Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Di rumah sakit, Rizal duduk bersandar sambil melipat tangannya menunggu hasil pemeriksaan dari Dokter. Kedua orang tua Lisa datang bersamaan dengan Dewa. Mereka cukup panik setelah mendapat kabar dari Rizal kalau Lisa masuk rumah sakit.


“Ada apa ini? Lisa kenapa?” Bu Reni datang dan langsung bertanya pada Rizal penyebab Lisa masuk rumah sakit.


“Lisa hampir saja tertabrak mobil, tapi sebenarnya...”


Belum selesai menjelaskan, Rizal sudah dicecar berbagai tuduhan karena sangking paniknya Bu Reni. “Kenapa kamu gak jagain Lisa? Dia pamitan keluar sama kamu. Harusnya kamu bisa jamin keselamatan Lisa. Kalau terjadi apa-apa sama Lisa, aku...” Bu Reni menangis. Kini Pak Edi menarik badan istrinya dan memeluknya agar tenang dan berhenti memarahi Rizal yang belum tentu salah.


“Maaf tante, maaf...” hanya itu yang bisa dikatakan Rizal.


“Gak papa nak Rizal. Ini bukan salah kamu. Kita cuma trauma, dulu Lisa pernah kecelakaan yang membuat Lisa hampir saja buta untuk selamanya. Tapi Tuhan masih sayang sama Lisa. Hanya selang 2 minggu, Lisa sudah mendapatkan donor mata.”


Dewa kini duduk di sebelah Rizal. Dia hanya terdiam. Informasi yang dia dapat memang benar, Lisa lah yang mendapat donor mata dari Dewi.


Beberapa saat kemudian, dokter yang memeriksa Lisa keluar. Kedua orang tua Lisa segera menghampirinya dan bertanya keadaan Lisa.


“Dokter, bagaimana keadaan anak saya?”


“Anak bapak hanya lecet-lecet kecil saja tapi suhu badannya sangat tinggi, itu yang membuat dia pingsan. Harus dirawat inap selama dua hari untuk memantau keadannya.”


“Tapi apa kami selarang boleh menemuinya?”


“Iya, boleh. Silahkan. Pasien sedang tidur karena efek obat. Saya permisi dulu.”


Setelah Dokter pergi kedua orang tua Lisa segera masuk ke dalam ruang rawat.


Tinggal Dewa dan Rizal yang berada di kursi tunggu luar ruangan. Kini saatnya mereka berbicara empat mata. Setelah sekiam lama Dewa hanya memendam kebenciannya sendiri pada Rizal.


“Jadi, lo beneran cinta sama Lisa atau hanya pura-pura?” tanya Dewa lagi memastikan perasaan Rizal karena dia tidak mau Lisa sakit hati. “Karena sebenarnya Lisa bener-bener udah jatuh cinta sama lo.”


“Lo pikir gue suka nyakitin hati cewek?! Gue gak mungkin mainin perasaan Lisa.” Rizal kini menatap Dewa dengan serius. “Gue ngerti betapa lo sakit hati sama gue, karena gue lo kehilangan Kakak lo.” Rizal menghela napas panjang. “Dan gue gak mau ini terjadi sama Lisa.”

__ADS_1


“Terus, apa yang akan lo lakuin? Kalau Lisa sama lo, jelas dia dalam bahaya.”


“Gak akan! Justru setiap Lisa deket sama gue, pembunuh itu gak akan beraksi. Dia beraksi saat Lisa sendirian.” Rizal memelankan suaranya. “Gue udah punya satu bukti penting, tinggal kita intai tersangka itu satu-satu.”


“Satu-satu? Bukannya udah jelas Sofi pelakunya. Dia anak ABRI, pasti dia dengan gampang bisa lolos dari hukuman.”


“Bukan Sofi pelakunya. Sofi hanya sebagai kedok.”


“Lo yakin?! Tapi Sofi punya gelang yang gue kasih, gelang itu terjatuh di tempat kejadian. Untuk menghilangkan bukti makanya dia beli gelang itu lagi yang sama persis.”


“Satu geng Sofi punya gelang yang sama. Revi dan Mita.”


