
"Gimana? Sudah siap bertemu dengan sesuatu yang sedari tadi terkekang dalam celana ini?" Rizal melepas kaosnya lalu dia beralih ke resletingnya dan menurunkannya.
Lisa tercekat. Seketika dia kembali menegang. Lisa reflek menutup kedua matanya saat Rizal berhasil melepas seluruh pakaiannya.
Rizal tersenyum kecil melihat tingkah polos istrinya. "Sayang, kok ditutup matanya. Hei..." Rizal membungkukkan badannya. Lalu menarik tangan Lisa agar membuka matanya. "Lucu banget sih." Rizal justru menuntun tangan Lisa untuk menyentuhnya.
Lisa membelalakkan matanya. Ini baru pertama kalinya dia menyentuh dan melihatnya. Berotot, panjang, dan yah, seperti itulah yang ada dipikiran Lisa.
"Kenapa sayang?"
Lisa menelan ludahnya sendiri. "Hmm, ini, segini, bisa masuk semua?" Entahlah segininya itu berapa.
Rizal tertawa mendengar pertanyaan polos Lisa. Rasanya dia semakin gemas. Dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Pasti sakit?"
"Sedikit." jawab Rizal lalu menggenggam tangan Lisa dan mulai menindih tubuhnya.
Lisa mulai menegang. Sakit? Sakit yang seperti apa? Bagai ditusuk pisaukah? Hah, pikirannya terlalu berlebihan rupanya.
"Udah jangan tegang, cukup nikmati saja." Rizal mencium singkat bibir Lisa. Kini dia sudah mengungkung Lisa dengan pinggul yang sudah berada di antara kedua paha Lisa. Rupanya Rizal masih ingin bermain dengan gesekan.
Baru gesekannya saja sudah membuat Lisa panas dingin. Dia kini menatap Rizal yang berada di atasnya. Mereka saling pandang dengan pandangan penuh hasrat.
"Sekarang ya." Rizal kini bertumpu pada satu tangan sedangkan tangan satunya berusaha mengarahkannya. Cukup sulit. Satu kali hentakan gagal karena Lisa menghindar. Kedua kalinya gagal lagi, lagi-lagi Lisa menghindar. Entah karena dia belum fasih atau apa, yang jelas ini tak mudah seperti yang dia bayangkan.
Rizal melepaskan tangannya dan kini mengusap pipi Lisa. "Sayang, kerja samanya ya. Kenapa?"
"Hmm, sakit."
Rizal menatap Lisa sesaat lalu mengecup keningnya. "Iya, awal memang sakit. Tapi nanti gak kok. Pasti cuma dikit soalnya kan udah foreplay."
Lisa terdiam.
"Belum siap? Kalau belum siap ditunda dulu gak papa."
Lisa hanya memandang Rizal. Tidak mungkin ditunda lagi. Biar bahasa tubuh Lisa yang bicara. Dia kini mengalungkan tangannya di leher Rizal dan sedikit mendorong tengkuk leher Rizal agar dia mendekat. Lisa mencium bibir Rizal. Ya, itulah jawabannya.
Tanpa melepas ciumannya, Rizal mencobanya lagi. Dia arahkan lagi, dan kali ini satu kali hentakan berhasil menerobos masuk ke dalam sepenuhnya.
Lisa menjerit tertahan bahkan dia sampai menggigit bibir Rizal.
Rizal melepas ciumannya. Bibirnya terasa perih. Tapi tak seperih yang Lisa rasakan. Tanpa ada pergerakan, dia biarkan beradaptasi di dalam sana.
Dia kini menatap Lisa yang masih tampak meringis kesakitan. Dia usap rambutnya pelan untuk memberi kenyamanan dan memberikan berbagai sentuhan-sentuhan sensual mulai dari leher sampai dada. Dia mulai menggerakkan pinggulnya pelan dan berirama.
Rasa perih dan panas masih terasa beberapa saat. Sangat terasa pergerakan yang dilakukan Rizal di dalam sana. Lisa hanya bisa menatap Rizal dan merasakan sentuhan-sentuhan Rizal.
__ADS_1
Lisa terus menatap Rizal. Menatap wajah Rizal yang dipenuhi gairah membuatnya terhanyut oleh aura tampan yang lebih dari biasanya dan dia mulai lupa dengan sakit yang dia rasakan. Dia kini mengusap bibir Rizal yang berdarah karena ulahnya tapi justru Rizal menghisap jarinya.
Rizal menyadari Lisa sudah mulai mengikuti alurnya, dia sedikit mempercepat tempo gerakannya.
Lisa kembali melingkarkan kedua tangannya di leher Rizal. Sesuatu yang nikmat itu mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Desa han sudah tidak mampu dia tahan. Begitu juga dengan Rizal, semakin lama terasa semakin nikmat.
"Kak, hmmppff, rasanya ada sesuatu." Lisa semakin mende sah. Napasnya semakin tersengal.
Rizal semakin menambah tempo gerakannya. "Nikmati saja sayang. Nikmati apa yang kamu rasakan sekarang."
