
Pagi itu, Rizal menghentikan motornya di depan rumah Lisa seperti biasa untuk menjemput Lisa dan berharap pagi ini Lisa kembali seperti biasanya. Dia tersenyum saat melihat Lisa keluar dari rumahnya. Rizal turun dari motornya karena ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.
Wajah Lisa tanpa ekspresi. Bahkan pandangan Lisa nampak kosong walau sudah jelas ada Rizal di depannya.
"Selamat ulang tahun Lisa. Maaf aku..." Rizal akan mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya tapi Rey datang yang membuat Lisa seketika tersenyum sumringah dan berjalan menghampirinya.
"Sorry, agak telat." kata Rey sambil mengisyaratkan pada Lisa agar naik ke boncengannya.
Lagi, Rizal dibuat kecewa. Jujur saja dia sakit hati. Dia ingin marah tapi kali ini dia tahan. Dia tidak mau berkelahi lagi dengan Rey seperti kemaren.
Rizal kembali menaiki motornya dan mengikuti motor Rey yang sudah melaju bersama Lisa. Dia harus bisa melawan rasa sakit hatinya. Memutuskan hubungannya pun tidak mungkin karena dia yakin, Lisa masih ada untuknya dan akan selalu untuknya.
Dia terus mengikuti mereka dari belakang. Tidak menyalipnya walau pun Rey dengan sengaja memelankan laju motornya. Entah kenapa, Rizal merasa waktu berputar sangat lama tidak seperti biasanya saat Lisa berada diboncengannya.
Mereka membelokkan motornya ke gerbang sekolah hampir bersamaan. Beberapa pasang mata melihat adegan itu dengan heran. Bagaimana tidak, Rizal yang berstatus pacar Lisa justru membiarkan Lisa bersama pria lain. Bahkan diantara mereka ada yang berkomentar, "Mungkin udah putus."
Tak terlewat juga tatapan mata Sofi. Dia cukup geram melihat Lisa. Sofi langsung menghampiri Lisa yang sedang menunggu Rey memarkir motornya, "Eh, gak tau malu banget. Lo bisa-bisanya bareng cowok lain." Tak ada tanggapan dari Lisa. Sofi sadar ada yang berbeda dari Lisa. Dia melihat kalung yang melingkar di leher Lisa. Sofi sedikit melebarkan matanya. Tanpa pikir panjang Sofi langsung menarik paksa kalung itu hingga terlepas.
"Au.." teriak Lisa yang merasakan lehernya sakit.
"Udah puas nyakitin Rizal. Dari kemaren Rizal mau bela-belain ngasih kejutan buat lo, tapi lo malah.."
Ekspresi Lisa seketika berubah. "Kak Rizal, Kak Rizal mana?" Dia kini justru mencari Rizal. Terlihat Rizal sudah berjalan menjauh, meninggalkan tempat parkir.
"Heh! Lo jangan ikut campur!!!" perkataan Rey membuat Sofi terkejut. Baru kali ini ada seseorang yang membentaknya dengan kasar. Rey merebut paksa kalung yang digenggam Sofi. Lalu dia menahan tangan Lisa agar tidak mengejar Rizal. Dengan cepat Rey memakaikan kalung itu lagi di leher Lisa. "Udah, biarin aja. Gak usah kejar Rizal. Sekarang kita ke kelas ya."
Lisa luluh, dia menuruti perkataan Rey.
Sofi tercengang. "Wow, ada yang gak beres!!!" Dia kini berjalan cepat menyusul Rizal.
__ADS_1
"Rizal!!!" panggil Sofi. Dia sedikit ngos-ngosan.
Rizal saat itu sudah duduk bersama Evan di kelas.
"Apa? Mau dukung Rizal buat putus sama Lisa. Udah lo jangan ikut campur dulu soal ini." kata Eva yang menuduh Sofi terlebih dahulu.
"Bukan soal itu. Ada yang lebih penting." Sofi kini menyeret kursi agar bisa duduk di dekat mereka. "Gue tau kenapa Lisa bisa sama Rey."
Rizal mengernyitkan dahinya. Sofi memang penuh kejutan. Sekali dia lihat, dia langsung mengerti pokok permasalahannya.
"Kenapa?" tanya Rizal.
"Gue tahu, kalung yang dipakai Lisa itu adalah kalung janji jiwa. Dimana pemakainya akan menuruti semua kemauan orang yang punya pasangan dari kalung itu."
