
"Kak, kita ke rumah Elis sekarang!" kata Lisa yang kini mengajak Rizal berbelok arah ke rumah Elis.
"Tapi Lis, kamu baru aja pingsan. Kita balik dulu aja ya."
Lisa menggelengkan kepalanya. Dia tetap kekeh ingin ke rumah Elis saat itu juga.
Akhirnya Rizal menuruti kemauan Lisa dan menemaninya. Tak berapa lama mereka sampai di depan rumah Elis yang masih tertutup rapat bahkan nampak tirai jendela juga belum terbuka.
Lisa menatap nanar. Dia teringat, dulu dia sering ke rumah itu untuk sekedar main dan mengobrol. Tak menyangka semua itu berlalu begitu cepat.
Lisa melangkahkan kakinya mendekati pintu lalu mengetuknya. Sampai beberapa kali tidak ada juga yang membukanya. Lisa menghela napas panjang lalu dia kembali mencoba mengetuk pintu itu.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Terlihat wanita paruh baya nampak terkejut melihat kedatangan Lisa. "Lisa?"
"Tante Eva, gimana keadaan Elis?"
Pertanyaan Lisa membuat Bu Eva sedih. Dia kini menuntun Lisa masuk ke dalam rumah. "Sudah lama saya ingin memberikan sesuatu ke kamu. Saat saya mau menitipkan ke Rey, Rey selalu tidak mau."
Rizal sengaja hanya menunggu Lisa diluar.
Bu Eva kini mengajak Lisa masuk ke dalam kamar Elis.
Lisa menebar pandangannya. Dia masih ingat saat bersama Elis di kamar itu. Banyak kenangan suka duka yang telah mereka lalui. Dia kini duduk di sisi ranjang yang sudah beberapa kali dia tiduri bersama Elis saat dia menginap.
Bu Eva memberikan sepucuk surat yang bertuliskan namanya. "Surat dari Elis."
Lisa membuka surat itu.
Lisa, maaf aku tidak bisa berbicara langsung dengan kamu. Ada satu hal yang harus kamu tahu, aku bukan sahabat kamu yang baik. Aku jahat. Aku egois. Aku udah tega dorong kamu sampai kamu terjatuh dan hampir buta hanya karena aku tidak rela Rey lebih memilih kamu.
Maafkan aku. Aku terlambat menyesalinya. Aku tahu kamu sahabat yang baik. Aku yang sangat jahat. Aku gak bisa terus dihantui kesalahan ini. Aku harus mengakhirinya. Aku harus merasakan apa yang sudah kamu rasakan. Jika aku tidak selamat, cukup kamu maafkan aku maka aku akan tenang.
Dan satu hal lagi, Rey ada niat buruk sama kamu. Jauhi dia!
Lisa meremas sesaat kertas itu. Air matanya semakin berurai. "Elis, kenapa kamu lakuin ini? Apa pun yang kamu lakuin sama aku, aku pasti akan maafin kamu..."
Bu Eva kini memeluk Lisa. Dia juga menangis. Dia sangat merasa kehilangan putrinya. "Tante tahu apa yang dilakukan Elis itu salah. Gak seharusnya Elis buat celaka kamu."
Lisa melepas pelukan Bu Eva lalu menatapnya. "Sebenarnya apa yang sudah terjadi?"
__ADS_1
Terdengar helaan panjang sesaat sebelum Bu Eva mulai bercerita. "Elis bunuh diri. Dia sudah ditemukan tak bernyawa di tempat kamu kecelakaan waktu itu."
Lisa sangat terkejut. Dia tidak mengira Elis bisa berbuat senekat itu dan mimpi buruknya selama ini benar.
"Elis sempat bercerita sama tante, kalau dia udah ngelakuin kesalahan besar. Dia udah sengaja dorong kamu sampai kamu terluka parah hanya karena dia cemburu dengan Rey. Elis semakin merasa bersalah saat dia gak sengaja dengar kalau Rey akan guna-guna kamu. Tante sudah meyakinkan Elis, kalau kamu pasti akan maafin dia. Tapi Elis justru berbuat nekat."
Lisa kini kembali memeluk Bu Eva. Dia ikut merasakan apa yang dirasakan Bu Eva. Kehilangan. "Tante sabar ya, maafin saya yang terlambat mengetahui semuanya. Harusnya dulu saya gak hilang kontak dengan Elis. Saya yang sengaja menjauhi Elis karena saya kira Elis akan bahagia bersama Rey."
