
"Ya, kok hujan." Setelah menelan suapan terakhir sarapannya, Lisa menatap langit pagi itu yang tiba-tiba turun hujan.
Kali ini Rizal tersenyum menang. Yes, hujan.
Lisa meneguk minumannya sambil melirik ekspresi Rizal. Dia bisa menebak pasti sebentar lagi Rizal akan bilang...
"Kita balik ke kamar yuk?"
Lisa hanya bisa menuruti Rizal. Lagi, dadanya kembali berdebar. Pasti kali ini Rizal akan berhasil. Walau sudah dua kali gagal tapi rasanya Lisa masih saja salah tingkah.
Mereka berjalan ke kamar dengan rengkuhan Rizal di pundak Lisa. "Udah, nanti kapan-kapan kan kita bisa ke sini lagi."
Lisa tidak menanggapi perkataan Rizal. Sebenarnya dia tidak berpikir tentang jalan-jalannya kali ini. Sampai di dalam kamar, Lisa juga masih terdiam. Dia masih memikirkan, hal apa yang harus dia lakukan. Apa dia bisa? Hah, kali ini memang dia seperti bocah labil.
Lisa berdiri di depan jendela sambil memandang hujan di pagi hari itu.
"Sayang, kenapa?" Rizal menyelipkan kedua tangannya diantara tangan Lisa lalu memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu Lisa. "Masih mikirin jalan-jalan yang gagal?"
__ADS_1
Lisa menggelengkan kepalanya. "Aku gak mikirin soal jalan-jalan."
"Lalu?" Rizal menyingkirkan rambut yang ada di tengkuk leher Lisa dan mulai menciuminya lagi yang berhasil membuat lenguhan kecil dari sensasi yang ditimbulkan.
"Aku mikirin Kak Rizal. Apa aku bisa itu, hmmm?"
Rizal menghentikan aksinya. Dia semakin mengeratkan pelukannya dan menghapus jarak di antara mereka. "Kan aku udah pernah bilang, ikuti saja alurnya dan nikmati sensasinya."
"Hmm, hpnya?"
Lisa kini menoleh Rizal dan sedikit mendongak. Mereka saling bertatapan hingga akhirnya wajah mereka sama-sama mendekat. Bibir saling bersentuhan. Ciuman yang sudah menjadi candu itu semakin mendalam dan memanas. Sesekali Rizal menyesap dan menggigit kecil bibir Lisa yang membuat sensasi lebih dari biasanya.
Suara decapan sudah memenuhi ruangan. Rizal terus mencium bibir Lisa dan bermain di dalamnya. Ketika Rizal menghentikan sejenak permainannya justru Lisa yang mendominasi ciuman itu. Mencium bibir Rizal dan menyesapnya. Ya, sistem tarik ulur memang lebih nikmat buat Rizal.
Rizal menyudahi ciumannya. "Tambah pinter aja ciumannya." Bisik Rizal di dekat telinga Lisa yang berhasil membuat merinding seluruh tubuh Lisa. Apalagi saat Rizal menggigit kecil telinga Lisa dan menyapunya dengan lidahnya. Seketika itu juga aliran darah Lisa terasa terpompa dengan cepat.
Tangan Rizal yang sedari tadi singgah di perut Lisa kini mulai naik ke atas. Perlahan Rizal membuka kancing baju Lisa. Kancing pertama, kancing kedua, kancing ketiga, dan sampai kancing terakhir.
__ADS_1
Lisa sedikit menangkup dadanya dengan tangan saat baju itu berhasil terlepas sempurna. Pengait itu juga berhasil Rizal lepas walau masih tertahan oleh tangan Lisa sebagai penutup terakhir.
"Jangan malu, kita sekarang sudah saling memiliki." ucap Rizal dengan lembut di dekat telinga Lisa.
Perlahan Lisa mengalihkan tangannya dan membiarkan penutup terakhir itu terjatuh ke lantai.
Napas Rizal semakin menderu. Dia tercekat melihat pemandangan yang selama ini hanya mampu dia bayangkan, yang selalu terasa saat Lisa memeluknya. Walau dia masih melihatnya dari atas bahu Lisa sudah terpampang jelas putih, mulus, dan lebih lebih dari ekspektasi Rizal.
Lisa melirik Rizal yang masih saja terpaku menatapnya di atas bahunya.
"Kak, aku..." Ya, tentu saja dia merasa malu-malu mau saat ini.
Rizal kini menatap wajah Lisa yang sudah merah padam dipenuhi hasrat. "Gimana? Sudah siap?"
Lisa tercekat. Dia semakin menegang.
💞💞💞
__ADS_1