Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Gangguan Lagi


__ADS_3

"Masih tidur nyenyak aja. Pasti kemarin kecapekan." Pagi itu Rizal sudah bangun bahkan dia juga sudah mandi karena sakit perut yang membuat dirinya terbangun lebih awal.


Rizal tersenyum menatap wajah pulas Lisa. Dia usap rambut Lisa. Bisa secinta ini aku sama kamu. Rizal mendekatkan dirinya dan ingin menciumnya tapi tiba-tiba Lisa membuka matanya.


"Kak Rizal!!" Lisa sangat terkejut bahkan dia langsung terduduk. Dia seolah lupa kalau semalam dia tidur bersama Rizal. "Lupa kalau kita udah..."


Rizal tertawa melihat wajah panik Lisa. "Maaf sayang, aku ganggu tidur kamu ya." Rizal meraih pundak Lisa dan merangkulnya. "Lupa ya, kalau kita udah nikah dan tidur bareng."


Lisa bisa mencium aroma harum dari tubuh Rizal, sedangkan dirinya masih baru bangun tidur. Mungkin saja dirinya berantakan, ada belek dan segala macam yang tercipta dari tidur. "Ini jam berapa? Kok Kak Rizal udah mandi." Lisa ingin turun dari ranjang tapi ditahan oleh Rizal.


"Baru jam 6. Aku tadi kebangun soalnya sakit perut jadi sekalian aja mandi." Rizal mendekatkan dirinya dan ingin mencium Lisa.


Lisa menahan bibir Rizal dengan tangannya. "Kak, aku belum mandi."


"Morning kiss dong."


"Kak..." Lisa mendorong Rizal, akhirnya Rizal membiarkan Lisa turun karena dia memang tidak mau memaksa Lisa.


"Nanti aku pasti dapatin morning kiss kamu. Gak lama lagi kamu pasti juga gak akan malu sama aku."


Lisa tak menimpali perkataan Rizal lagi. Dia berlenggang masuk ke dalam kamar mandi. Tak butuh waktu lama Lisa sudah selesai mengguyur tubuhnya.


Dia menepuk dahinya saat dia melupakan pakaiannya. "Lupa gak bawa baju ganti. Aduh, gimana ini? Masak pakai handuk aja." Lisa bergelut dengan pikirannya. Walau manusia yang ada di luar itu sudah menjadi suaminya tapi dia masih saja merasa malu.


Tak mungkin juga berlama di kamar mandi dengan udara yang cukup dingin pagi itu. Akhirnya Lisa hanya memakai handuk kimononya. Dengan perlahan dia membuka pintu kamar mandi. Dia mengintip Rizal yang sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil tatapannya fokus pada ponselnya.


Lisa melangkah cepat menuju almari kecil untuk mengambil pakaiannya.


Mata jeli Rizal kini bisa menangkap gerak gerik istrinya. Dia langsung berdiri dan memeluknya dari belakang saat Lisa sedang memilah baju.


"Harum banget habis mandi." Rizal mengeratkan pelukannya dan mengendus dalam tengkuk leher Lisa yang tidak tertutup rambut itu.


"Kak, aku mau ganti baju."


Rizal tak menggubrisnya. Dia kini mulai menciumi leher jenjang Lisa. Rizal yakin, saat itu Lisa hanya memakai handuk kimono saja yang membuat otak Rizal sudah travelling kemana-mana.


"Kak.." Lisa merasa geli merasakan bibir Rizal yang terus menciumi lehernya. Ini sensasi baru yang dia rasakan. Ingin dia menghindar tapi raganya seolah ingin Rizal terus melakukannya.


Rizal menarik handuk yang berada di bahu Lisa hingga terlihatlah bahu mulus Lisa. Rizal kembali menciuminya. Tak disangka respon Lisa lebih dari biasanya. Dia menggeliat bahkan suaranya sudah bercampur dengan napas tak teraturnya. Rupanya Rizal sudah menemukan titik kelemahan Lisa.

__ADS_1


"Kak, udah. Geli.."


"Geli atau enak?" Rizal berbisik di telinga Lisa yang membuat Lisa semakin bergairah. Napas berat Rizal menyapu daun telinganya. Tangan Rizal kini mengarah ke tali kimono. "Kita lakuin sekarang ya."


Lisa kini menatap Rizal. Wajah mereka sudah sama-sama dipenuhi gelora.


Lagi, mereka diganggu oleh setan gepeng yang berbunyi dengan kerasnya tanpa rasa sungkan.


