
“Lisa, gimana keadaan lo sekarang? Jangan sakit-sakit dong.” Karin masuk ruangan Lisa dirawat dan langsung memeluknya dari samping.
“Gue udah baikan. Bentar lagi gue juga udah boleh pulang kok.”
Dewa datang dan berdiri di samping Karin. “Loh, katanya dirawat dua hari.”
Lisa menggeleng. “Gue udah baikan. Gak enak lama-lama di rumah sakit. Lagian gue cuma demam aja. Hmm, kalian cuma berdua?”
“Tadi sih Reno mau ikut tapi gak jadi.” Jawab Karin sambil melepas pelukannya lalu duduk di samping ranjang.
“Nyariin Rizal? Rizal masih di sekolah, katanya nanti malam dia ke sini.” Jawab Dewa yang mengerti maksud pertanyaan Lisa.
Karin menoleh Dewa. “Peka banget lo.”
“Iyalah, gak mungkin juga Lisa nyariin Reno.” Mereka tertawa kecil.
Beberapa saat kemudian kedua orang tua Lisa datang. “Lis, hari ini kamu sudah boleh pulang. Kamu berkemas sama Mama. Ayah mau mengurus administrasi dulu.”
“Kita bantuin ya.” Kata Karin sambil berdiri.
“Wah, kebetulan sekali kalian ada di sini.”
Beberapa saat kemudian suster datang dan melepas jarum infus yang terpasang di pergelangan tangan Lisa.
“Makasih, Sus.”
“Iya.” Setelah selesai suster meninggalkan ruangan.
Selesai berkemas Bu Reni membantu Lisa turun dari tempat tidur. “Kita tunggu di depan ya. Bisa jalan kan.”
“Bisa Ma. Lisa kan gak papa. Kemaren cuma demam kayak biasanya aja.”
Bu Reni merangkul Lisa sambil berjalan pelan. Di belakang ada Dewa dan Karin yang membawa beberapa barang.
Mereka sampai di depan rumah sakit dan menunggu mobil online datang.
“Makasih kalian udah bantu.” ucap Pak Edi sambil mengambil tas yang Dewa bawa lalu memasukkan berkas-berkas.
“Iya Pak. Sama-sama.”
Setelah mobil datang, mereka masuk ke dalam mobil. Dan beberapa saat kemudian mobil itu mulai melaju.
“Ayo, Rin.” Dewa mengajak Karin ke tempat parkir tapi tak sengaja dia menabrak seseorang yang dengan cepat keluar dari rumah sakit dan membuat bungkusan yang dia pegang jatuh dan tercecer.
“Maaf.” Ucap Dewa sambil membantu mengemas beberapa obat yang tercecer. Lisa? Terbaca sudah nama yang tertera di bungkusan obat itu. “Hei!!! Lo siapa?!”
Terlambat. Dia sudah berlari menjauh. Ingin Dewa mengejar, tapi dia sudah masuk ke dalam mobil dan melaju.
“Kenapa?” tanya Karin tersadar ada masalah.
__ADS_1
Dewa mengecek lagi semua obat itu. “Jangan-jangan obat Lisa sudah ditukar. Gawat!” Dewa mengambil hapenya dan segera menghubungi Lisa. Sampai beberapa kali tidak juga diangkat.
Karin mengambil bungkusan obat itu dan mengeceknya. “Licik banget, sampai kepikiran buat nukar obat. Lebih baik kita tebus ulang obat ini. Kita gak tau mana obat yang benar.”
“Iya, lo benar. Tapi Lisa gak bisa dihubungi.”
“Coba sekali lagi!”
Tutt.. tutt.. tutt.. Iya, apa Wa?
Akhirnya Lisa mengangkat panggilan Dewa. “Lisa, lo jangan minum obat yang tadi dibawa bokap lo. Obat itu udah ditukar. Sekarang gue mau nebus obat lo ke apotik. Ingat, langsung buang obat itu!”
Iya, makasih Wa.
Dewa menutup panggilannya lalu dia segera menuju dokter yang menangani Lisa untuk meminta resep dengan alasan obat yang tadi dibawa jatuh ke selokan.
...***...
“Dewa, Karin!” panggil Rizal saat melihat Dewa sedang berboncengan dengan Karin akan berbelok ke gang rumah Lisa.
Dewa mendengar panggilan Rizal lalu menghentikan motornya.
“Lisa udah pulang dari rumah sakit?” tanya Rizal yang kini juga berhenti di samping motor Dewa.
“Iya. Baru aja. Gue mau ngantar obat. Tadi ada yang dengan sengaja nukar obat Lisa. Entah obat apa yang dibawa Lisa. Untung ketahuan.”
Setelah berhenti di depan teras rumah Lisa mereka turun dan berjalan menuju pintu.
“Masuk saja.” Suruh Pak Edi. Saat itu Lisa dan kedua orang tuanya masih duduk di kursi ruang tamu.
Mereka bertiga masuk dan duduk berjajar. Pasti, mereka akan dihadapkan banyak pertanyaan dari orang tua Lisa.
“Dewa, maksud kamu tadi obat Lisa tertukar? Bagaimana bisa, saya sendiri yang mengambil dari apotik.” Pak Edi mengeluarkan bungkusan yang dia bawa.