"Kamu gak perlu minta maaf, ini sudah takdir. Tante tahu, kamu itu baik. Kamu sengaja mengalah buat Elis." Bu Eva melepaskan pelukannya lalu mengusap lembut rambut Lisa. "Semoga kamu bahagia yah bersama seseorang yang menyayangimu dengan tulus."
Lisa tersenyum dalam tangisnya. Selama ini memang Bu Eva selalu baik padanya. Lisa menghapus air matanya lalu dia berdiri. "Saya balik dulu ya tante."
Bu Eva menganggukkan kepalanya. "Salam ya buat keluarga kamu."
"Iya tante." Lisa kini berjalan keluar rumah yang diikuti oleh Bu Eva.
"Sudah?" tanya Rizal yang melihat Lisa keluar. Dia kini berdiri di samping Lisa.
Lisa menganggukkan kepalanya lalu mencium tangan Bu Eva sesaat untuk berpamitan. "Balik dulu ya tante."
"Iya hati-hati." Bu Eva tersenyum saat Rizal juga bersalaman dengannya. "Jaga Lisa ya.."
Lisa menghela napas panjang. Ada sedikit beban yang berkurang. Meski sebenarnya dia sangat merasa kehilangan.
"Lisa kamu darimana? Mama cariin dari tadi." Bu Reni segera menghampiri Lisa yang masih berada di rangkulan Rizal saat sudah sampai di depan rumah Kakek Dirman.
Rizal melepas rangkulannya saat Lisa kini beralih memeluk Mamanya. "Ma, Lisa baru tahu kalau ternyata Elis udah gak ada."
Pernyataan Lisa membuat Bu Reni mengerutkan dahinya. "Maksud kamu sayang?"
"Elis Ma. Dia udah meninggal."
"Yang bener?" Bu Reni juga tidak percaya dengan ucapan Lisa. Dia sama sekali tidak mendengar kabar tentang hal itu.
Lisa melepaskan pelukannya. Lalu mereka berjalan masuk ke dalam rumah Kakek Dirman. "Iya, Ma. Lisa juga gak nyangka."
"Darimana kamu tahu?"
"Tadi..." Lisa menghentikan perkataannya. Dia tidak mungkin menceritakan kalau Elis yang memberitahunya. "Tadi Lisa dari rumahnya."
__ADS_1
"Ya sudah, kita do'akan dia, semoga dia tenang di sana."
"Bentar lagi kita pulang yah." Kata Pak Edi yang terlihat baru saja selesai mandi.
"Sebelum pulang kalian makan dulu. Ibunya Rey sudah masak buat kalian. Ayo.." suruh Kakek Dirman.
*
"Lo darimana pagi-pagi sama Lisa?" tanya Dewa yang kini masih berada di teras depan.
"Habis dari rumah temennya Lisa."
"Bilang aja kalau habis pacaran. Alasan aja lo." cibir Dewa.
"Iya. Yang lagi iri di tempat dingin gak ada pacar." balas Rizal menggoda Dewa. Lalu dia masuk ke dalam rumah Kakek Dirman karena ada panggilan dari dalam.
"Tau aja lo!" Dewa menyusul masuk ke dalam.
Sebelum pulang mereka semua sarapan terlebih dahulu. Setelah itu mereka segera berkemas.
"Kek, terima kasih sudah mengijinkan kita menginap dan menjamu kita semua di sini." ucap Pak Edi saat sudah berada di teras rumah.
"Iya, sama-sama. Kapan-kapan kalian bisa liburan lagi ke sini. Pasti ramai."
"Iya, Kek."
Mereka semua berpamitan satu per satu. Sebelum Lisa meninggalkan teras rumah Kakek Dirman, ada Rey yang kini memanggilnya di samping teras rumah.
Lisa sempat ragu, tapi kini dia menghampirinya. Mungkin saja ada sesuatu yang ingin disampaikan Rey. Tentu saja ada Rizal di belakang Lisa yang mengikutinya.
Nampak wajah Rey banyak memar dan lebam. Dia kini menatap nanar Lisa. "Lis, maafin gue ya. Gue mohon, maafin gue."
Lisa menganggukkan kepalanya. "Gue maafin, asal lo bisa berubah."
"Lisa... Sini!!" terdengar suara panggilan Bu Reni.
"Iya, ma." Lisa segera membalikkan badannya dan berjalan menuju Mamanya.
Kini tinggal Rizal yang beradu tatap dengan Rey. "Ada satu masalah yang belum selesai. Kalau Lisa sampai dapat imbas dari video yang udah lo sebarin, lo habis sama gue!!" Rizal mencengkeram kaos Rey sesaat lalu mendorongnya yang membuat Rey mundur beberapa langkah. Lalu Rizal segera menyusul Lisa.
__ADS_1