Rizal kembali mengumpat kesal. Kini ponsel Lisa yang berbunyi. "Biarin saja ya.." Rizal ingin mendekatkan bibirnya ke bibir Lisa. Lagi-lagi ponsel itu berbunyi tanpa jeda yang merusak mood Rizal. Rizal melepas pelukannya dan meraih ponsel itu. "Dewa!!! Mereka sengaja banget ganggu kita."


Lisa sedikit tersenyum. Terlihat wajah Rizal yang kesal dan tersiksa.


Ide jahil muncul dipikiran Rizal. Rizal menarik Lisa agar tidur di atas ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut sampai batas leher lalu Rizal membuka kaosnya hingga terlihatlah dada bidang Rizal. Dia bersandar di headboard lalu mengangkat video call dari Dewa.


"Ngapain sih lo ganggu gue!!" tanpa mengucap salam atau apa Rizal langsung menyemprot Dewa.


"Ya ampun Rin. Jangan lihat. Jangan lihat." Terlihat Dewa menutup mata Karin. "Zal, pagi-pagi udah tempur aja. Haduh, mata Karin jadi ternodai. Minggir lo! Mana Lisa? Karin ada perlu sama Lisa."


"Ah, alasan aja lo. Bilang aja kalau mau ganggu gue." sangat terlihat rasa kesal di wajah Rizal.


Dewa tertawa saat Rizal menyerahkan ponselnya pada Lisa. Seketika Lisa duduk bersandar dan melihat Karin yang saat itu memang sedang bersama Dewa.


"Lis, kita ganggu lo ya?"


Lisa menggelengkan kepalanya. "Nggak. Gue baru aja mandi kok."


Dewa kembali tetawa keras. "Pantesan Rizal marah banget barusan. Lah, gagal ngegas lagi."


"Eh, Wa. Lo sengaja emang. Awas kalau lo spoiler lagi di grup." Teriak Rizal. Dia masih saja mengumpat kesal.


"Ya, gue jadi gak enak kan Wa sama mereka."


"Lah, kan lo mau pamitan sama Lisa. Udah biarin aja, kita telpon juga gak ada 15 menit. Kepending bentar."


"Udah gak papa. Emang lo mau balik kapan Rin?"


"Nanti sore. Gue cuma dapat izin dua hari."


"Makasih banget ya, lo udah bela-belain datang ke acara gue."

__ADS_1


"Iya, sama-sama. Gue ikut seneng lihat kebahagiaan lo."


"Lo hati-hati ya..."


"Iya.."


"Zal, ini udah. Ya ampun sekarang jadi ngembekan gitu."


"Kak Rizal maaf yah."


Akhirnya Rizal menyahut mereka. "Iya gak papa. Makasih ya Rin."


"Lisa, udah ya. Silahkan dilanjut..."


Lisa tersenyum lalu mematikan panggilannya. Terlihat Rizal masih menonton televisi. Lisa bergegas mengambil pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti baju. Setelah itu dia keluar dan duduk di sebelah Rizal.


"Masih marah?" tanya Lisa.


Rizal hanya menoleh Lisa yang kini sudah berpakaian rapi. "Aku gak marah cuma kesal aja. Udah dua kali tertahan loh. Nyiksa banget."


Lisa malah cekikikan. Memang tingkah sahabat-sahabatnya itu ada-ada saja. Lisa kini mendekat dan bergelayut di leher Rizal. "Lalu sekarang mau apa?"


"Mau makan kamu." Satu ciuman singkat berhasil didaratkan Rizal di bibir Lisa. "Kita breakfast di restoran yuk."


"Ayuk." wajah Lisa menjadi sangat sumringah.


"Kita pakai jaket dulu. Udara diluar pasti dingin. Tuh, sampai berkabut."


"Iya kak." Mereka segera memakai jaket lalu berjalan keluar dari kamar hotel dengan tangan yang bergandengan sangat mesra.


"Mulai sekarang kita silent aja hp kita biar gak ada yang ganggu."


"Iya. Kak, di dekat hotel ini kayaknya ada banyak wahana wisata. Habis sarapan kita jalan-jalan yuk."


Rizal sedikit menggaruk kepalanya. Ini sebenarnya honeymoon apa rekreasi... Hufftt..


💞💞💞


Tenang Zal, nanti aku buat episode spesial. Tahan dulu ya gasnya...

__ADS_1


__ADS_2