Dewa langsung menyambarnya. Dia melihat dalam obat itu. Berbagai merk obat yang tak dia kenal. “Ini obat yang benar, Om. Saya tadi minta resep lagi dari dokter.” Dewa memberikan bungkusan obat yang benar. Jenis obat pada umumnya seperti paracetamol dn antibiotik.
“Seingat saya, tadi memang ada yang menabrak waktu keluar dari apotik. Saya gak menduga kalau kantong yang saya bawa udah ditukar.”
“Sebenarnya ada masalah apa yang kalian sembunyikan?” tanya Bu Reni yang merasa curiga. “Lisa? Kamu gak pernah cerita sama Mama?”
Lisa hanya menunduk di samping Mamanya. Termasuk mereka bertiga yang tidak berani unjuk suara karena hanya Lisa yang mempunyai hak untuk bercerita kepada kedua orang tuanya.
“Sebenarnya ada yang berniat jahat sama Lisa.” Akhirnya Lisa mulai bercerita.
“Niat jahat gimana sayang?”
“Ada yang mau nyelakain Lisa, Ma.”
Bu Reni membulatkan matanya. Lalu dia kini merangkul Lisa. “Siapa yang berani ngelakuin itu sama kamu?! Biar saya tuntut dia!”
__ADS_1
“Maaf tante, sebenarnya ini terjadi karena ada orang yang gak mau Lisa dekat dengan saya.” Rizal mengakui yang sebenarnya.
“Kalau gitu kamu jangan deketi Lisa lagi. Tante gak mau terjadi apa-apa sama Lisa!” Bu Reni memang terlalu protektif.
“Ma, dengerin penjelasan mereka dulu. Maaf ya nak Rizal.” Kata Pak Edi yang pikirannya lebih tenang dari istrinya.
“Sebenarnya, ini kedua kalinya kejadian ini terjadi. Sebelumnya ini terjadi sama Kakak saya. Kakak saya sudah....” Dewa menghentikan ceritanya karena dipotong oleh Lisa.
“Kak Dewi. Kak Dewi yang arwahnya sering aku lihat, Ma. Kak Dewi yang udah terbunuh oleh pelaku yang neror aku saat ini. Kak Dewi yang minta bantuan aku.”
“Lisa!” Bu Reni memotong omongan Lisa. “Kalau udah ada korban kenapa kamu masih mau ngelanjutin ini semua. Udah cukup! Mama gak mau kamu...”
Lisa menangkup kedua pipi Mamanya. Meyakinkan mamanya bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya. “Doa Mama dan Ayah yang akan selalu melindungi Lisa. Ma, maaf aku gak bisa jauhin Kak Rizal selain itu aku juga mau bantu Kak Dewi menemukan pelaku itu karena kedua mata ini adalah pemberian dari Kak Dewi.”
Bu Reni menatap nanar mata Lisa. “Jadi, yang donorkan mata ini....”
“Iya, Ma. Karena itu selama ini aku bisa lihat Kak Dewi. Kak Dewi udah ngasih aku kesempatan untuk aku lihat dunia ini, aku gak mungkin mundur dari masalah ini.”
Bu Reni kini memeluk Lisa sambil berurai air mata. “Mama akan selalu mendoakan kamu, sayang. Kalau ada apa-apa kamu cerita sama Mama ya..”
Lisa mengangguk lalu melepaskan pelukan mamanya. “Mereka semua jagain aku, Ma. Mama tenang aja ya..”
“Sampai lupa buatin kalian minuman. Tante buatin minum dulu ya..” Bu Reni beranjak dari duduknya.
“Kalian ngobrol dulu. Om juga mau mandi.” Pak Edi juga beranjak pergi.
Rizal kini menatap Lisa yang masih terlihat pucat. “Gimana? Kamu beneran udah baikan?”
Lisa hanya mengangguk.
“Hmm, mau ngobrol berdua. Kita bisa keluar.” Kata Karin sambil menyenggol lengan Dewa.
“Iya.” Kata Dewa karena dapat senggolan dari Karin.
“Gak usah.” Jawab mereka bersamaan.
“Sebenarnya gue udah tau siapa pelaku itu.” Rizal mengeluarkan sepucuk surat yang dia bawa. “Mita, sahabat Sofi.”
Mereka membaca surat itu bergantian.
“Kalian awasi gerak-gerik dia. Kayaknya dia bakal bertindak cepat, karena surat ini sekarang juga sudah viral. Mental dia dangkal, dia hanya berani main belakang.”
“Terus jawaban dari surat itu apa?” tanya Lisa.
Rizal kini menoleh Lisa. “Maksudnya?” Rupanya Lisa sengaja menggodanya. “Kalau ini dari kamu, gak perlu nunggu sampai dua tahun. Sedetik aja langsung aku balas.”
Karin dan Dewa menahan tawa. “Kita gagal jadi detektif kalau punya clien model kayak gini. Ntar aja kalau mau pacaran, kita gak mau jadi sepasang obat nyamuk.”
Mereka tertawa renyah bersamaan Bu Reni yang datang menbawa minuman dan makanan ringan.
__ADS_1