"Yang bener?" tanya Rizal dan Evan secara bersamaan.
"Iya, bener. Gue pernah liat itu kalung. Bokap gue punya teman paranormal. Dia ahli dalam soal pemikat dan aura."
"Gue itu kasih info, malah lo tuduh."
"Iya, maaf. Tapi kalau lo melet gue, gue mah rela."
Lagi Evan mendapat satu cubitan dari Sofi.
"Gue udah tebak. Makanya gue gak mau kebawa perasaan gue buat mutusin Lisa." Rizal kini bersandar sambil menghela napas panjang. Dia harus bisa memikirkan cara untuk melepas Lisa dari belenggu Rey.
"Lo harus cepet ambil itu kalung sebelum Rey berbuat macam-macam sama Lisa."
"Iya, gue harus cari cara. Masalahnya sekarang Lisa gak mau deket-deket sama gue."
__ADS_1
"Tadi gue berhasil narik itu kalung. Tapi kalian tau gak, Rey berani bentak gue. Bahkan suaranya lebih menakutkan daripada bokap gue." cerita Sofi lalu dia berdiri sambil mengembalikan kursinya. "Lo hati-hati aja. Gue lihat Rey itu licik." Sofi memang pantas menjadi seorang detektif. Dia sangat jeli melihat suatu masalah.
......***......
Saat jam istirahat Rizal bergegas mencari Lisa ke kelasnya tapi sudah tidak ada. Lalu ke kantin, hanya ada Dewa, Reno dan Karin. Rizal kini duduk di sebelah Reno sambil menanyakan keberadaan Lisa. "Lisa dimana?"
"Lisa itu dari tadi sama Rey. Dia udah kayak orang ling-lung, gue tanya jawabnya flat terus."
"Dimana mereka?" Rizal sedikit menggebrak meja. Dia sudah cukup menahan emosinya.
"Sabar, sabar. Lo jangan berantem di sekolah. Sebenarnya gue juga pengen nonjok Rey, kalau sampai dia bener-bener udah guna-guna Lisa."
Reno sedikit terkejut. Baru kali ini dia sadar dengan pokok permasalahannya. "Jadi kalian ngira Rey udah melet Lisa. Jangan-jangan dia minta bantuan kakek Dirman?"
"Kakek Dirman?" ucap mereka secara bersamaan.
"Iya, kakek Dirman itu kakeknya Rey. Dia dukun ilmu pelet yang terkenal di desanya."
Rizal semakin geram dengan Rey. Sekarang jelas sudah kalau Rey main kotor. "Lo tau soal kalung janji jiwa? Gue gak paham soal itu, tapi kata Sofi itu kalung bisa buat buta hati dan Lisa pakai kalung itu dari Rey."
Reno nampak berpikir sepertinya dia pernah dengar dari cerita neneknya. "Itu kalung yang bisa buat orang terpedaya, si pemakai bisa-bisa dibuat gak sadar dan mau ngelakuin apa pun yang diperintahkan dari pasangan kalung itu."
"Wah, bener-bener pengen gue tonjok itu Rey."
"Dewa, tenang dulu. Gak gampang ambil kalung itu dari Lisa." kata Karin sambil menahan tangan Dewa saat akan berdiri. "Tadi gue tanya soal kalung itu ke Lisa, Lisa kayak marah dan gak boleh gue pegang. Jadi sebaiknya, kita harus rencanain sesuatu."
Rizal mengusap wajahnya membuang sedikit beban pikirannya. "Besok kan tanggal merah, biar gue ke rumah Lisa dan ambil kalung itu."
"Kenapa nunggu besok?! Sekarang aja sekalian kita ramai-ramai samperin dia." kata Dewa yang cukup geram.
__ADS_1
"Dewa, ini menyangkut keselamatan Lisa. Lo gak mau kan Rey semakin nekat. Rey itu licik." Rizal kini mengambil air mineral dan meminumnya karena tenggorokannya terasa kering. "Hari ini ulang tahun Lisa. Kejutan yang gue siapin kemaren pun gagal."
Dewa menepuk pundak Rizal agar merelakan yang telah terjadi. Kemaren Rizal sebenarnya sengaja mempersiapkan kejutan ulang tahun Lisa di akhir acara. Tapi Rey mendahului niat Rizal. Andai saja Lisa tidak bersama Rey, pasti itu akan menjadi kenangan manis buat Rizal dan Lisa.