Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Tantangan


__ADS_3

Rizal bergeliat sesaat, dia seperti enggan membuka matanya pagi itu. Padahal matahari sudah bersinar terang. Tentu saja itu karena semalam dia asyik mengobrol dengan Lisa.


Dia raih ponselnya yang dia letakkan di sembarang tempat. "Yah, mati." Dia kini melihat jam dinding yang sudah menunjukkan hampir pukul 8. Dia singkirkan selimutnya lalu duduk di tepi ranjang untuk mengumpulkan nyawa. "Untung Lisa dan aku ada kelas jam 10. Kalau gak, udah kesiangan."


Rizal berdiri lalu mengisi daya ponselnya. Setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi. Tak butuh waktu lama, setelah mengguyur tubuhnya dengan air dingin dan berganti pakaian kuliahnya, dia menatap dirinya di cermin sambil menyisir rambutnya.


Beberapa saat kemudian ada chat masuk ke ponselnya.


"Kak Rizal udah bangun?" Tentu saja itu chat dari Lisa.


"Udah, bentar lagi aku jemput. 😘"


Setelah membalas chat Lisa, dia lepas ponselnya dari charge walau baterai baru 40% dan menyimpannya di saku. Dia pakai jas almamaternya lalu keluar dari kamar sambil membawa tasnya.


"Aduh, anak perjaka Mama jam segini baru bangun."


Rizal hanya tersenyum lalu duduk di kursi makan dengan sarapan yang sudah disiapkan Mamanya.


"Dari tadi Mama bangunin tapi gak kamu jawab. Kamu kalau telpon jangan sampai malem. Gak ada bosennya ya ngobrol sama Lisa padahal tiap hari udah ketemu."


"Lah, Mama tiap hari ketemu sama Papa emang ada bosennya?"


"Pinter banget kalau balik pertanyaan Mama." Bu Ela kini duduk di depan Rizal.


"Jadi ya sama kayak gitu, Ma." Rizal mulai memakan sarapannya.


"Nanti langsung pulang. Jangan mampir-mampir." Pesan Bu Ela sambil menatap Rizal sedang memakan sarapannya dengan lahap. Ya, Rizal memang sedang kelaparan.


"Iya, Ma." jawab Rizal dengan mulut yang masih penuh nasi. Tak butuh waktu lama sepiring nasi itu telah ludes.


"Mau nambah? Kayak orang kelaparan gitu."


Rizal menggelengkan kepalanya sambil meneguk air putih.


"Beneran loh, nanti langsung pulang."


"Iya Ma. Nanti aku ajak Lisa ke sini ya?"


Bu Ela mengerutkan dahinya. "Biasanya kamu ajak Lisa ke rumah gak izin Mama kan?"


"Iya, tapi ini beda. Aku ajak Lisa ke sini sebagai calon mantu Mama."


"Rizal, kamu ada-ada saja. Selesaiin dulu skripsi kamu. Baru mikir lain."


Rizal kini berdiri sambil memakai tasnya yang diikuti oleh Bu Ela. Rizal berpamitan pada Bu Ela tapi Bu Ela menahan Rizal sesaat dengan memegang kedua pundak Rizal. "Kamu sudah dewasa ya sekarang." Bu Ela merapikan krah jas almamater Rizal lalu rambut Rizal. "Kayak baru kemaren Mama gendong dan cium kamu."


"Mama tumben mellow gini? Efek cemburu sama calon mantu?"


"Kamu ini," Bu Ela mencubit pelan pipi Rizal.

__ADS_1


Rizal tersenyum.


Lalu Bu Ela mencium kening Rizal sambil berjinjit. "Udah lama banget Mama gak cium kening kamu."


"Mama, Rizal udah gede."


"Idih, kalau dicium Lisa aja suka."


Lagi, Rizal tersenyum. Lalu dia mencium tangan Bu Ela. "Rizal berangkat ya. Sayang Mama."


"Iya, hati-hati."


Bu Ela mengantar Rizal sampai depan pintu dia terus melihat Rizal sampai Rizal dan motornya menghilang dari pandangannya.


Rizal kini menghentikan motornya di depan rumah Lisa. Rupanya Lisa sudah menunggunya. Rizal membuka kaca helmnya lalu tersenyum melihat Lisa yang saat itu memakai masker menutupi hidung dan mulutnya. "Masih belum sembuh juga?"


"Udah otw sembuh. Udah deh, Kak Rizal jangan ledekin terus." Lisa memakai helm lalu naik ke boncengan Rizal.


Beberapa saat kemudian motor Rizal melaju santai menuju kampus.


...***...


.


"Ini apa? Laporan gak ada yang beres?!" Pak Heru melempar setumpuk kertas ke atas meja. "Mana Andi? Belum datang?"


Beberapa anggota Senat di ruangan menggeleng, termasuk Rizal. Beberapa hari ini memang Rizal sengaja tidak membantu tugas Andi. Dia merasa sudah muak.


Mereka hanya menggelengkan kepala. Tentu saja Wakil Ketua Senat bukanlah Rizal karena dia memilih menjadi Anggota Senat biasa walau dia kerap kali menyelesaikan beberapa tugas sebelumnya.


