Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Cerita Rizal


__ADS_3

Rizal mengajak Lisa duduk di kursi panjang depan pos ronda yang ada di dekat rumah Lisa. Hanya ada beberapa orang lalu lalang saat itu.


"Sebenarnya aku gak jadian sama Sofi." Rizal memulai pembicaraan.


Lisa kini menatap Rizal dari samping dan membiarkan Rizal meneruskan ceritanya.


"Aku terpaksa mau dekat dengan Sofi biar dia gak berulah lagi."


"Itu namanya pemberi harapan palsu. Cinta gak bisa dipaksakan."


"Tapi Sofi memaksa."


Lisa tersenyum tipis. "Itu karena Kak Rizal terlalu sempurna untuk dimiliki."


Rizal kini beralih menatap Lisa. "Gak ada seseorang yang sempurna. Kalau aku seseorang yang sempurna pasti aku sudah bahagia dengan cinta aku."


"Kak Dewi? Dia beruntung bisa dapetin cinta Kak Rizal."


Rizal menghela napas panjang. "Dewa banyak cerita sama kamu? Gimana keadaan Dewi sekarang?"


Lisa terdiam sesaat. Sebenarnya dia sangat tidak tega membohongi Rizal. "Baik. Dewa gak banyak cerita soal masalah Kak Dewi."


"Dewi pergi setelah bertengkar sama Sofi. Dia gak pernah hubungi aku sama sekali. Harusnya aku bisa lindungi dia. Tapi mungkin, dengan begini dia tidak akan lagi dapat masalah dari aku. Itu sebabnya aku mau move on dari semua kenangan dengan Dewi walau sangat sulit." Rizal mengusap wajahnya. Banyak sesal yang tersirat.


Lisa mengalihkan pandangannya. Dia tidak bisa menahan air matanya. Air mata itu baru saja lolos membasahi pipinya lagi. Setelah Lisa tahu cerita yang sebenarnya, hatinya semakin tidak tega menutupi semua ini dari Rizal.


"Maaf Kak, aku mau pulang dulu." Lisa berdiri dan terburu melangkahkan kakinya sambil mengusap asal air matanya.


"Lisa, kamu kenapa?" Rizal berdiri dan menarik tangan Lisa mencegahnya pergi. Dia tahu, perasaan Lisa sedang tidak baik-baik saja. "Kenapa kamu nangis lagi?"


Lisa hanya menunduk, apalagi saat Rizal memegang kedua pundaknya dan menatapnya. "Aku ada salah kata?"


Lisa menggeleng.


"Lalu?"


Lisa masih terdiam. Dia beranikan diri untuk menatap Rizal. Ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan.


"Satu hal yang harus kamu tau, aku... Aku gak bisa jauh dari kamu. Tatapan mata kamu ini..." Rizal mengangkat tangannya perlahan lalu menghapus sisa-sisa air mata Lisa.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Ada satu rasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata..."


Lisa terpaku mendengar perkataan Rizal. Dia menatap sayu Rizal dan membiarkan Rizal membalikkan badannya pergi.


Beberapa saat kemudian Lisa berjalan pulang. Hanya tinggal beberapa meter lagi untuk sampai di gang rumahnya. Tiba-tiba ada yang melemparnya kertas. Cukup keras mengenai punggung Lisa karena berisi batu kecil di dalamnya.


Lisa mengambil kertas itu sambil menoleh ke kanan dan kiri. Suara sepeda motor yang sebelumnya lewat sudah jauh bahkan sudah tak terlihat.


"Apa ini?"


Lisa melebarkan matanya saat membaca surat peringatan itu.


GAK ADA YANG BISA MILIKI RIZAL!!!!


Seketika Lisa bergidik. Dia membuang lagi kertas itu lalu masuk ke dalam rumahnya.


"Lisa ada apa?" tanya Bu Reni saat melihat Lisa tergesa memasuki rumah.


"Gak apa-apa, Ma." Lisa segera masuk ke dapur dan mengambil segelas air putih untuk menghilangkan rasa takutnya.


"Gimana keadaan Mamanya Dewa?" tanya Bu Reni yang mengikuti Lisa ke dapur.


"Kasian ya. Pasti beliau sangat sedih." ucap Bu Reni yang sudah tau sedikit cerita Dewi yang telah tiada.


