
"Brruuaakkk!!!" Rizal menggebrak meja dengan keras. "Gue gak akan biarin lo nyentuh Lisa seujung jari pun!!!"
Andi hanya menyunggingkan sebelah bibirnya. "Siapa yang nyentuh Lisa. Lo aja yang punya cewek cantik lo anggurin. Sayang banget."
Perkataan Andi semakin membuat Rizal marah. Kini dia menarik krah jas almamater Andi sehingga membuat Andi berdiri. "Lo pikir gue kayak lo!! Yang suka mainin cewek!!"
Andi memasang wajah memuakkan seolah menantang Rizal. "Lo jangan sok suci. Lo punya cewek selama bertahun-tahun ngapain?"
Satu pukulan berhasil dilayangkan Rizal ke pipi Andi sampai dia mundur beberapa langkah.
Andi hanya sedikit meringis, lalu mengusap sedikit darah yang keluar dari ujung bibirnya. "Gimana rasanya kalau hidup lo diusik? Lo pikir enak, gue selalu dibanding-bandingkan sama lo. Di rumah, di kampus. Gila!! Gue udah dua tahun tahan buat baik sama lo."
"Gue gak habis pikir, pikiran lo masih kayak anak SD yang belum mengerti mana yang baik mana yang benar."
Andi mendekat dan seolah menantang Rizal lagi.
"Dan lagi, ini soal Lisa. Gak ada sangkut pautnya sama kehidupan lo! Jadi, lo jangan pernah ganggu dia!" Rizal mendorong kasar Andi lalu dia membalikkan badannya karena dia tidak mau masalah akan semakin menjadi besar kalau dia sampai lepas kendali di kampus.
Rizal berjalan menuju taman belakang kampus untuk menenangkan pikirannya. Dia hela napas panjang. Selalu saja ada masalah dalam hidupnya yang menyangkut keselamatan Lisa. Dia sungguh tidak ingin terjadi apa-apa sama Lisa.
Beberapa saat kemudian ponsel Rizal berdering. Ada panggilan masuk dari Pak Bambang. Rizal mengernyitkan dahinya. Sebenarnya dia tidak mau lagi berurusan dengan kehidupan Andi tapi dia juga merasa tidak enak dengan Pak Bambang.
"Iya hallo. Selamat siang, Pak."
"Hallo, maaf ya mengganggu. Kamu nanti sore bisa ke tempat Bapak?"
"Ada apa, Pak."
"Bapak cuma kesepian saja, butuh teman ngobrol. Sama sekalian bahas soal saham yang kamu tanyakan kemaren."
"Oiya, Pak. Iya nanti saya ke tempat Bapak. Setelah Maghrib ya, Pak."
"Iya, terima kasih ya Nak Rizal."
"Iya Pak. Sama-sama."
Pak Bambang menyudahi panggilannya. Rizal simpan kembali ponsel ke dalam sakunya. Dia menghela napas panjang. "Bisa ya, Bapak sebaik itu punya anak kayak Andi. Durhaka."
......***......
Sekitar pukul 18.30 Rizal bersiap untuk pergi ke rumah Pak Bambang. Dia kini mengendarai sepeda motornya. "Seperti ada yang kurang." Tentu saja ada yang kurang jika tidak membonceng Lisa. "Ajak Lisa ajalah. Pasti Andi juga gak ada di rumah jam segini." Rizal melajukan motornya dan beberapa saat kemudian dia sudah menghentikan motornya di depan rumah Lisa.
Rizal turun dari sepeda motor yang ternyata sudah disambut oleh Lisa.
"Loh, Kak Rizal mau kemana?" tanya Lisa yang melihat baju rapi Rizal beserta jaketnya.
"Ke hatimu." Gombalan Rizal mulai kambuh.
__ADS_1
"Ya udah sini masuk." jawab Lisa yang sebenarnya hanya mempersilahkan Rizal masuk ke rumahnya bukan ke hatinya karena hatinya hanya muat cintanya saja.
"Ikut aku yuk?" ajak Rizal sambil duduk di kursi ruang tamu rumah Lisa.
"Kemana?"
"Ke rumah Pak Bambang. Aku ada perlu sesuatu."
Lisa tidak langsung menjawab. Dia sebenarnya masih takut bertemu dengan Andi.
"Tenang, Andi pasti belum pulang jam segini. Yuk, sambil jalan-jalan."
Lisa menganggukkan kepalanya pertanda setuju. "Tunggu sebentar ya, Kak. Aku mau siap-siap dulu."
Rizal mengangguk. Tahu kan, sebentarnya perempuan kalau lagi dandan paling sedikit memakan waktu 30 menit. Untung Rizal sabar.
"Mau keluar?" tanya Bu Reni sambil duduk di sebelah Rizal.
"Iya tante, mau ke rumah Pak Bambang ada perlu."
"Pak Bambang kepala sekolah itu? Kamu deket ya sama Beliau."
Rizal menganggukkan kepalanya. "Iya lumayan tante. Pak Bambang sudah ngasih banyak ilmu ke saya."
Beberapa saat kemudian Lisa keluar dan sudah rapi lengkap dengan jaket yang telah dipakai.
