
"Kamu sama Rey, apa dulu pernah ada hubungan yang spesial?" tanya Rizal yang masih saja penasaran dengan hubungan Rey dan Lisa.
Lisa terdiam. Ingin dia menceritakan semuanya pada Rizal karena Lisa yakin tidak mudah menutupi semuanya darinya. "Iya, tapi kita cuma sahabatan. Gak lebih."
"Pernah ada rasa?" tanya Rizal lagi begitu menyelidik.
Lisa ragu. Apa dia harus membohongi Rizal tentang perasaannya dulu.
"Zal, gue cariin lo. Ternyata lo malah pacaran di sini. Lo di cariin sama Pak Roni." Evan datang dan menyelamatkan Lisa dari pertanyaan Rizal yang sulit dia jawab.
"Iya, sebentar." Rizal mengenggam tangan Lisa sesaat lalu berdiri. "Aku duluan ya."
Lisa mengangguk sambil tersenyum. Dia kini beralih duduk di samping Karin yang menemani Dewa makan bakso.
"Ada yang cemburu rupanya." Goda Karin lagi karena jarak mereka yang dekat, Karin dan Dewa bisa mendengar pertanyaan-pertanyaan Rizal yang penuh selidik.
"Lagian lo sama Rey masih ada perasaan emang?" tanya Dewa sambil mengunyah.
"Gak ada. Itu udah berlalu. Lagian gue juga udah sama Kak Rizal." jawab Lisa sekenanya.
Dewa membereskan bakso terakhirnya lalu kembali bertanya pada Lisa. "Iya, udah berlalu bagi lo, bagi Rey gimana? Denger-denger dia pindah ke sini buat lo. Ada urusan apa yang belum kelar di masa lalu?"
Pertanyaan Dewa tak kalah menyelidik dari Rizal yang membuat Lisa sedikit kesal. "Udahlah, gak usah tanya masa lalu." Lisa berdiri tapi dia justru berpapasan dengan Rey yang ikut bergabung dengan mereka. Akhirnya Lisa kembali duduk yang kini bersebelahan dengan Rey.
"Dewa, sama Karin ya." Rey bersalaman dengan mereka untuk memperkenalkan dirinya. "Gue dikasih tahu sama Reno."
Reno kini juga ikut duduk di sebelah Dewa.
"Kalian ternyata saudara satu buyut? Gak ada miripnya." ejek Dewa yang sebenarnya hanyalah gurauan.
Reno menjotos lengan Dewa. "Lo kalau hina gue keterlaluan banget."
"Lisa, mana pacarnya tadi?" Rey kini melihat Lisa yang sedari tadi hanya terdiam.
"Udah ke kelas." Jawab Lisa sambil meminum lagi air mineralnya untuk menghilangkan salah tingkahnya.
"Udah lama jadian?" tanya Rey lagi.
"Baru beberapa minggu." jawab Lisa cepat.
"Selangkah lebih maju dari gue."
"Bukannya seharusnya lo udah jadian sama Elis."
__ADS_1
Karin dan Dewa saling lirik lalu Karin menyenggol Dewa agar mengikutinya ke kelas karena sepertinya obrolan mereka semakin bersifat pribadi. "Kita ke kelas dulu ya.." Karin berdiri yang diikuti oleh Dewa dan Reno.
"Tunggu! Gue juga mau ke kelas." Lisa akan berdiri tapi Rey mencegahnya.
"Gue masih mau ngobrol sama lo." Rey menahan tangan Lisa yang membuat Lisa kembali terduduk. "Kenapa? Takut pacar lo cemburu? Nanti gue yang jelasin. Masih ada waktu 15 menit sebelum bel masuk berbunyi."
Lisa menggelengkan kepalanya. Ini justru kesempatan Lisa untuk bertanya tentang Elis. "Elis, gimana kabarnya?"
"Elis? Baik. Lo gak nanya kabar gue?"
"Kan lo ada di sini."
"Kabar hati gue mungkin."
Rey selalu berhasil membuat pipi Lisa merona. Dia hanya bisa mengalihkan pandangannya dari Rey.
"Oiya, hati lo kan udah ada yang punya."
"Rey, mulai deh. Udahlah, semua udah beda." Lisa sangat takut dirinya tergoda lagi oleh Rey. Rey selalu memberi kenyamanan buat Lisa. Walau tak bisa dipungkiri dirinya merasa sangat bahagia bisa bertemu Rey saat ini.
