Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Ini, Rizal


__ADS_3

Pagi itu, Lisa mendengar suara sepeda motor berhenti di depan rumahnya. Dia sedikit berlari keluar dari rumah. Berharap itu adalah Rizal. Tapi bukan, sepeda motor itu milik Dewa. Lisa terduduk lemah di kursi teras. Ya, jelas saja Rizal masih di rumah sakit, bagaimana mungkin dia akan menjemputnya.


Dewa turun dari motornya lalu menghampiri Lisa dan duduk di sampingnya. "Lo hari ini kuliah?"


Lisa menganggukkan kepalanya pelan. "Tapi antar gue ke rumah sakit dulu."


"Oke." Dewa mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Karin. "Lis, Karin mau bicara sama lo."


Lisa menerima ponsel dari Dewa yang sudah terhubung video call dengan Karin.


"Lisa, sini peluk dari jauh."


Lisa sedikit tersenyum walau dengan matanya yang masih berkaca-kaca. "Apa kabar, Rin?"


"Gue baik. Gue kaget banget waktu kemarin Dewa cerita soal Kak Rizal. Lo yang sabar ya. Gue yakin Kak Rizal pasti cepat sembuh."


"Iya, Rin." Sebulir air mata masih saja menetes.


"Udah jangan nangis. Kalau lo nangis Kak rizal juga pasti sedih. Kekuatan Kak Rizal itu adalah lo."


Lisa menganggukkan kepalanya lalu memberikan ponselnya pada Dewa.


"Wa, lo jagain Lisa loh."


"Iya, Rin. Ngomong-ngomong lo gak kerja hari ini?"


Lisa masuk ke dalam rumahnya untuk berganti baju dan membiarkan Dewa mengobrol dengan Karin lewat ponsel. Dewa memang hari itu menjemputnya terlalu pagi. Sedangkan kelas baru dimulai nanti siang.


Bu Reni keluar dari rumah mendengar ada suara Dewa.


"Eh, udah dulu ya Rin. Nanti gue telpon lagi." Dewa memutuskan panggilannya dengan Karin saat Bu Reni duduk di sebelahnya seperti akan bertanya sesuatu.

__ADS_1


"Wa, tante boleh tanya sesuatu?"


"Iya, tante. Apa?"


"Sebenarnya ada masalah apa antara Rizal dan Andi?"


Dewa menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya saya juga kurang paham tante. Andi itu kayaknya gak suka sama Rizal sejak lama. Dan, Andi sempat gangguin Lisa, makanya Rizal marah. Kemarin Rizal marah besar karena kelihatannya Andi sudah keterlaluan jadi dia menerima tantangan Andi buat adu balap. Mereka pindah ke jalan raya itu juga karena Andi."


Bu Reni menghela napas panjang. "Kalau menyangkut soal Lisa, pantas Rizal marah. Tante tahu, Rizal sangat mencintai Lisa. Gimana jadinya kalau Lisa tanpa Rizal. Eh, tante kok jadi mikir buruk. Semoga saja, Rizal segera sadar dan sembuh."


"Amin, tante."


"Makasih ya, kamu udah nemenin Lisa."


"Sama-sama, tante. Lisa sudah saya anggap seperti adik saya sendiri sejak saya tahu Lisa dapat donor mata dari Kak Dewi."


Bu Reni tersenyum.


"Kamu mau ke rumah sakit dulu?"


Lisa mengangguk lalu berjalan menuju motor Dewa.


"Saya berangkat dulu, tante."


"Iya, hati-hati."


Beberapa saat kemudian motor Dewa melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit. Setelah sampai di rumah sakit. Lisa dan Dewa segera menuju ruang ICU. Terlihat kedua orang tua Rizal masih dengan setia menunggu Rizal walau hanya duduk di depan ruangan karena jam tunggu sangat dibatasi.


"Tante, apa saya boleh masuk?" tanya Lisa yang sangat ingin menemui Rizal hari itu.


"Boleh, tapi kata Dokter tidak boleh lebih dari 30 menit."

