
Sofi turun dari mobilnya lalu dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam gerbang sekolah. Hari itu masih cukup pagi, hanya ada beberapa temannya yang datang, terlihat dari tempat parkir sepeda motor yang masih sepi. Bahkan sepeda motor Rizal juga belum ada.
Ada sesuatu yang menarik perhatian Sofi saat itu. Dia melihat Mita yang berjalan perlahan dari belakang kelas. Tepatnya kelas X.
“Mita!!” Panggil Sofi dengan keras. Dia sengaja, karena dia memang tidak mengikutinya dengan sembunyi-sembunyi.
Tidak hanya Mita yang menoleh ke arahnya. Bahkan beberapa siswa yang baru datang juga menoleh ke arahnya.
Mau tidak mau, Mita menghampirinya.
“Lo ngapain ke situ?” tanya Sofi.
“Gue, gue baru ketemu sama Adel. Dia tetangga gue, ada buku yang tertinggal jadi ibunya nitip sama gue.”
Sofi memutar bola matanya. “Bukannya lo dari belakang kelas.”
“Gak. Gue cuma dari samping kelas.” Mita menggamit tangan Sofi agar berjalan mengikutinya menuju kelas. “Revi belum datang yah? Gue mau nyontek PR Matematika nih. Lo udah selesai belum?”
“Gue udah selesai. Liat punya gue aja.”
“Makasih ya. Lo emang best friend gue.”
“Ngomong-ngomong lo kemana pas acara ulang tahun gue. Kok tiba-tiba ilang?” selidik Sofi. Karena waktu dia dansa dengan Rizal, dia memang tidak melihat Mita, bahkan sampai tidak berpamitan seperti teman lainnya.
“Sorry, gue sakit perut jadi gue gak sempet pamitan sama lo. Gue langsung pulang.”
“Bete banget gue. Lo tau gak, harusnya gue yang buat Lisa bete, eh, malah dia ngerusak acara gue. Entah kenapa tuh anak bisa nyebur ke kolam renang, semua jadi berantakan karena otomatis Rizal jadi nyalahin gue. Udah gitu Rizal pergi sama Lisa."
“Hmm, iya gue kemaren baca di grup kelas, katanya ada kejadian itu. Emang tuh anak selalu aja buat ulah. Apa sih kelebihan dia sampai Rizal ngejar-ngejar kayak gitu. Cewek lemah gak bisa jaga diri aja dibucinin.”
Sofi melirik Mita sesaat mendengar kalimat Mita yang seperti punya dendam sendiri. “Btw, gelang yang gue kasih kok gak pernah lo pakai lagi?”
Seketika Mita menjadi salah tingkah. Dia melepas gamitannya dari tangan Sofi dan berpura merapikan poninya. “Ada kok di rumah. Soalnya tangan gue agak gatal baru ganti sabun. Kayaknya alergi. Besok gue pakai.”
“Oo..” Mereka masuk ke dalam kelas.
Mereka tidak sadar kalau ada yang mendengarkan pembicaraan mereka dari belakang sedari tadi.
“Bisa cepat jalannya?”
__ADS_1
Suara itu membuat Sofi dan Mita seketika menoleh. Mita langsung kabur ke bangkunya sedangkan Sofi malah senyum tidak jelas pada Rizal. “Pagi...”
Rizal tidak menanggapinya. Dia kini melewatinya dan duduk di bangkunya.
Setelah Sofi memberikan buku PR pada Mita, dia kini duduk di sebelah Rizal.
“Mau apa?” tanya Rizal datar.
“Sorry, aku kemaren gak bisa kontrol emosi aku.”
Rizal menghela napas panjang. “Kejadiannya udah lewat, tapi yang jelas lo jangan lagi ganggu Lisa.”
“Rizal, aku gak pernah ganggu dia. Justru dia yang ngerusak acara aku.”
“Ya terserah apa kata lo. Yang jelas gue gak akan lagi nuruti apa mau lo. Karena percuma gue deket sama lo kalau Lisa masih aja tetep lo ganggu.”
Sofi nampak sangat kesal. Dia kini berdiri sambil menghentakkan kakinya.
“Dan satu hal lagi, gue udah jadian sama Lisa.” Kata Rizal cukup keras yang membuat beberapa pasang mata melebar.
Sofi kembali terduduk dan menarik lengan Rizal. “Apa? Gak mungkin! Pasti ini Cuma pura-pura kan?!”