"Iya, beda. Tapi gue harap lo masih tetep Lisa yang dulu karena gue ada di sini buat lo." Senyum tulus Rey mengembang yang membuat hati Lisa tak menentu lagi.
......***......
"Ayah mana sih? Katanya mau jemput tapi belum datang juga. Mana mau ujan lagi." Lisa berulang kali melihat chat wa-nya yang belum terbaca oleh Ayahnya.
Tiba-tiba ada yang menghentikan sepeda motor di depan Lisa. Dia membuka kaca helmnya. "Lis, bareng yuk. Mau ujan." tawar Rey.
Lisa ragu. Dia takut Rizal salah paham dengannya.
"Ayo." jawab Lisa setelah berpikir.
Langit semakin mendung. Akhirnya Lisa naik ke boncengan Rey.
"Rumah lo dimana?"
"Udah, lurus aja nanti gue kasih arahan."
Rey melajukan motornya dengan kecepatan sedang di jalan menuju rumah Lisa.
Walau belum ada satu tahun tapi rasanya udah lama banget gue gak pulang bareng sama Rey. Biasanya dulu kita selalu jalan bareng bertiga sama Elis karena jarak rumah kita berdekatan.
Tiba-tiba hujan turun dengan deras. "Lis, kita neduh dulu ya. Ujan deres, gue lupa gak bawa jas ujan."
__ADS_1
"Iya."
Rey menepikan motornya di depan ruko yang tutup. Lisa turun dari motor Rey lalu dia bersandar sambil melipat tangannya. Memikirkan ujan turun yang begitu deras dan diikuti angin kencang kapan mereda.
Setelah menjagrak motornya, Rey berdiri di sisi Lisa.
"Lo ingat gak, waktu hujan-hujan dulu..."
Lisa tidak menyahut omongan Rey. Dia melihat air hujan yang turun dari langit begitu derasnya. Walau tak bisa dipungkiri, pikiran Lisa kembali melayang ke kenangan itu.
"Lis, kita neduh ya. Hujan deres." Rey dan Lisa berlari untuk berteduh di depan toko.
"Elis tadi udah pulang duluan ya?" tanya Lisa sambil menata rambutnya yang sedikit basah.
"Iya, dijemput sama bokapnya."
Mereka terdiam sesaat, hanya air hujan yang terdengar sebelum akhirnya Rey memecah kebisuan. "Lis?"
Lisa kini menoleh Rey yang hanya berjarak setengah meter darinya. "Iya."
"Gue cinta sama lo."
Sebuah kalimat yang tiba-tiba terucap dari bibir Rey membuat Lisa terkejut. Harusnya dia bahagia karena perasaan yang selama ini tersimpan rapi itu terbalaskan.
"Gue baru bisa bilang ini sama lo, karena selalu ada Elis di dekat lo."
Ingin Lisa mengatakan kalau dia juga mencintainya tapi Elis juga mencintai Rey.
"Gue harap lo juga punya perasaan yang sama."
Lisa menggelengkan kepalanya lalu berpaling dari Rey. "Kita masih pake seragam putih biru, gak seharusnya ngomongin cinta."
Lisa kembali dari ingatannya sesaat di masa lalu karena suara Rey.
"Alasan lo waktu itu karena kita masih pakai seragam putih biru, sekarang kita udah pakai seragam putih abu-abu jadi boleh dong ngomongin cinta."
Lisa menoleh Rey dengan kerutan di dahinya.
"Oh, iya lupa kalau cinta lo udah dimiliki."
Lisa masih terdiam. Dia kini meluruskan pandangannya sambil terus mendekap tangannya sendiri karena badannya mulai terasa dingin.
Lisa terkejut saat Rey menutupi tangannya dengan jaket. "Dingin, nanti lo masuk angin." Lisa hanya bisa menatap Rey dalam diamnya. Jantungnya berdetak lebih kencang, aliran darahnya melaju lebih cepat. Perhatian Rey masih sama seperti dulu.
__ADS_1
"Lisa!!!" suara itu jauh membuat Lisa lebih terkejut. Tarikan tangan Rizal membuat Lisa menjauhkan dirinya dari Rey. "Ngapain kamu sama dia?"