__ADS_1


Lisa mengangguk lalu masuk ke dalam ruangan ICU. Lisa berjalan perlahan. Dia kuatkan dirinya sendiri. Air mata itu kembali mengalir saat melihat Rizal masih saja memejamkan matanya dengan semua alat yang terpasang ditubuhnya. Dia kini duduk di samping brangkar.


"Kak," Lisa meraih tangan Rizal dan mengenggamnya. "Biasanya Kak Rizal balas genggaman tangan aku. Kak Rizal gak kangen sama aku?" Masih tetap sama tanpa jawaban. Hanya bunyi dari elektrokardiograf yang terdengar. "Kak, aku kangen. Ayo, cepat bangun." Masih sama tanpa respon. Lagi, lagi Lisa menangis terisak sambil mencium tangan Rizal sampai waktu yang begitu singkat berlalu.


Lisa mengusap air matanya. "Aku besok datang lagi ya. Semoga besok Kak Rizal udah bisa ngobrol sama aku." Lisa mencium kening Rizal sesaat. "Cepat sembuh." Lalu Lisa berjalan keluar dari ruang ICU.


Lisa tidak bisa menutupi mata sembabnya dari tatapan kedua orang tua Rizal. "Om, Tante. Saya permisi dulu." Tapi saat Lisa akan melangkah pergi, langkahnya terhenti oleh seseorang yang kini berdiri di depannya.


Semua tatapan mata kini menatap tajam ke arahnya.


"Mau apa?" bentak Lisa dengan derai tangisnya. "Udah puas buat Kak Rizal sampai koma!! Ini kan yang lo mau!!" Lisa semakin menangis. Mengapa bukan Andi yang koma, mengapa??


Lis, ini aku Rizal. Lisa... Rizal ingin berkata tapi suaranya terkunci. Apa dia tidak bisa berkata bahwa jiwa yang masuk ke dalam tubuh Andi adalah dirinya. "Maaf.." justru kata itu yang keluar dari mulutnya.


"Maaf? Kata maaf gak akan bisa gantiin posisi Kak Rizal di dalam." Lisa sedikit mendorong Andi agar tidak menghalangi langkahnya. Dia berjalan cepat sambil mengusap asal air matanya. Dewa kini berlari menyusul Lisa.


Mama... Papa... Ini Rizal... Lagi, dia tidak bisa mengatakan itu. Hanya mampu menatap Bu Ela dan Pak Alan yang masih terlihat sangat bersedih.


"Kamu pergi!! Saya gak mau lihat kamu!! Karena kamu Rizal jadi seperti ini. Kamu beruntung, kamu masih bisa berdiri tegak sekarang." kata Bu Ela yang membuatnya menangis lagi.


"Sudah, Ma." Pak Alan merangkul istrinya dan mengusap pundaknya. "Menyalahkan pun tidak bisa membuat keadaan berubah."


Jadi, seperti ini rasanya dibenci sama orang-orang yang aku sayangi. Rizal membalikkan badannya. Berjalan perlahan, entah akan kemana. Dia memang sengaja kabur dari kamarnya dan melepas paksa infus yang terpasang di pergelangan tangannya hingga membuat darahnya sedikit mengalir. Rasa sakit itu tidak akan bisa dirasakan jiwa Rizal. Tapi pikiran, hati dan perasaannya masih bisa merasakan sakit.


Apa lebih baik aku lenyapkan saja raga ini. Biarkan saja raga dan jiwa ini pergi untuk selamanya. Aku gak bisa jalani hidup seperti ini. Dia terus melangkahkan kakinya sampai dia keluar dari rumah sakit. Beberapa pasang mata tertuju padanya yang masih memakai seragam pasien dengan kepala yang diperban. Dia tidak peduli. Dia langkahkan kakinya menuju jalan raya. Tanpa lagi takut dengan ramainya kendaraan waktu itu. Dia hadangkan dirinya di tengah jalan saat sebuah mobil box besar akan melaju ke arahnya.


"Tiiinnnn!!!" Suara klakson yang cukup keras dengan bunyi rem yang berdecit karena dipaksa berhenti seketika, tak membuatnya takut dan menghindar.


"Andi!!!!!"


💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2