Dewa melebarkan matanya. Jadi itu gelang persahabatan mereka. Harusnya pelaku itu sudah tidak memakai gelang itu jika memang telah hilang. Hal itu tidak dipikirkan oleh Dewa.


“Setahu gue, itu gelang dari Sofi karena paman Sofi punya tambang mutiara di lombok. Dan gelang itu khusus di pesan Sofi hanya kembaran bertiga. Jadi tidak ada dibeli di sini."


"Makanya waktu gue nyari gelang kayak gitu gak ada. Hanya ada gelang imitasi yang hampir mirip. Sebenarnya gelang yang gue kasih ke Sofi itu bukan yang asli. Yang asli masih gue simpen. Gue cuma mau tau ekspresi Sofi kayak gimana setelah tau gelang itu." Dewa melipat tangannya sambil duduk bersandar. “Lo memang lebih tahu banyak dari pada gue. Oke, sekarang apa rencana lo?”


Rizal mulai menceritakan rencananya pada Dewa. Dengan sesekali menoleh sekitar untuk memastikan tidak ada orang lain yang mendengarkan.


...


Di ruang rawat, Bu Reni mengusap rambut Lisa secara perlahan berharap tidak akan terjadi apa-apa pada Lisa. Kini perlahan mata Lisa mulai terbuka. Dia melihat kedua orang tuanya yang duduk di sisi ranjangnya.


“Ma..” ucap Lisa pelan.


“Udah bangun sayang. Istirahat dulu biar kamu cepat sembuh.”


Lisa teringat kembali kejadian sebelumnya. Dia ingat ada sebuah mobil yang melaju cukup kencang ke arahnya, hingga terdengar suara teriakan Rizal yang cukup keras lalu tarikan paksa yang membuatnya terjatuh dan semua menjadi gelap.


“Tadi yang bawa aku ke rumah sakit Kak Rizal?” tanya Lisa sambil memegang kepalanya karena terasa cukup pusing.

__ADS_1


Bu Reni mengangguk. “Iya sayang, sebenarnya apa yang terjadi? Apa bener kamu hampir tertabrak mobil?”


“Iya, Kak Rizal yang nolong Lisa. Apa Kak Rizal masih ada di luar?”


“Kamu mau ketemu sama Rizal?” tanya Pak Edi yang langsung tanggap dengan kalimat isyarat putrinya.


Lisa mengangguk.


“Kalau begitu kita keluar dulu ya. Kita panggil Rizal.”


Lisa mengangguk lagi. Kedua orang tuanya kini keluar. Masih terlihat Rizal dan Dewa berbicara dengan serius sebelum akhirnya mereka berdiri karena melihat kedua orang tua Lisa yang berjalan ke arahnya.


“Rizal, Lisa mau ketemu sama kamu.”


Rizal nampak ragu. Apa yang akan Lisa bicarakan padanya? Apa Lisa akan memutuskan hubungannya?


Dewa menepuk pundak Rizal lalu mengisyaratkannya untuk masuk ke dalam ruangan.


Akhirnya Rizal masuk, dia kini melihat Lisa yang terbaring lemah dengan infus di pergelangan tangannya. Berjalan perlahan lalu duduk di kursi dekat ranjang.


Mereka saling bertatap sesaat. Sebelum akhirnya Rizal memulai pembicaraan.


“Gimana keadaan kamu? Gak ada luka yang serius kan?”


Lisa menggelengkan kepalanya. “Makasih, udah nolong aku.”


“Sama-sama. Maaf, ini semua karena aku.”


Lagi, Lisa menggelengkan kepalanya.


“Lis, kamu jangan pernah ada pikiran kalau aku cuma jadiin kamu pelarian. Aku sayang sama kamu itu tulus, bukan dari suatu hal yang ada di diri kamu.” Rizal kini meraih tangan Lisa dan menggenggamnya. “Lis, percaya sama aku. Aku ingin bersama kamu dan aku ingin selalu jagain kamu.”

__ADS_1


Lisa menghela napas panjang. “Iya, maafin aku. Aku yang memang terlalu sensitif. Aku sedikit terkejut tahu kenyataan yang sebenarnya.”


Rizal tersenyum lalu dia mengusap pelan rambut Lisa. “Cepet sembuh ya...”


__ADS_2