"Kak, rasanya kayak ada sesuatu yang, hhmmppff, inih... " Lisa semakin meracau. Tubuhnya menegang yang dibarengi dengan remasan di bawah sana. Ada aliran yang terasa sangat hangat yang membuat Rizal juga semakin tidak tahan.
"Sayang, rasanya aku juga mau..." Rizal semakin mempercepat gerakannya. Dengan erangan yang cukup keras Rizal berhasil menumpahkan hasratnya.
Dia kini terasa lemas dan menjatuhkan dirinya di samping Lisa. Mereka berdua sama-sama mengatur napas. Lalu kembali berhadapan dan tersenyum.
"Gimana rasanya?" Rizal mengenggam tangan Lisa dan menciumnya.
"Lemes."
"Ya sekarang, tapi tadi nikmat kan?"
Lisa mengangguk malu.
Rizal tersenyum bahagia. Dia berhasil. Berhasil membuat kenikmatan yang bukan hanya untuk dirinya saja. "Makasih ya, sayang."
"Kamu salah."
Lisa menatap keseriusan yang tersirat dari mata Rizal. "Salah?"
"Iya. Aku gak mau kamu melakukan itu karena suatu kewajiban, karena mungkin saja kamu melakukannya terpaksa semata hanya karena kewajiban. Tapi aku mau kamu melakukannya karena rasa cinta. Karena cinta tidak akan memaksa."
Mendengar filosofi Rizal, Lisa tersenyum dan langsung memeluknya dengan erat. "Aku cinta kamu, Kak. Aku sayang banget sama Kak Rizal."
"Aku lebih, lebih cinta sama kamu." Rizal kembali mencium bibir Lisa walau bibirnya masih terasa perih. Hanya sesaat lalu Rizal menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka berdua.
Ingin memakai baju tapi rasanya masih malas untuk bergerak dan pindah posisi dari zona nyaman. Ya, akhirnya mereka tertidur sambil berpelukan di bawah selimut.
Hampir dua jam mereka tertidur. Lisa yang tak bisa lama-lama tidur siang pun terbangun. Dia menggeliat. Badannya terasa sedikit pegal. Dia singkirkan tangan Rizal yang memeluknya perlahan karena Rizal masih tertidur pulas. Dia membuka selimut dan menurunkan kakinya dari ranjang.
"Hah?" Lisa terkejut saat melihat noda merah yang memudar karena cairan lain.
"Kenapa sayang?" Mendengar suara Lisa, Rizal jadi terbangun.
"Kak ini?"
Rizal melihat sesuatu yang ditunjuk Lisa. "Oo, biasa kan pertama memang gitu."
__ADS_1
"Bukan, tapi spreinya kan jadi..."
"Biar nanti aku suruh cleaning service ganti."
"Mereka jadi tahu kan kalau kita baru aja itu."
"Lah, kan mereka udah tahu kalau kita pengantin baru. Biarinlah. Apa mau kamu bawa pulang spreinya buat kenang-kenangan. Gak papa, paling nanti cuma bayar sejuta kalau dari sini. Harga khusus."
"Ih, Kak Rizal. Ya udah aku mau mandi dulu."
"Ikut..." Rizal meraih lengan Lisa mencoba menggodanya.
"Kak..."
"Iya.. Iya.. Ya udah kamu mandi biar aku suruh cleaning service ke sini sama order makanan." Rizal melepaskan tangan Lisa.
Lisa memunguti baju yang tercecer lalu berlari kecil menuju kamar mandi.
Rizal tersenyum melihat tingkah lucu istrinya. Lalu dia kembali memakai bajunya dan menutupi noda itu dengan selimut agar sedikit terkamuflase lalu menelepon cleaning service agar ke kamarnya setelah itu dia menelepon bagian restoran untuk memesan makanan mengirim ke kamarnya.
Tak berapa lama, dua orang cleaning service sudah datang. Mereka tersenyum ramah pada Rizal. Kemudian mereka masuk dan segera bekerja.
Rizal mengalihkan dirinya dengan tontonan TV.
Tak butuh waktu lama, semua sudah kembali rapi dan wangi.
"Sudah selesai Pak."
"Terima kasih." Tak lupa Rizal memberikan tips untuk mereka.
"Wah, terima kasih loh Pak. Bapak pengantin baru ya. Udara di sini memang cocok buat bulan madu."
Rizal hanya tersenyum dan mengangguk.
"Nanti kalau butuh ganti sprei lagi langsung telepon saja, Pak."
"Iya Pak, terima kasih." Mereka berdua keluar lalu pelayan restoran masuk dan meletakkan makanan yang Rizal pesan di atas meja.
"Terima kasih."
Setelah semua selesai. Dia kembali duduk di sofa dan menunggu Lisa keluar dari kamar mandi.
💞💞💞
***Jadi kebablasan kan akunya.. 😆
Tinggal beberapa part lagi cerita ini udah selesai ya sampai terlahirnya cikal bakal di season 2. Udah sedikit kepikiran sama ide ceritanya, tentunya masih tetap dengan RiLi. Mau ngembaliin genre misteri soalnya cerita ini tinggal romancenya aja. 💆♀️***
__ADS_1