"Iya, hati-hati. Pulang jangan terlalu malam."
"Iya."
Mereka berjalan menuju motor Rizal. Setelah mereka naik ke atas motor, Rizal segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Tidak lupa, tangan Lisa yang melingkar di pinggang Rizal memeluknya.
"Gini kan enak. Jadi ada yang meluk." kata Rizal sambil mengusap tangan Lisa sesaat yang ada di perutnya. Sebenarnya inilah maksud Rizal mengajak Lisa untuk menemaninya.
"Hmmm, jadi gitu maksud ngajak aku.."
"Ya, keceplosan." Rizal tertawa tapi dia justru merasakan pelukan Lisa yang semakin erat.
Beberapa saat kemudian Rizal sudah sampai di depan rumah Pak Bambang dengan pagar rumah yang terbuka separuh.
Rizal menghentikan motornya di halaman rumah Pak Bambang lalu mereka turun dari motor dan berjalan menuju pintu masuk. Terlihat Pak Bambang sudah membuka pintu dan tersenyum ke arah mereka.
"Akhirnya kamu datang. Gini dong bawa Lisa biar tambah ramai. Ayo, masuk."
Mereka masuk ke dalam rumah Pak Bambang lalu duduk di kursi ruang tamu.
"Tunggu sebentar ya.." Pak Bambang masuk ke dalam untuk menyuruh pembantunya menyiapkan jamuan buat Rizal dan Lisa. Beberapa saat kemudian Pak Bambang keluar sambil membawa laptopnya. Lalu Beliau duduk di dekat Rizal dan menaruh latopnya yang telah menyala di atas meja. "Dari mana? Habis jalan-jalan?'
__ADS_1
"Dari rumah, Pak. Kita langsung ke sini," jawab Rizal. "Andi belum pulang kan?"
"Ya begini setiap hari, Bapak selalu sendiri di rumah. Entah kapan Andi bisa berubah. Kalau Bapak semakin marah, Andi semakin menjadi. Bapak cuma bisa berdo'a yang terbaik buat Andi."
Lisa bisa melihat kesedihan di wajah Pak Bambang. Inilah alasan Rizal, mengapa waktu itu masih mau berteman dengan Andi. Karena ada hati orang tua yang terluka di setiap tingkah nakal anaknya.
Beberapa saat kemudian pembantu Pak Bambang datang membawa minuman dan makanan kecil yang diletakkan di atas meja.
"Sambil diminum ya.."
"Iya, Pak."
"Gimana? Jadi ikut saham yang Bapak tawarkan? Perusahaan ini bagus, profit setiap bulan selalu naik."
Rizal melihat statistik perkembangan saham yang ada di laptop Pak Bambang.
Lisa hanya terdiam melihat Rizal. Jadi ini, maksud Kak Rizal tentang bisnis digitalnya. Emang aku gak salah pilih calon suami. Aduh, Lisa mikir apa sih. Lisa, sedikit tersenyum. Dia malu dengan pemikirannya sendiri.
"Bapak punya rumah mewah dan mobil itu ya dari saham ini. Gaji jadi Kepala Sekolah paling cuma cukup buat makan."
"Iya, saya masih punya saham di perusahaan kecil-kecil saja. Ada niat buat mencoba ke sini."
"Iya, dicoba. Nanti Bapak bimbing." Pak Bambang kini melihat ke arah Lisa yang sedari tadi hanya mampu menatap Rizal. "Lisa, kok diam saja? Ayo diminum."
Perkataan Pak Bambang membuyarkan lamunan Lisa. "I-iya, Pak." Agar tidak salah tingkah akhirnya Lisa mengambil secangkir teh hangat dan mulai meneguknya.
"Kalian kapan mau menikah?"
Pertanyaan Pak Bambang berhasil membuat Lisa hampir tersedak dan terbatuk-batuk. Dia menyudahi minumnya dan meletakkan kembali cangkir di atas meja.
"Lisa, pelan-pelan." Rizal memukul pelan punggung Lisa.
"Maaf, Bapak salah bertanya."
Rizal menggelengkan kepalanya. "Memang Lisa suka gugup kalau ditanya soal menikah." Rizal sedikit tersenyum menggoda Lisa yang dibalas tatapan tajam dari Lisa.
"Sudahlah, kalian tidak perlu pikir panjang lagi. Daripada pacaran lama-lama mending langsung nikah. Kan bisa sambil kuliah. Lagian, Bapak yakin kamu juga sudah punya penghasilan."
Rizal menatap Lisa lagi yang terlihat salah tingkah. "Gimana? Sudah siap menikah?"
Pertanyaan Rizal justru semakin membuat Lisa gerogi. Tapi justru Rizal mendapat jawaban yang lebih dari biasanya. "Gak usah tanya, langsung aja lamar ke rumah."
Entah itu hanyalah gurauan atau tidak yang jelas jawaban Lisa membuatnya sangat bahagia.
💞💞💞
Oke, besok aku siapin acara lamarannya.. 🤠Nunggu antri episode dulu ya Bang Rizal...
__ADS_1