“Gak bisa dibiarin!” Sofi menggebrak meja lalu berdiri dan berjalan keluar kelas dengan cepat. Rupanya dia menuju kelas Lisa. “Mana Lisa?” tanya Sofi pada Karin yang tengah duduk di bangkunya.
“Ada urusan apa?” tanya Karin dengan datar.
“Gue mau ketemu sama Lisa!!”
“Buat apa nyari Lisa? Gak ada sopan santunnya banget masuk kelas lain langsung marah-marah.” Dewa datang dan berjalan mendekati Sofi yang masih berdiri berkacak pinggang. “Lo liat, Lisa ada gak?! Kalau Lisa gak ada di kelas, berarti dia gak datang.”
Sofi semakin kesal tapi dia tidak lagi menanggapi Dewa karena memang jelas Lisa tidak ada di tempat. Sofi membalikkan badannya. Saat dia keluar dari kelas, dia berpapasan dengan Mita. “Lo ngapain ngikutin gue?!”
“Gue mau bantu lo.”
“Ah, udahlah. Tuh bocah gak ada di kelas.”
Dewa melihat mereka berdua berjalan kembali ke kelasnya dari sisi pintu.
“Wa, gimana keadaan Lisa sekarang?” tanya Karin saat Dewa sudah duduk di bangkunya. Karin sudah tahu keadaan Lisa dari Dewa lewat chatnya semalam.
__ADS_1
“Sudah baikan. Mungkin besok udah boleh pulang.”
“Sofi ngapain pagi-pagi marah-marah gak jelas gitu?" Tanya Karin sambil mencari bulpoinnya yang ada di laci meja Lisa karena kemaren lusa Lisa meminjamnya.
“Apalagi kalau bukan soal Rizal.”
Tiba-tiba Karin memegang sebuah lipatan kertas. Dia mengambilnya. “Wa, ini apa?”
Melihat itu, Dewa kini bergegas duduk di samping Karin. Karin membukanya, terlihat sebuah foto Lisa dan Rizal yang sedang berpelukan. Dan lagi, foto itu penuh dengan coretan merah.
Gak cukup, apa yang lo alami selama ini!!! Gue serius dengan peringatan gue!!! Lo jadian sama Rizal, tamat hidup lo!!!
“Hah!!” Karin tidak sanggup membaca surat kaleng itu. Dia menyerahkannya pada Dewa. “Nakutin banget! Gila ini real psycophath.” Napas Karin tidak teratur.
Tulisan merah yang nyaris seperti darah itu begitu menakutkan.
Dewa menggenggam surat itu. “Lisa bener-bener dalam bahaya. Kita harus lebih waspada jagain Lisa. Sepulang sekolah nanti kita ke rumah sakit, gue takut psycho ini tau kalau Lisa ada di rumah sakit.”
Karin kini menelan ludahnya sendiri. Keadaan tiba-tiba terasa mencekam. “Wa, kenapa gak lapor kepala sekolah aja sih kalau Lisa kena teror. Ini kan masih di lingkungan sekolah.”
“Mereka bisa apa? Mungkin hanya akan menganggap ini sebuah lelucon.” Dewa berdiri. “Gue mau ke toilet bentar.” Lalu berjalan keluar dari kelas.
Sampai di toilet dia berpapasan dengan Rizal. “Ada yang mau gue omongin.” Kebetulan saat itu di toilet hanya ada mereka berdua. “Lisa dapat teror lagi.” Dewa menunjukkan foto dan tulisan yang dia genggam pada Rizal.
Rizal mengambilnya. “Tulisan ini lagi! Foto ini diambil waktu gue dan Lisa di taman setelah pulang dari rumah Sofi. Berarti dia ngikutin gue waktu itu.”
“Gue sepulang sekolah mau ke rumah sakit jenguk Lisa. Lo ikut?”
“Gue gak bisa soalnya gue harus buat laporan kerja OSIS. Rencana gue mau ke sana nanti malam.”
“Oke.” Dewa keluar dari toilet.
Rizal masih berada dalam toilet dan meremas surat teror itu. Gue harus cari siapa pemilik tulisan ini..
💞💞💞
Teka-teki udah mulai nampak ya.. karena beberapa part lagi seasion ini akan selesai.. langsung lanjut ke seasion berikutnya, akan ada kisah baru tentang masa lalu Lisa...
makasih udah ngikutin cerita yang singkat ini.. 💋
__ADS_1