Lisa mengangguk. Dia masih harus menenangkan dirinya sendiri. Ingin dia cerita pada mamanya tapi dia tidak mau mamanya khawatir dengan masalah ini.


"Mama sangat bersyukur, kamu dulu selamat dari kecelakaan itu dan sekarang sudah sehat." Bu Reni tersenyum hangat sambil mengusap rambut Lisa yang mulai lepek terkena keringat.


Lisa membalas senyuman Bu Reni. Tak banyak yang bisa Lisa bicarakan saat itu. Pikirannya berantakan. Dia takut, tapi dia harus meneruskan semuanya.


Gak akan terjadi apa-apa sama gue...


...***...


"Sofi, oke gue setuju. Gue bisa deket sama lo asal lo gak gangguin Lisa lagi. Dan soal ulang tahun lo, gue akan datang dan jadi pasangan dansa lo."


Senyum kemenangan mengembang di bibir Sofi saat itu.


Rizal mengusap wajahnya mengingat betapa bodohnya keputusan yang dia buat. Sekarang setiap hari dia harus ke sekolah dan membiarkan Sofi yang agresif itu dekat-dekat dengannya.


Setelah menghela napas panjang, Rizal memakai helmnya dan bersiap melajukan motornya karena sedari tadi dia sudah menaikinya sambil melamun.

__ADS_1


Motor Rizal berjalan santai. Dari kejauhan dia melihat ada Lisa yang tengah berdiri di depan gangnya. Dia ragu, tidak mungkin baginya untuk melewati Lisa tanpa menawarinya tumpangan.


Rizal menghentikan motornya di depan Lisa. "Gak dianterin sama ayah kamu?" tanya Rizal setelah membuka penutup helmnya.


Lisa menggelengkan kepalanya. "Ayah lagi ada urusan penting. Ini aku lagi order ojek online tapi belum juga dapat driver."


"Bareng aku yuk?" ajak Rizal. Yah, semoga saja Sofi tidak melihat Lisa pergi ke sekolah bersamanya.


Lisa mengangguk, lalu dia naik ke boncengan Rizal. Tak berapa lama, motor Rizal kembali melaju. Sebenarnya ini adalah salah satu rencana Lisa. Entah apa reaksi Sofi jika mengetahui hal ini, Lisa harus siap mental.


"Lis, nanti kamu turun di samping sekolah saja ya. Biar Sofi gak liat kita." kata Rizal cukup keras agar Lisa mendengarnya.


Lisa mendekatkan dirinya. "Kenapa? Aku gak takut sama Kak Sofi. Langsung masuk saja ke tempat parkir."


Hal ini membuat Rizal grogi. Dia seperti kehabisan kata-kata. Ingin dia mengiyakan Lisa tapi dia takut Sofi akan membuat masalah lagi dengan Lisa.


"Tapi...?"


Lisa semakin mendekatkan kepalanya hingga dagunya kini tepat di atas bahu Rizal. "Kak Rizal tenang aja. Gak akan terjadi apa-apa. Jangan melakukan hal yang Kak Rizal gak mau lakukan."


Rizal menoleh sesaat Lisa. Ingin rasanya dia fokus pada tatapan Lisa saat itu tapi dia harus lebih fokus pada jalanan pagi hari itu yang cukup ramai.


Tak berapa lama kemudian mereka sampai di sekolah. Motor Rizal meluncur mulus ke tempat parkir.


Seperti mendengar alarm tanda bahaya yang memberi tahu Sofi. Sofi muncul saat Lisa turun dari motor Rizal.


"Lo jadi cewek ganjen banget." Sofi menarik tangan Lisa agar dia menjauh dari Rizal. "Gak cukup sama Dewa, juga deketin Rizal!"


"Lalu Kak Sofi apa? Bucin?!"


"Lo?!!" Sofi berniat menampar Lisa tapi Rizal menahan tangannya.


"Sofi, gue yang ajak Lisa bareng." Rizal menarik paksa Sofi agar menjauh.


"Rizal, kamu lupa dengan kesepakatan kita."


"Enggak! Jadi tolong, jangan ganggu Lisa lagi."


Lisa masih berdiri mematung, melihat Sofi dan Rizal berjalan menjauh dan terdengar masih beradu argumen.


Apa jangan-jangan memang Kak Sofi? Tapi selama ini Kak Sofi begitu terang-terangan menyerang. Apa iya, dia juga melakukannya dari belakang?

__ADS_1


__ADS_2