 2020


Mereka jadian!!! Ingat! Gak ada yang boleh dapetin Rizal!!!!


Beberapa kertas terobek. Hanya ada coretan asal dan tulisan yang besar dan berulang-ulang.


SIAPAPUN GAK BOLEH DAPETIN RIZAL!!!

__ADS_1


DIA HARUS PERGI DARI DUNIA INI!!!


Ada beberapa kertas yang terobek lagi. Dan di akhir halaman ada kata.


20 Juni 2021


BERHASIL!!!


Rizal menutup buku itu. Napasnya tidak teratur. Siapa pemilik buku ini sebenarnya?


Dia kini memijit pelipisnya. Ada pikiran-pikiran buruk yang melintas di otaknya. Tulisan berhasil di akhir halaman itu sama dengan tanggal dimana Dewi terakhir kali menghubunginya.


“Jangan-jangan Dewi memang....” Rizal mengusap wajahnya. Sebenarnya dia ingin membuang pikiran buruknya tapi mana mungkin. Apa yang ditulis dalam buku itu menunjukkan kalau pemilik buku itu ingin menyingkirkan Dewi. “Tapi kenapa keluarga Dewi nyembunyiin ini semua?”


Rizal menyimpan buku itu dan kini beralih ke ponselnya sambil membaringkan badannya. Hari itu memang sudah larut malam tapi matanya masih enggan untuk terpejam. Pikiran-pikiran buruk terus terlintas. “Lisa?! Lisa pasti tau semuanya."


Dia menghubungi nomor Lisa lewat WA nya. Belum sampai berdering sudah dia matikan lagi. “Mungkin Lisa udah tidur.” Karena Rizal melihat Lisa online di satu jam yang lalu. Rizal menghela napas panjang. Pantas saja selama ini, saat dia dekat dengan Lisa selalu saja ada yang ingin mencelakai Lisa dengan sengaja. “Besok aku harus bicara sama Lisa. Mungkin dia udah tau tentang masalah ini...”


...***...


Lisa kamu sibuk gak? Kita ke taman yuk?


Senyum kecil mengembang di bibir Lisa. Dia kini duduk di ujung ranjangnya sambil membalas pesan WA dari Rizal.


Oke. Jam berapa kak?


Satu jam lagi aku jemput ya...


Lisa langsung berdiri sambil membalas pesan dari Rizal.


Oke


Dia membuka almari. Memilah dan memilih baju yang cocok. Meski sedikit bingung tapi dia harus segera menentukan pilihan. Setelah menetapkan pilihannya pada baju bunga-bangu kuning, dia segera berganti baju. Setelah itu menyisir rambutnya dan berdandan tipis.


“Sayang, mau kemana?” tanya Bu Reni saat melihat Lisa keluar dari kamarnya sudah cantik dan membawa tas kecilnya.


“Mau keluar sama Kak Rizal, ma.”


“Oo, ya udah hati-hati yah. Mama juga mau keluar sama ayah nanti dikunci saja pintunya.”


“Iya, ma.”


Rizal masih belum datang sampai kedua orang tua Lisa pergi. Kini Lisa duduk di teras rumahnya. Dia juga sudah mengunci pintu.


Beberapa saat kemudian, Rizal datang dan menghentikan motornya di depan rumah Lisa. Dia turun lalu menghampiri Lisa yang tengah duduk.


“Udah lama nungguin?” tanya Rizal yang kini ikut duduk di dekat Lisa.

__ADS_1


“Barusan. Kebetulan Ayah sama Mama juga keluar.”


Rizal melamun sesaat. Sebenarnya dia mengajak Lisa keluar ingin bertanya tentang masalah Dewi yang selama ini dirahasiakannya dengan Dewa.


“Kak Rizal kenapa?” tanya Lisa saat melihat tatapan kosong Rizal.


Rizal kini beralih menatap Lisa. “Kita berangkat sekarang yuk?!” ajak Rizal tanpa menjawab pertanyaan Lisa.


Lisa tersenyum lalu mengikuti Rizal naik ke atas motornya. Tak lama, motor Rizal melaju.


Mereka sama-sama terdiam. Tapi tidak dengan hati mereka masing-masing.


Kak Rizal kenapa? Ada sesuatu yang dia pikirkan. Apa Kak Rizal kangen sama Dewi makanya ngajak aku jalan? Apa benar yang dikatakan Dewa kalau aku hanya pelarian Kak Rizal saja?


Lisa menghela napas panjang. Kini tidak ada tas penghalang di antara mereka. Lisa ragu tapi akhirnya dia beranikan diri untuk melingkarkan tangannya di pinggang Rizal. Untuk kali ini biar aku nikmati momen bersama Kak Rizal. Meski mungkin cinta itu semu.


Rizal sedikit terkejut. Dia melihat tangan Lisa sesaat. Lalu kembali meluruskan pandangannya. Sedikit tidak fokus karena jantungnya kini berdetak tak karuan.


Beberapa saat kemudian Rizal menghentikan motornya di tempat parkir. Mereka turun dan melepas helmnya. Setelah itu mereka berjalan perlahan menuju taman. Hari itu masih pagi dengan udara yang sejuk.


“Duduk sini yuk.” Mereka duduk di sebuah bangku dekat pohon.


Rizal masih saja nampak berpikir. Dia bingung mau mulai pembicaraan dari mana.


“Sebenarnya Kak Rizal mau ngomong apa?” tanya Lisa yang tanggap akan kegalauan Rizal.


"Nanti malam kamu gak usah datang ke pesta Sofi. Aku takut Sofi dan temannya cuma mau ngerjain kamu."


Lisa menggeleng. "Udah diundang, aku pasti datang. Tenang aja, aku bisa jaga diri. Sebenarnya apa yang membuat Kak Sofi semangat undang aku ke acaranya?"


Rizal sedikit menghela napas. "Soalnya aku udah terlanjur janji buat jadi pasangan dansanya malam ini."


Lisa sedikit tertawa. "Sudah aku tebak."


"Sudahlah. Aku juga gak mau nuruti kemauannya lagi. Lis, aku mau tanya sama kamu..." Rizal kini menghadap Lisa dan memegang tangannya. “Please, jawab dengan jujur. Apa kamu tau keadaan Dewi yang sebenarnya? Ada rahasia apa kamu dengan Dewa?”


Lisa terdiam. Lisa paham dengan keadaan ini, tapi entah kenapa hatinya terasa sakit. Ingin Lisa menceritakan yang sebenarnya, tapi bibirnya terasa berat.


“Lis?”


“Aku...” Lisa menghela napas panjang. “Sekarang aku mengerti, kenapa Kak Rizal deketi aku karena Kak Rizal cuma ingin tau tentang Dewi?”


Rizal menautkan alisnya. Bagaimana mungkin Lisa bisa berpikir seperti itu. “Bukan itu maksud aku. Aku cuma mau tau..”


Lisa melepas tangan Rizal. Entah kenapa hari ini dirinya merasa sangat sensitif. “Aku bukan barang, yang ada tanpa perasaan.” Lisa berdiri dan akan melangkahkan kakinya pergi.


“Lisa!!” Rizal menahan tangan Lisa untuk pergi. “Maaf. .”

__ADS_1


__ADS_2