Beberapa saat kemudian Andi datang. Dia masuk ke dalam ruangan dan mendapati tatapan tajam Pak Heru. "Andi!!"


"Iya, Pak. Maaf saya terlambat."


"Kamu tahu kinerja kamu selama beberapa bulan ini menjadi Ketua Senat, hancur semua. Tidak ada perkembangan sama sekali. Kalau kamu sudah tidak sanggup, biar Rizal yang gantikan posisi kamu!!!"


Andi kini beralih menatap tajam Rizal. Seperti halnya dengan Rizal.


"Tidak!! Dia yang mengajukan diri sebagai Ketua Senat. Dia sendiri yang sudah berkampanye dan terpilih di pengambilan suara, jadi biar dia yang bertanggung jawab dengan semua tugasnya. Maaf Pak Heru, mulai sekarang saya tidak bisa membantu terlalu banyak." Tegas Rizal


Pak Heru menghela napas panjang.


"Permisi." Rizal keluar dari Ruang Senat karena dia merasa sudah sangat muak dengan Andi. Dia sangat ingin menghajar Andi karena jebakannya semalam. Dia tahan sampai nanti dia bisa membalas perlakuan Andi.


...***...


"Lis, gak engap tuh dari tadi maskeran terus?" tanya Dewa yang berjalan bersama Lisa setelah keluar dari kelas.


Lisa menggelengkan kepalanya. Tentu saja, Lisa memberi alasan pada Dewa bahwa dia sedang flu.

__ADS_1


Mereka berjalan di lorong kelas. Lisa berniat mencari Rizal untuk mengajaknya pulang. Tiba-tiba mereka menghentikan langkahnya saat Andi menghadangnya.


Andi tersenyum miring menatap Lisa. "Gimana semalam? Enak?"


Pertanyaan Andi membuat Lisa menatapnya tajam.


"Minggir!! Lo jangan ganggu Lisa!!" bentak Dewa.


Tapi Andi tak menggubrisnya. Andi justru memegang pundak Lisa dan melepas masker Lisa lalu membuangnya. "Wow, ternyata Rizal ganas juga ya. Kalau mau lagi, bilang aja gue bisa bantu."


Dewa mendorong Andi agar menyingkir. "Lo jadi cowok brengsek banget!"


"Hei, gue gak ada urusan ya sama lo!!" Andi menuding Dewa.


"Apa yang jadi urusan Lisa juga urusan gue!!" Dewa bersiap memukul Andi tapi ditahan oleh Rizal.


"Biar gue yang hajar dia!! Lo minggir, jagain Lisa." Amarah Rizal yang sedari tadi terbendung kini siap meledak. Dia kepalkan tangannya dan maju ke hadapan Andi. Menantangnya.


"Apa?! Lo bodoh!! Udah gue kasih satu kesempatan lo lewati gitu aja. Padahal gigitan lo udah mantap."


Kini beberapa pasang mata menatap Lisa, termasuk Dewa. "Lisa lo? Jadi ini gigitan Rizal? Hah, kalian??"


"Dewa, semua gak kayak yang ada di pikiran lo."


Rizal menarik krah jas almamater Andi. Dia daratkan pukulan keras di pipinya sampai Andi mundur beberapa langkah. "Lo sengaja jebak gue, naruh obat itu diminuman gue. Kalau gue gak ajak Lisa semalam, jangan bilang lo..."


"Yak, pinter..." Andi memotong perkataan Rizal. "Gue udah siapin cewek buat lo one night stand. Kalau seandainya sendiri, gue akan paksa lo minum sampai habis. Tapi ternyata lo bawa Lisa makanya gue biarin lo minum cuma sedikit."


Rizal akan memukul Andi tapi Andi berhasil menghindar. Dia justru mengunci lengan Rizal dan memukul perutnya. "Gue akan buat hidup lo hancur!! Kayak lo yang udah ambil perhatian Papa gue, termasuk Pak Heru!!"


Dengan kuat Rizal membalik posisi, hingga kini Andi yang terkunci. Rizal memukul perut Andi beberapa kali. "Ini semua salah lo!! Mulai sekarang lo jangan pernah ganggu Lisa! Sekali lagi lo ganggu Lisa! Gue bisa habisi lo!!" Rizal melepas Andi yang kini nampak meringis kesakitan.


Mata Dewa melebar melihat kemarahan Rizal kali ini. Rizal yang memang tipikal pria tenang, ternyata sangat buas ketika marah.


Rizal membalikkan badannya dan menghampiri Lisa yang berdiri di samping Dewa.


"Gue tantang lo balapan motor. Kalau lo menang, gue gak akan ganggu lo dan Lisa!!" tantang Andi dengan keras sampai beberapa teman lainnya kini ikut menyaksikan.


Rizal menghentikan langkahnya. "Kalau lo yang menang?"


"Gue cuma butuh satu permintaan yang harus lo turuti."


Rizal mencibir. "Apa? Gue gak mau Lisa jadi taruhannya!!!"


"Pengecut!!"


Hinaan Andi membuat Rizal membalikkan badannya. "Oke. Gue terima tantangan lo!!"


...***...

__ADS_1


💞💞💞


Tarik napas dalam untuk episode selanjutnya....


__ADS_2